Di Festival Cannes 1994, seorang wanita di sudut kursi tamu berteriak kencang ketika Quentin Tarantino dan tim filmnya, Pulp Fiction, naik ke podium untuk menerima penghargaan paling prestisius di jagat sinema dunia. “Mais quelle daube,” jerit wanita itu sebanyak tiga kali—artinya “film yang menyebalkan”. Pada saat itu tak ada yang mengerti apa yang menengarai wanita itu bersikap demikian. Pun tak ada yang menggubrisnya dengan serius.

Namun ketika Cannes menyelesaikan perhelatan akbarnya, banyak asumsi bermunculan bahwa Pulp Fiction tak pantas menerima Palme d’Or—penghargaan ternama itu. Dan mungkin beberapa orang baru menyadari bahwa memang ada yang lebih pantas, atau melampaui kata ‘pantas’ itu. “Tak adil. Pulp Fiction merampas hak dari Three Colors: Red Krzysztof Kieslowski”, barangkali seperti itu sesal para pengamat.

Agaknya untuk menyebut Pulp Fiction sebagai film yang ‘menyebalkan’ juga sedikit kurang ajar. Namun di sisi lain, menyebutnya sebagai film yang lebih bagus di antara kandidat yang ada juga sangat kurang ajar. Pulp Fiction memang wangi baru, tapi ia tak cukup istimewa untuk jadi film yang mendapuk Palme d’Or.

Penghargaan sekaliber Palme d’Or, hemat saya, seharusnya dipeluk oleh film yang lebih mumpuni, yang lebih memuaskan, dan tak sekadar nyeni tanpa arah. Dalam kasus ini jelas jika ada perbandingan yang lebih mapan mengenai ‘kepantasan’—Three Colors: Red unggul telak, tanpa tedeng aling-aling.

- belanja buku di sini -
Three Colors: Red, Krzysztof Kieślowski

Three Colors: Red adalah momentum epilog yang paling epik sepanjang sejarah film dalam format trilogi (dan mungkin di luar format trilogi juga), instalmen pamungkas yang memuaskan, sebuah gagasan revolusioner yang terbahasakan dalam gambar secara dramatis, hebat, sekaligus diam. Hasil itu, dari tangan dingin seorang terampil yang 2 tahun kemudiannya—selepas kejadian tak membahagiakan itu—menjemput kematiannya pada usia 54 tahun.

Krzysztof Kieślowski lahir di Warsawa, Polandia, 27 Juni tahun 1941. Ia diakui sebagai sineas paling penting dalam sejarah perfilman Polandia, di luar catatan nama-nama beken lainnya seperti Andrzej Wajda, dan Roman Polanski. Datang sebagai orang yang mencintai teater, pertemuan Kieślowski dan film bukan berarti hal yang tak disengaja. Ia tahu film, tapi ambisinya ialah teater. Pada usia enam belas tahun itulah ia keluar dari sekolah pelatihan pemadam kebakaran dan masuk ke sekolah teater.

Menjadi sutradara teater di Polandia, juga merupakan sebuah profesi. Di sana teater diagungkan sebagai seni yang sangat luhur. Entahlah, oleh sebab itu ada keharusan memiliki ijazah khusus, dan Kieślowski tak memilikinya. Maka film adalah pelampiasannya, dan berharap ada perantara antara dirinya dengan teater melalui film. Kieślowski melamar di Sekolah Film Lodz, kendati ia telah ditolak sebanyak 2 kali. Setelah pengembaraan jati diri dan usaha menghindar dari wajib militer—pada 1964 ia akhirnya diterima di Lodz. Semenjak itu, Kieślowski melupakan teater, dan berminat pada dokumenter.

Setidaknya ada kurang lebih 19 film dokumenter yang sudah datang dari tangan Kieślowski, di antaranya From a Night Porter’s Point of View, Talking Heads, dan Railway Station. Kieślowski dikenal sebagai sutradara yang sangat produktif bahkan di tengah sakitnya. Ia tercatat memproduksi film pendek, dokumenter, maupun fitur, dengan selang waktu yang tak pernah lebih dari 2 tahun—artinya nyaris setiap tahun Kieślowski selalu bergulat dengan film, film, dan film.

