Sore menjelang malam, 27 Januari 2024, para pembakti kampung sonjo di Bumdes Dewi Sri, Jabung, Kabupaten Malang. Di tengah hamparan sawah, para pembakti kampung dan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) srawung sembari menikmati kopi dan candaan. Obrolan hangat sore itu mengalir menuju satu titik kebermanfaatan dari sudut kampung dan untuk kampung.

Suasana ngobrol santai sebelum diskusi Sonjo Kampung

Kenapa kampung? Kalau kita hendak mengenal Indonesia maka kita harus mengenal kampung. Ini hukumnya mutlak karena dari kampunglah peradaban terbentuk. Karena itu, berbakti bagi kampung berarti mencintai bangsa secara nyata. Siapapun dapat melakukan apapun untuk kampungnya. Semua dapat bermanfaat. Sekecil apapun itu akan bermanfaat bila dikolaborasikan dalam gerakan bersama. Apapun yang dapat kita lakukan untuk berkontribusi bagi kampung, lakukan dengan segenap hati.

Sebagai wadah bersama, Jaringan Kampung (Japung) Nusantara dibentuk pada 2016. Para pembakti kampung yang memiliki semangat yang sama untuk berbuat sesuatu bagi kampungnya diharapkan dapat berjejaring antara satu kampung dengan kampung lainnya. Tujuannya agar tercipta suatu gerakan bersama yang lebih masif berdampak.

Sewindu sudah Japung merajut gerakan bersama. Tanpa henti berbuat bagi kampung. Bertambah banyak pula jaringan kampung yang bergabung. Namun, jumlah itu tak cukup, butuh lebih banyak lagi orang yang mempunyai kesadaran dan semangat merawat kampung. Sebagai komunitas organik, Japung selalu terbuka bagi setiap insan-pihak yang hendak berjejaring.

Pembakti Japung meyakini pasti ada yang mempunyai energi yang sama yang akan terus bergabung. Energi itu yang akan mempertemukan. Bagai pertemuan para pembakti di Japung selama ini dari berbagai latar belakang dan daerah. Di satu sisi, kerja memantik kesadaran dan merajut semangat perlu terus dikerjakan ke depan. Tentu saja tidak langsung melakukan sesuatu yang besar, tapi dimulai dari langkah kecil. Prinsipnya, learning by doing “belajar dengan melakukan”.

Dalam perjalanannya, pembakti kampung akan mempelajari apa yang perlu dan penting serta bagaimana cara melakukannya. Lakukan saja dulu. Walau kecil. Semua akan bermanfaat pada waktunya. Lebih lagi, kolaborasi akan memperluas gerakan kampung yang dimulai oleh aktor. Begitulah kerja intelektual kampung.

Kolaborasi ini penting. Sebab, setiap orang punya talenta dan keahliannya masing-masing. Dan, setiap insan manusia punyak keterhubungan dengan kampungnya. Artinya, setiap orang dengan caranya masing-masing punya kemauan (bila dipantik) berbuat bagi kampungnya. Oleh karena itu, penting menjalin kolaborasi dalam gerakan kampung. Tidak hanya kolaborasi antar-orang di dalam kampung saja, tetapi juga kolaborasi antar-kampung, antar-instansi, bahkan dengan pemerintah yang jelas-jelas punya tanggung jawab memuliakan kampung. Untuk itu, kita perlu perbanyak perjumpaan sebagaimana dilakukan Japung dengan spirit sonjo kampung atau berkunjung ke kampung.

Suasana diskusi Sonjo Kampung

Laksana jargon Japung yang pernah digaungkan “Kampungku, Kampungmu, kampung kita Nusantara”. Maknanya, kampung tidak terbatas administrasi. Kampung terhubung secara sosiologis kendati sudah berbeda ruang administrasi. Kampung ada di kota, juga ada di desa.

Selama ini, kampung menyediakan penghidupan bagi manusia. Tidak hanya bagi warga kampung yang tinggal di desa, tetapi juga bagi warga kota. Makanan kita sehari-hari dihasilkan dari kampung.

Poin ini penting dilihat agar kita mampu meletakkan kampung sejak dalam pikiran apalagi tindakan sebagai sesuatu yang primer dalam tatanan berbangsa dan bernegara.
Realitanya, terma kampung yang berkembang selama ini menempatkan kampung pada sudut marjinal, terpinggirkan. Sejak dalam pikiran pun tindakan. Akibatnya, kampung semakin ditinggalkan warganya, semakin terhimpit arus globalisasi, tergerus identitas budayanya.

Oleh karena itu, ke depan, dalam rangka merawat budaya bangsa, kampung harus dikembalikan pada marwahnya; sumber penghidupan, pondasi peradaban. Merespons itu pula yang melatarbelakangi kehadiran gerakan kampung melalui wadah organik jaringan kampung Nusantara.

Harapannya, japung terus bertumbuh dan berdampak lebih luas lagi. Memajukan kebudayaan dari kampung. Dalam konteks ini, budaya bukan saja soal infrastruktur tradisi yang terjaga, tetapi juga suprastruktur manusianya yang mempunyai kesadaran kritis berkepribadian dalam berkebudayaan.
Untuk mencapai hal itu, ada tiga dasar yang perlu disadari. Ini proses pembudayaan. Pertama, sebagai mahluk, manusia adalah spiritual (keterhubungan dengan alam), kedua makhluk sosial (keterhubungan dengan sesama manusia), ketiga makhluk budaya (keterhubungan dengan keadaban).

Kesadaran tentang tiga dasar manusia itu penting untuk mengenali kita sebagai manusia yang berbudaya. Dengan mengenali diri, kita akan mempunyai pondasi yang kuat dalam bergerak untuk kampung. Bertindak berguna dan bermanfaat. Merawat dan mencipta kebudayaan. Dengan demikianlah kita paripurna menjadi Indonesia.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini