Taufik Ismail

Taufiq Ismail besar di keluarga yang mencintai sastra. Ayahnya yang seorang wartawan dan ibunya yang sering memuat pantun karangannya di berbagai media massa membuat Taufiq Ismail kecil mulai mencintai sastra. Sejak duduk di bangku kelas 2 SD, ia sudah mulai mempublikasikan karya pertamanya, yakni puisi berbentuk gurindam empat baris.  Puisi pertamanya tersebut akhirnya berhasil dimuat di harian Sinar Baru di Ruang Anak-anak.

Ketika lelaki kelahiran Bukittinggi, 25 Juni 1935 ini beranjak menuju ke jenjang SMA dan kuliah, ia aktif mempublikasikan lebih banyak karya-karya puisinya. Fokus puisi-puisi gubahan Taufiq sangat beragam dan mencakup tema-tema aspek kehidupan, yaitu tentang masalah kerinduan, percintaan, moral, sosial, politik, budaya, dan agama.

Meskipun tidak dapat menamatkan studi bahasanya di American University in Cairo, Taufiq Ismail cukup populer di masyarakat. Sebab, selain aktif mempublikasikan karya-karyanya, ia juga aktif membacakan puisinya di berbagai acara dalam negeri maupun luar negeri. Dalam setiap peristiwa yang bersejarah di Indonesia Taufiq selalu tampil dengan membacakan puisi-puisinya, seperti jatuhnya Rezim Soeharto, peristiwa Trisakti, dan peristiwa Pengeboman Bali.

Kedekatannya dengan sastra sejak belia itulah yang membuat rasa cintanya tumbuh seiring waktu. Kecintaannya terhadap sastra membuatnya peduli terhadap perkembangan sastra di Indonesia. Pendidikan sastra sejak duduk di bangku sekolah menurutnya sangatlah penting. Oleh karena itu, Taufiq Ismail mulai mendedikasikan dirinya sebagai pemerhati pengajaran sastra, terutama di sekolah.

Pada masa-masa genting di Indonesia Taufiq merasakan kekhawatiran yang amat besar terhadap perkembangan sastra di Indonesia. Sebab, selama ia menjadi pemerhati pengajaran sastra, ia hanya menemukan kemerosotan sastra Indonesia di lingkungan sekolah dan masyarakat. Klaim tersebut bukanlahh tak berdasar, tetapi klaim tersebut muncul setelah dilakukan penelitian yang tidak sebentar. Dan hasil penelitiannya terhadap pendidikan sastra di Indonesia itu ia tuangkan dalam beberapa buku yang bisa dijadukan acuan terhadap masalah pengajaran sastra di sekolah.

Berangkat dari hasil penelitiannya tersebut, keinginan Taufiq untuk memberantas kemerosotan minat baca di Indonesia semakin besar. Ia membentuk sebuah tim dengan beberapa sastrawan lainnya untuk terjun langsung melihat situasi serta mengkampanyekan pendidikan sastra di sekolah. Dan tak hanya di sekolah, Taufiq juga tidak melupakan sastra untuk masyarakat awam. Taufiq Ismail dan sastrawan-sastrawan lainnya ikut serta mengkampanyekan literasi dan menulis melalui program-program yang diusungnya.

Peran dan Jasa Taufiq Ismail dalam Perkembangan Pendidikan Sastra di Sekolah

Taufiq Ismail bersama timnya yang terdiri dari beberapa sastrawan membuat beberapa kegiatan untuk memberantas kemerosotan minat baca sastra di sekolah. Mereka membuat delapan serangkaian program, yakni :

1. Sisipan Kakilangit

Sejak November 1996, majalah sastra Horison membuka wadah khusus bagi siswa Sekolah Menengah Umum, Madrasah Aliyah, Pesantren dan Sekolah Menengah Kejuruan. Wadah tersebut diberi nama Sisipan Kakilangit. Sisipan Kakilangit dibuat sebagai wadah belajar dan memuat hasil karya siswa SLTP kelas 3. Sisipan Kakilangit ini membantu guru mengajarkan sastra di kelas karena telah memuat banyak sekali pembicaraan terkait sastrawan-sastrawan di Indonesia.

2. Pelatihan MMAS

Pelatihan Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra (MMAS) adalah pelatihan bagi guru-guru bahasa dan sastra. Pelatihan yang berlangsung sejak Februari 1999 sampai dengan Oktober 2002 ini bertujuan melatih guru-guru bahasa guna meningkatkan literasi dan memperbanyak karya sastra berkualitas. Hal ini dilakukan untuk menuntaskan masalah dari hasil pemetaan masalah dalam perkembangan sastra di Indonesia, yakni masalah merosotnya mutu karya sastra dan sepinya ulasan dan kritik sastra.

3. Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya (SBSB)

Seperti namanya, kegiatan yang berlangsung sejak tahun 2000 ini mendatangkan sastrawan ke sekolah untuk membacakan puisi, cerpen, fragmen novel/drama karya mereka. Setelah itu, diadakan dialog antara sastrawan dengan siswa dan guru. Acara ini digelar di 213 SMA, 164 kota didukung oleh 113 sastrawan dan 11 aktor/aktris.

4. Lomba Menulis Cerita Pendek (LMCP)

Pada tahun 2002, Taufiq mengadakan sayembara lomba menulis cerita pendek (LMCP) bagi guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA dan sederajat dengan mengusung tema yang banyak terjadi di kalangan siswa, yaitu pencegahan tawuran dan pemberantasan salah guna narkoba di lingkungan siswa.

5. Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS)

Di tahun 2002 juga diadakan Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS) yang diselenggarakan pada bulan Juli hingga Oktober. Peserta lomba ini diharus membahas satu dari pilihan 50 novel, drama, cerpen, dan puisi. Lomba ini sukses diadakan dengan 396 peserta yang ikut serta dari seluruh Indonesia.

6. Pendirian Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI)

Sama halnya dengan MMAS, Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI) dididrikan untuk meningkatkan kebiasaan membaca, kemampuan menulis dan apresiasi sastra. Berbeda dengan MMAS yang dikhususkan untuk guru, SSSI diikuti juga dari kalangan yang bukan guru. Sanggar yang telah berdiri dari tahun 2002 ini mengalami pembludakan peserta sanggar dan akhirnya pada tahun 2003 nama sanggar ini berubah menjadi Sanggar Sastra Remaja Indonesia (SSRI). Kegiatan sanggar ini berhasil dilaksanakan di 12 kota, yakni Tabanan, Sumenep, Bandar Lampung, Palembang, Padang, Serang, Bandung, Tasik Malaya, Cirebon, Gresik, dan Yogyakarta.

7. Sastrawan Bicara, Mahasiswa Membaca (SBMM)

Hampir sama dengan SBSB, kegiatan SBMM ini juga mendatangkan sastrawan untuk membacakan karyanya yang kemudian dilanjutkan dengan kegitan dialog. Bedanya dengan SBSB, sastrawan didatangkan ke kampus untuk bertemu dan berdialog dengan mahasiswa. 18 sastrawan didatangkan ke 9 kampus pada tahun 2000-2001.

8. Penerbitan buku Dari Fansuri ke Handayani (DFH), Horison Sastra Indonesia (HSI), dan Kakilangit Sastra Pelajar (KSP)

Kegiatan terakhir adalah menghimpun karya-karya siswa, guru dan lainnya ke dalam antologi. Antologi DFH memuat karya 147 sastrawan, antologi HSI terdiri dari 4 jilid dan KSP memuat 186 karya siswa.

Peran dan Jasa Taufiq Ismail dalam Perkembangan Sastra di Masyarakat

 Peran Taufiq Ismail dalam perkembangan sastra di kalangan masyarakat dimulai sejak ia mendirikan majalah Horison bersama Mochtar Lubis, P.K. Ojong, Zaini, Arief Budiman pada tahun 1966. Majalah ini tercatat sebagai satu-satunya majalah sastra di Indonesia yang bertahan sampai saat ini. Melalui majalah tersebut Taufiq menyediakan wadah bagi masyarakat untuk memuat karya-karya sastra. Selain sebagai wadah karya-karya masyarakat, majalah Horison juga sebagai tempat belajar sastra bagi masyarakat.

Pada tahun 2008, Taufiq Ismail juga berperan dengan mendirikan Rumah Puisi di Aia Angek Sumatera Barat. Rumah Puisi ini adalah perpustakaan dan wadah apresiasi sastra bagi siswa. Rumah Puisi ini merupakan swadaya pribadi Taufiq Ismail dan istrinya. Selain memuat buku-buku koleksi pribadi Taufiq Ismail, tempat ini juga merupakan sanggar pelatihan siswa dalam bidang sastra. Pelatihan dilakukan setiap hari minggu secara gratis kepada siswa di sekitar Rumah Puisi.

Taufiq Ismail juga melakukan peran lain dalam bidang sosial budaya. Ia menyelenggarakan kegiatan sosial dan penciptaan karya-karya puisi pro Gerakan anti-narkoba. Melalui gerakan anti-narkoba ini, Taufiq Ismail mendapat penghargaan dari Presiden Megawati Soekarno Putri pada tahun 2002 untuk dedikasi dan aktivis anti-narkoba.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleRaditya Dika: Novelis yang Merambah Dunia Komika
Next articleThe Prestige: Ketika Ambisi Berujung Tragedi
Mahasiswi Universitas Negeri Malang, Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here