Film Demi 1%
Sumber foto: Hamdani/MCW

Hari itu langit hanya bermandikan cahaya bulan. Sedikit dari sinarnya menyirami alam sebab bentuknya yang sedang sabit. Didampingi hamparan langit hitam, bintang-bintang tampak enggan memeriahkan singgasana malam.

Keadaan langit yang demikian seolah mendukung acara nonton bareng (Nobar) dan diskusi film yang kami saksikan. Tepat pukul setengah tujuh malam kami tiba di lokasi. Perlengkapan Nobar sedang dipersiapkan. Seiring jarum jam bergerak, perlahan kekosongan terisi dengan insan-insan penikmat tema acara pada malam hari itu.

Sumber Foto: Malang Corruption Watch (MCW)

Para pegiat Malang Corruption Watch (MCW) menginisiasi Nobar dan diskusi film serial keenam film “Demi 1%” yang bertempat di Gazebo Kalimetro. Agenda tersebut bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2022. Kali ini para pemuda bertemu dalam rangka menagih kemerdekaan.

Penerangan sengaja diredupkan sesaat menjelang film ditayangkan. Pada awalnya, atmosfer begitu tenang karena semua sibuk menyimak. Namun, ketika durasi film mendekati akhir, sebuah celetukan berbunyi “ngawur” pada suatu bagian dari sajian film mengundang kekehan kecil beberapa orang. Celetukan yang sama kembali terdengar dengan kekehan yang lebih banyak merespons, ketika akhir film sudah di depan mata.

- belanja buku di sini -

Selesainya film dimeriahkan dengan bunyi tepuk tangan. Lampu dinyalakan, ruang Gazobo kembali terang beralih dari suasana remang. Seperangkat alat Nobar pada malam itu dipindahkan agar para pemantik diskusi leluasa beraksi.

Film berdurasi sekitar satu jam itu membahas praktik pengelolaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Film terakhir dari series “Demi 1%” itu merupakan hasil kolaborasi Watchdog, Greenpeace Indonesia, dan #BersihkanIndonesia. Seluruh dokumentasi yang disajikan merupakan orisinal dari kelompok masyarakat sipil peduli lingkungan. Perilisan film ini bertujuan sebagai bentuk membangun kesadaran sipil tentang berkenaan praktik perkebunan kelapa sawit.

Sumber foto: Hamdani/MCW

Diskusi dibuka oleh moderator, Diana Almira, yang mempersilakan Agung Ucil, seorang pegiat lingkungan untuk memantik diskusi film. Setelahnya pemantik dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pos Malang, Daniel Siagian menjelaskan dari sudut ilmu hukum. Pemantik terakhir seorang pegiat literasi bernama Andika Ayu. Para pemantik bergantian memberi pandangan kritis sesuai keahlian dan pengalamannya masing-masing.

Asbak dan asap rokok membalut diskusi yang terasa begitu santai. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan. Semangat diskusi kian membara ketika seseorang menanggapi dengan pandangan dan opininya. Para pemantik menanggapi mencoba memberi percikan perdebatan yang dipenuhi kelakar bercampur sindiran.

Diskusi dengan isu yang terkesan berat malam itu pun tak jarang mengundang kekehan bahkan tawa. Jalannya diskusi dan sesekali perdebatan seakan tak terlihat seperti namanya, sebab begitu mengalir seperti obrolan kawan satu ketertarikan.

Sumber Foto: Salsa Wilda Mahdiyah/Semilir.co

Tanpa menyimpang dari topik diskusi, para pemberi opini bersuara dengan begitu hati-hati. Tak ingin berdampak buruk suatu hari nanti, pemilihan diksi dan topik yang dihubungkan ke hal-hal di luar film begitu kentara diterapkan oleh masing-masing individu.

Saya sendiri hanya mengamati jalannya diskusi, tanpa berani menginterupsi apalagi memberikan opini. Hanya bisa memandang terpukau kepada mereka yang terlihat bagaimana cara berpikir dan pandangan mereka lewat diskusi pada malam hari itu. Berbagai karakter dan sudut pandang membuat saya tak bisa sepenuhnya berkonsentrasi, tapi tetap saya tetap mengikuti acara hingga selsai. Penasaran. Ke arah mana pembicaraan ini akan berakhir.

Malam yang semakin larut membuat saya dan seorang teman memutuskan meninggalkan tempat diskusi lebih dahulu. Mereka masih terlihat asyik bertukar pandangan dan wawasan. Semangat mereka membara. Seolah tiada lelah berdialog berjam-jam membahas masalah bangsa dan negara. Begitulah sejatinya anak muda yang mencintai Republik ini. Sejenak saya terpikir. Masih banyak anak muda yang peduli. Tersadar.

Sayang seribu sayang, jika mau menyimak sedikit lebih lama, diskusi selesai tak lama setelah kami berada di parkiran. Orang-orang berpandangan cermat itu pun membubarkan diri pertanda diskusi usai. Mereka bersalam sembari berucap akrab.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleMitos Dibalik Keindahan Pulau Gili Ketapang
Next articleJejak-jejak Sang Blogger
Mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang yang sebentar lagi lulus, aamiin!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here