Kematian Chopin dan Polandia
sumber foto: lithub.com

“Melodimu ada di jiwaku

Ada suka dan dukanya

Baik hidup maupun mimpi

Saat matahari terbenam jatuh di ladang

Berpakaian dalam cahaya dan bayangan

Kau datang.”

Letter to Chopin – Anna German

Pada tahun 1849, di ranjangnya ia terbaring setengah terpejam tanpa kata tatkala kematian dan dirinya hanya sebentang jarak mata. Chopin mengaduh sakit, nafasnya melambat, dan kepalanya tak kuat menolehkan pandang ke wajah anaknya, anak angkatnya, Solange tercinta. Chopin hanya meminta melalui isyarat yang entah bagaimana bisa sampai; untuk dipegangkan tangannya, untuk diletakkan tangannya yang pucat dalam genggaman Solange. Detik-detik ketegangan antara dirinya dan maut itu menyeret Chopin pada jejak-jejak yang ditinggalkannya. Ia mengenang sesuatu yang telah lama memudar; di Majorca bersama Sand, di Paris bersama Franz Liszt, di Warsawa bersama keluarganya—bersama negeri yang di kemudian hari terlepas dari cengkramannya.

Dunia Chopin, hanya terbatas pada bunyi, pada suara ensambel yang seperti pertautan burung-burung. Dunianya hanya terbatas pada pergulatan antara tangannya dan tonalitas yang luwes, pada bentuk-bentuk rekuiem yang dipolarisasi bagi kematian yang menghampiri nanti. Chopin melepas diri dari nomalitas manusia yang berumah tangga, yang memiliki darah daging, yang memiliki motivasi jangka panjang untuk bisa berpetualang dalam hidup menyedihkan ini. Ia cuman punya sebidang tangga nada, opus-opus yang abstrak, ambisi yang terputus oleh usia. Namun marjinalitas dirinya akan dunia ini mendorong manusia-manusia untuk lebih mengenal siapa dirinya, siapa dia sewaktu sakit, siapa dia sewaktu tidak duduk di depan piano Pleyel atau Bosendorfer, dan siapa dia sewaktu merindukan negerinya.

Koneksi antara Chopin dan Polandia sebenarnya sulit terlacak kemapanannya; tercipta di babak yang manakah keterikatan keduanya betul-betul terbentuk. Itu terasa masih samar-samar. Benarkah keterikatan itu ada sedari Chopin kecil? Atau saat ia mulai menempuh ihwal keabadian musikalitas dalam dirinya di luar negerinya sendiri? Sebab sejauh yang kita rasakan; bukankah nama ‘Frédéric François Chopin’ jelas tak bercorak Polandia. Namanya sangat Prancis—nama yang dibubuhkan ayahnya yang seorang Prancis. Tapi memang benar bahwa tak ada yang dapat memutus koneksi batin antara seseorang dengan kampung halamannya. Kita selalu terhubung kepada yang di rumah untuk kembali. Sejauh apapun kepergian, kita selalu mencari sekecil apapun sebuah alasan untuk pulang. Demikian Chopin. Nama merupakan sesuatu yang remeh untuk jadi parameter keaslian jati diri. Kenyataannya, catatan sejarah selalu menyandingkan Chopin dengan Polandia—dan Polandia dengan Chopin.

Sebuah Bukti

Zelazowa Wola berada di sudut Warsawa. Daerah itu bukan kepunyaan kota, tapi di sanalah Chopin dan keluarganya mendirikan rumah. Ayahnya sosok lelaki yang pemerhati, sementara ibunya lemah lembut dalam bertutur. Lingkungan rumah yang demikian, memberikan kenyamanan tersendiri bagi Chopin—hangat dan tentram. Ia tumbuh dengan harmonis bersama keempat saudarinya di tengah dengung musik rakyat dan komposisi klasik Bach, yang dimainkan masyarakat setempat termasuk ibunya. Hampir saban hari, di masa kecilnya, Chopin bersentuhan secara tak kasat mata dengan musik. Ia mendengar musik, ia menghikmati musik, ia bermimpi menjadi musikus.

