Foto: whiteboardjournal

Banyak muda-mudi Indonesia sekarang mulai menyukai lagu indie. Selera para pencinta musik indie sangat banyak. Efek Rumah Kaca dengan lirik-lirik yang berbau kritik sosial, Danilla Riyadi dengan musik yang terdengar mendayu-dayu, dan pastinya sangat dicintai oleh kalangan muda-mudi jaman sekarang.

Akan tetapi, ada satu musisi yang saat pertama kali saya mendengar, membuat saya gagal memahami karyanya, ialah Jason Ranti. Bagi saya, Jason Ranti meracuni saya dengan karya-karyanya. Kemudian bagi orang-orang yang baru mengenal Jason Ranti, kesan pertama yang sering muncul berkenaan dengan penampilan bermusiknya yang unik.

Entah mengapa, Jason Ranti dan karya-karyanya hadir bagaikan Plato yang dihormati mahasiswa filsafat. Saya mendengar lagu-lagu Jason Ranti semenjak masuk kuliah, sekitar 2018. Sebelum itu, saya mendengar musik mainstream genre pop, seperti yang sering terdengar di mall-mall.

Mungkin paling jauh, saya mendengarkan musik luar seperti Bon Jovi. Semenjak kuliah saya baru tahu, kalau indie bukanlah sebuah genre musik. Indie merupakan identitas independen, yang tidak ada campur tangan dari lebel besar.

Jason ranti merupakan satu dari jutaan penyanyi yang memilih jalur independen. Tapi entah mengapa saya bisa berfilsafat jika mendengar lagu Jason Ranti. Masih ingat betul lagu Jason Ranti yang pertama kali saya dengar, “Akibat Pergaulan Blues”. Lagu itu bikin saya ketagihan karya-karya Jason Ranti lainnya.

Saya mulai suka mendengarkan Jason Ranti karena lagu-lagunya tidak familiar di telinga saya. Oleh karena karya-karyanya sangat penuh makna, akhirnya saya menikmatinya hingga detik ini. Saat pertama kali mendengar lirik-lirik Jason Ranti, saya merasa “kok tidak seperti grup musik lainnya?”.

Kemudian saya tanyakan kepada teman yang kebetulan lebih dulu menjadi penikmat indie “akut” daripada saya. “Jason Ranti itu siapa sih?”, “Penyanyi yang lagunya lagi digandrungi oleh muda-mudi penikmat indie jaman sekarang”, jawab teman saya.

Berawal dari lagu yang berjudul “Akibat Pergaulan Blues”, saya mulai penasaran dengan lagu Jason Ranti lainnya. Saya mulai mendengarkan “Stephanie Anak Sinie”, “Bahaya Komunis”, “Sekilas Info”, “Suci Maksimal”, “Doa Sejuta Umat”, “Lagunya Begini Nadanya Begitu”.

Dari album ke album Jason Ranti menawarkan karya-karya yang membuat kita memikirkan kembali hal-hal yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Saya dibuat mikir keras bak seorang filosof. Hingga bertanya-tanya, “kok ada musik sebagus ini?”

Untuk membuktikan apa yang saya rasakan, silakan kalian dengarkan sendiri. Jason Ranti sadar pengaruh musiknya sangat besar, ia kemudian menciptakan musik sebagai medium untuk bersuara, baik berkaitan dengan kehidupan, sosial, hingga politik.

Terkhusus “Akibat Pergaulan Blues”, lagu ini mengalihkan selera musik saya, karena menggambarkan kehidupan yang terjadi hari ini. Kemudian lagu “Kafir” menggambarkan fenomena perbedaan agama yang dianggap sebagai masalah hingga dicap kafir.

Semua lagu Jason Ranti memanglah layak dikatakan sebagai lagu yang membuat pendengarnya berfilsafat. Tulisan ini pun dibuat sembari mendengarkan lagu-lagu Jason Ranti.

Jason Ranti menunjukkan bahwa musik bukanlah sekadar musik. Bahkan, ia membantu pendengarnya untuk berkhayal menjadi fiolosof.

Dari karya-karya Jason ranti, saya menjadi penasaran, apa bacaan yang ia konsumsi hingga dapat membuat pendengar, setidaknya saya sendiri, kemudian berfilsafat.

Jadi, apa lagu Jason Ranti yang membuat kalian berfilsafat?

Previous articlePasar Malam
Next articleKetika Swan Lake-Tchaikovsky Dimainkan
Ricky merupakan seorang Freelance Writer. Dirinya berminat pada isu-isu sosial, politik, dan lingkungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here