the beatles

Teriakan kaum hawa terdengar amat histeris ketika lagu bertajuk Yesterday dilantunkan dengan begitu anggun oleh lelaki tinggi rupawan bersama petikan gitar dan suara yang menghanyutkan. Suasana sontak menyihir dan menghapus segala risau para audiens, terutama ketika Paul Mccartney dengan merdu mengucap “All my troubles seemed so far away”. Malam kian syahdu, memori indah terekam dengan manis di lubuk hati terdalam penonton.

Siapa yang tidak kenal the fabulous four dari tanah Liverpool yang melekat dengan jas juga dasi yang begitu rapi serta wajah yang kelewat mempesona? Band legendaris dunia yang dahulu menamai diri mereka sebagai The Quarrymen ini semula melebur dengan kepopuleran band rock dan figur musisi pria yang eksis pada pertengahan abad ke-20. Di masa itu musisi rock identik dengan busana jaket berbahan kulit yang merepresentasikan maskulinitas atau katakanlah karakter macho kaum pria.

semilir
Gambar: vocal.media

John Lennon beserta pasukannya menjadi harta karun berharga bagi Brian Epstein. Sebagai seorang manajer, Brian tidak hanya mengorbitkan The Beatles untuk bersinar di panggung musik dunia tetapi juga menyulap penampilan mereka dengan cara yang drastis. Ia melakukan itu sebagai salah satu strategi demi menembus perusahaan rekaman. The Beatles tampil dengan gaya rambut yang sangat tertata dan pakaian rapi dengan desain yang terkurasi. Gaya busana mereka jauh dari elemen intimidasi yang lazim ditemui pada personil band rock di Eropa pada masa itu. Ketika banyak band rock tampil sangar dengan busana dan tata rias mereka, The Beatles justru menghadirkan sesuatu yang berbeda. The Beatles membawa citra mengenai band rock yang berpenampilan manis, digemari remaja dan sama sekali tidak berbahaya. Siapa sangka preferensi busana mereka yang mengadopsi Edwardian Fashion akan diterima dengan baik oleh penggemar dan merubah pandangan dunia terhadap fashion musisi rock.

The Beatles dan busananya menunjukan bahwa identitas visual sebuah grup band merupakan fenomena yang terjadi secara global. Busana merupakan daya dukung yang berperan signifikan dalam mengkomunikasikan dan mengekspresikan diri mereka bersama karya musiknya. Wilkins & Inglis (2015) menjelaskan bahwa citra visual dan filosofis The Beatles berubah tanpa bisa diperkirakan.

semilir
Gambar: vocal.media

Gaya berbusana mereka merupakan perwujudan ledakan visual. Karya musik mereka yang semakin luas dan beragam secara bersamaan turut merubah gaya busana mereka ke arah yang semakin baru dan berbeda dari sebelumnya. Mereka mulai lebih cuek dengan gaya rambut yang tidak beraturan dan tampil dengan ragam pakaian yang eksentrik, salah satunya mengadopsi tema militer yang colorfull pada album Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band.

Gaya busana The Beatles pada akhirnya mengalami transformasi tidak terduga yang terjadi secara bertahap, mulai dari yang inovatif, begitu juga mengadopsi fashion yang sudah ada sebelumnya. Sandbrook (2015) dalam bukunya White heat: a history of Britain in the swinging sixties menulis  bahwa The Beatles menjadi perwujudan metafora yang kuat atas luasnya perubahan sosial dan budaya. Kemampuan mereka untuk menyulap identitas dan persona panggung menghadirkan daya tarik yang luar biasa dalam perkembangan budaya massa. Sepak terjang mereka dalam satu dekade dari 1960 hingga 1970 menunjukan bahwa singularitas gaya dan mode yang sebelumnya diabaikan ternyata dapat memiliki konsekuensi yang penting dan berkesan baik bagi musisi maupun penonton.

semilir
Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band cover

Konsistensi bukanlah kunci, pemberontakan maupun novelty justru menjadi esensi yang dianut oleh The Beatles dalam bermusik dan berpakaian. Kedua aspek seni visual baik itu riasan dan busana tidak sekadar hadir sebagai pendukung penampilan. Busana yang mereka kenakan menjadi media komunikasi dan ekspresi yang sarat akan makna.

Sesuai dengan pernyataan filsuf Rolland Barthes bahwa fashion membawa pesan dari tubuh pemakainya. Busana dan musik sebagai elemen seni performatif diakomodasi The Beatles tanpa ragu akan hadirnya penolakan, tanpa khawatir bahwa pandangan industri akan berubah. Dunia lantas menyatakan sebaliknya, The Beatles mendapat pengakuan dan cinta yang seluas-luasnya karena keberanian mereka yang mengguncang tatanan fashion dan musik dalam skala global.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleSitus Patirtaan Ngawonggo : Budaya, Cinta, dan Karsa
Next articleGeorges Méliès
Lintang Pramudia Swara merupakan mahasiswa aktif program S1 Musik di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Saat ini menjadi penulis aktif dari klub jurnalisme musik Aksaratala yang bernaung di bawah jurusan musik kampus ISI Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here