Joko Yuliyanto

Dua bulan terakhir, saya aktif mempelajari seluk beluk teknologi Artificial Intelligence (kecerdasan buatan). Mulai dari ChatGPT (Open AI), Bakground Remover, desain logo, hingga video creator. Dalam hitungan menit, teknologi ini mampu mengaktualisasikan ide yang dikemas secara elegan dan profesional.

Kegelisahan saya sebagai penulis adalah sikap kemalasan membuat konten untuk artikel blog yang saya bangun tiga tahun lalu. Dengan teknologi AI, membuat konten berkualitas hanya cukup mengetikan ide atau premis tulisan, baik tulisan fiksi maupun nonfiksi. Kemudian menampilkan hasil yang mungkin lebih baik (setidaknya dari ketentuan tata bahasa) daripada hasil tulisan sendiri.

Jalan pintas menulis ini yang kemungkinan menggusur keahlian penulis profesional dengan segudang pengalaman. Kemudian merambat dalam bidang desain, infografis, editor video, dan lain sebagainya. Keterlambatan beradaptasi dengan teknologi AI tentu akan mengurangi populasi keahlian yang dimiliki orang-orang yang berkompeten di bidangnya.

Parameter kualitas keahlian tidak lagi diukur dari pengalaman dan latar belakang pendidikan, melainkan dari seberapa cepat dan tepat seseorang memanfaatkan kecanggihan teknologi. Bahkan untuk menilai keaslian karya sulit dibedakan antara proses manual dengan digital. Dampaknya adalah perasaan ketidakadilan atas etos kerja tenaga profesional di bidang yang dikuasai.

Teknologi dihadirkan memang untuk membantu memudahkan pekerjaan, di sisi lain akan membuat manusia malas untuk belajar menggeluti bidang yang disukai atau dikuasai. Meskipun sifatnya “buatan”, namun kecerdasan yang dihadirkan menjadi ancaman serius dari sisi profesinoalisme, karir, ekonomi, dan budaya.

Fakta menjamurnya teknologi kecerdasan buatan harus dipelajari untuk mencari sisi kreaktif dan inovatif masing-masing orang. AI bukan batu sandungan berkarya, melainkan alat yang harus bisa dimanfaatkan untuk menambah kualitas karya. Manusia modern harus bisa lebih cerdas dari teknologi kecerdasan buatan agar tetap bertahan dalam industri globalisasi.

Acuh tak acuh pada perkembangan teknologi hanya akan mematikan kreaktivitas dan nasib di masa depan. Meskipun pengaplikasiannya akan membuat manusia menjadi malas dan perasaan ketidakadilan karena semua keahlian disediakan oleh teknologi. Kesuksesan tidak lagi ditentukan dari seberapa lama seseorang belajar di bidang yang digeluti, melainkan seberapa cepat seseorang memanfaatkan teknologi AI untuk menguasai segala aspek bidang keahlian.

Perubahan Budaya

Dalam hal penulisan, teknologi AI menyajikan beragam jenis karya ilmiah, artikel populer, digital marketing, cerpen, skrip konten video, hingga penulisan lagu. Menariknya, teknologi tersebut mampu mengolah kalimat yang lolos plagiasi. Meskipun beberapa kali saya coba, ada kecenderungan kesamaan pola tulisan yang mungkin bisa menjadi celah untuk seseorang bisa sedikit lebih unggul daripada kecerdasan buatan.

Setidaknya, bagi generasi malas akan mendapatkan tulisan secara cepat dan berkualitas untuk blog atau kepentingan lain di dunia literasi. Tanpa membaca pun, artikel yang disajikan sudah mendekati kesesuaian ide yang diminta. Teknologi AI jelas menjadi ancaman bagi mesin pencari seperti Google, Bing, atau Yahoo. Dalam mesin pencarian saat ini tidak jeli memfilter kualitas konten yang relevan dengan kebutuhan manusia seperti yang ditawarkan teknologi AI.

Budaya ketergantungan terhadap mesin pencari untuk mencari sumber informasi akan beralih. Selain lebih akurat, teknologi ini juga punya keunggulan interaktif layaknya berdiskusi dengan orang dengan sumber informasi yang lengkap. Meski masih belum komprehensif menyerap kecerdasaran mayoritas manusia di dunia, teknologi ini jelas meningkatkan jumlah generasi malas untuk belajar dan mendalami bidang tertentu.

Setidaknya, pemanfaatan teknologi AI akan mengurangi jumlah orang yang ikut pelatihan, pengembangan bakat, dan perekrutan karyawan sebuah perusahaan. Bagaimana AI mampu mengejawantahkan perintah mulai dari pengembangan usaha, teknik promosi, produktivitas konten, hingga berbagai permasalahan operasional perusahaan.

Sementara bagi penyedia pekerjaan seperti tulisan (redaktur/editor) belum disediakan fasilitas pendeteksi keaslian karya murni dan buatan. Sehingga menjadi celah siapapun untuk menjadi penulis dadakan tanpa hasil yang elegan. Dalam dunia teknologi seperti ini, pengalaman dan latar belakang penulis tentu tidak lagi relevan untuk menghasilkan karya yang berkualitas.

Kesuksesan dan kegagalan seseorang bakal ditentukan dari seberapa siap dan gagap beradaptasi dengan teknologi AI. Ada perubahan budaya kerja dari banyak industri untuk efektivitas dan efisiensi perusahaan. Prediksi beberapa tahun ke depan dengan transformasi AI yang jauh lebih canggih akan menggusur keahlian manusia saat ini.

Perasaan ketidakadilan dengan adanya teknologi AI tidak bisa dijadikan alasan seseorang untuk malas. Setiap penciptaan teknologi tentu punya potensi terhadap kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan/ancaman. Yang perlu dilakukan hanyalah beradaptasi dan konsisten menghadirkan ide yang tidak terekam oleh teknologi kecerdasan buatan.***

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleJejak Langkah Pramoedya Ananta Toer
Next articleCerpen Gadis Pengasuh karya Dhea Fajrin Barkah
Esais. Penggagas komunitas Seniman NU.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here