Chopin mulai bersentuhan dengan piano ketika umurnya genap 4 tahun. Kesehariannya mendengarkan Bach dan musik-musik rakyat Polandia kelak mempengaruhi warna dari komposisi-komposisi yang digubahnya—semacam komposisi dari hasil asimilasi romantik dan-barok-klasik. Melihat kepiawaian Chopin, kedua orang tuanya langsung mengirimkan Chopin kepada para pianis terkenal di Warsawa untuk belajar. Betapa beruntungnya ia, karena ia tumbuh dalam keluarga yang memiliki spirit musik yang kuat. Ayahnya gemar main flute dan ibunya merupakan pianis yang berbakat. Pada usia 7 tahun, Chopin menciptakan komposisi dari impresi Polonaise—yang diberi judul Polonaise in G Minor. Barangkali komposisi itulah wujud pertama kecintaannya terhadap negaranya.

Di Polandia, Chopin memanfaatkan rentang waktunya untuk mengasah bakat alamiahnya agar lebih lentur dan halus dalam memainkan pola imajinatifnya ketika bermusik. Namun pada saat itu ia tak benar-benar menemukan jati diri atau karakteristik—kendati pada usia 15 tahun ia telah melahirkan karya yang terkenal, Rondo in C Minor. Di Polandia, banyak guru yang telah didatangi Chopin sampai tak tersisa lagi ilmu yang dapat diajarkan kepadanya. Keterampilannya memainkan piano, ditambah kepribadiannya yang berwibawa dan sopan, membuat Chopin dikenal beberapa bangsawan. Perkenalan itulah yang membawa Chopin pada pengembaraannya terhadap gaya musiknya. Ia meninggalkan tanah airnya di usia muda—untuk menempuh abad dan memaksa setiap dekade menyematkan namanya sebagai pianis terkemuka era romantik.

Tepatnya tahun 1829—Chopin berangkat ke Wina melakukan konser turnya, ia sukses dan mendapatkan perhatian banyak orang di sana. Pengembaraan untuk menemukan ihwal musiknya secara tidak langsung didekasikan untuk negaranya. Gubahan yang dihimpunnya semasa perantauan digelar pada sebuah konser tunggal di Warsawa, tahun 1830. Akhirnya Chopin melihat lagi rumahnya. Kepada publik Polandia, ia persembahkan konstelasi musikal piano yang indah, yang tak ada orang sekalipun pernah mendengarnya. Namun konser tersebut, adalah kesempatan terakhirnya menghirup aroma hujan di Polandia. Setelahnya, Chopin pergi dan tak pernah kembali lagi.

Niat yang awalnya hanya kunjungan untuk studi lebih lanjut di Jerman dan Italia membawa Chopin berlabuh di Paris—negeri yang asing baginya. Ia mendapat kabar bahwa pemberontakan pecah antara Polandia dan Rusia. Keinginannya untuk kembali membela tanah airnya ditahan oleh keluarga. Peristiwa tersebut menjadi awal mula kesedihan dan masa muram Chopin dalam bermusik—kendati di Paris ia dapat dengan baik beradaptasi dan merasa menemukan lingkungannya. Tapi mendengar Polandia yang porak-poranda menjadikan Chopin gelisah dan sangat sedih. Kegelisahan itu, dan kerinduannya akan Polandia melahirkan sebuah karya yang monumental, yakni Etude Op. 10, No. 12 in C minor ‘Revolutionary’. Sebuah opus dengan fondasi sistemik teknik yang baru dan radikal—kelajuan yang menarik emosinal.

Semenjak itulah Chopin berusaha keras hidup di Paris. Di Paris, ia menjalin hubungan erat dengan pianis terkemuka Franz Liszt, menemukan cintanya, George Sand, menemukan orang-orang yang menghormatinya. Tapi tetap saja, ia merasa kosong, dirinya kosong ketika ada seseorang yang mengucap Polandia, ketika ada orang yang mengingatkannya tentang Polandia—Chopin tak berdaya. Semenjak itu juga, Chopin terserang penyakit TBC yang perlahan menggerogoti tubuhnya. Chopin menjemput kematiannya pada tahun 1849, di Paris. Tubuhnya dimakamkan di pemakaman Père-Lachaise. Sementara jantungnya, Chopin persembahkan untuk Polandia, tanah airnya, negeri tercintanya.

Mayat Chopin dimakamkan di Prancis. Namun sebelum meninggal dunia, Chopin berpesan kepada semuanya untuk memberikan hatinya untuk Polandia. Syahdan, tubuh dari pianis terhebat itu disemayamkan di Paris, Prancis, dan jantungnya disimpan di Gereja Holy Cros, Warsawa, Polandia.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleKesadaran Sejati
Next articleKeren! “Avatar: The Way of Water” Jadi Film Tercepat Raih 1 Miliar Dolar AS
Lahir dan besar di Singaraja, Bali. Menulis dan menonton film

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here