Total Kieślowski telah menulis dan meyutradarai hampir keseluruhan filmnya; 48 film. Ini pencapaian yang fantastis, melihat masa hidupnya yang tak lama dalam perfilman. Saya takkan menyangsikan jika Kieślowski masih bernapas sampai hari ini, mungkin ia akan melampaui Spielberg dan Eastwood.

Film fitur pertamanya Personnel adalah sebuah drama televisi yang memenangkan penghargaan Mannheim International Film Festival pada tahun 1975. Namun Kieślowski paling dikenal ketika melahirkan Camera Buff—sebuah cerita sederhana tentang kegemaran memfilmkan segala objek-subjek. Sementara Dekalog adalah film fiturnya yang terinspirasi dari 10 Printah Allah. Dekalog terdiri dari 10 film. Awalnya ada rencana untuk menggarap bersama 10 sutradara yang berbeda, tapi Kieślowski berkeras melakukannya sendirian.  

Ada 2 film dari serial panjang Dekalog yang diambil dan dikembangkan untuk menjadi film yang dapat berdiri sendiri, yakni A Short Film About Love dan A Short Film About Killing. Bagi saya, film A Short Film About Love adalah karya Kieślowski yang paling jujur dalam mewartakan koneksi antara manusia dan batinnya—tentu saja perihal ‘cinta-mencinta’. Di sana ia menggelar pelan-pelan bahwa cinta dan nafsu tidaklah berada dalam kurungan yang sama. Nafsu tak bernilai di mata cinta, namun tidak dengan sebaliknya. Kisah dalam film tersebut adalah keluguan cinta tapi amat tulus ditampilkan.

Ketulusan, kemudiannya digambarkan lagi oleh Kieślowski dalam trilogi paling fenomenal sepanjang sejarah perfilman Polandia—dan dunia; Three Colors Trilogy. Trilogi tersebut merupakan produksi bersama antara Polandia-Prancis-Swiss. Gagasannya diambil dari 3 Semboyan Revolusi Prancis; Liberte, Egalite, Fraternite.

Diawali dengan Blue yang berkisah tentang tragedi mengerikan yang dialami seorang wanita; yang keluarganya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan. Blue bukanlah motivasi hidup atau semacamnya. Ia film yang menawarkan kisah alternatif menyoal dampak kengerian hidup tanpa sebuah ‘alasan pulang’ di tengah upaya bebas (liberte) dari belenggu kesuraman tragedi.

Blue hening dan kentara serius. Mungkin Kieślowski peka. Tapi itulah yang dibutuhkan dalam film tersebut. Kekocakan dan warna yang cerah memang diberikan Kieślowski lewat White; film kedua dari Trilogi Warna. Berkisah mengenai usaha seorang duda untuk membalas perbuatan mantan istrinya yang menceraikannya secara sepihak. Namun pencapaian untuk menyuguhkan gagasan ‘egalite’ hanya berhenti pada permukaan saja—selebihnya kita melihat Polandia dan Prancis pada musim-musim yang indah—yang ditangkap oleh Kieślowski.

Barangkali memang itu tujuannya; menghangatkan lewat tontonan yang ringan sebelum memasuki pamungkas Trilogi Warna yang paling berkesan seumur hidup. Ditutup dengan Red dan alasan kita meyakinkan bahwa film tersebut menjadi bagian terbaik sepanjang perjalanan sinema. Rotten Tomatoes mencatatkan skor Red dengan perolehan 100% dari akumulasi kritikus seluruh dunia. Sebab itu, ada polemik yang mengekor ketika Red, tak keluar sebagai juara pada Cannes dan Oscar. Semuanya kecewa, tak terkecuali saya.

Namun tentu saja keterampilan dan kejeniusan Kieślowski bukan diukur dari berapa banyak ia memanen penghargaan di festival-festival bergengsi. Betapa menghinanya itu. Toh, Kieślowski masih tetap diakui sebagai salah satu sutradara terbesar sepanjang sejarah. Cannes dan Oscar hanya bagian kecil dari industri seni film—ia bukanlah tolak ukur kehebatan sebuah film menjadi optimis dalam setiap masa. Tanpa festival-festival papan atas pun, siapa yang bakal meragukan kecakapan Krzysztof Kieślowski? Tak ada, takkan pernah ada.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleSusur Kampung Edukatif “Polowijen”
Next articleDaftar Lengkap Nominasi Piala Oscar 2023
Lahir dan besar di Singaraja, Bali. Menulis dan menonton film

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here