Menjadi Manusia
Sumber foto: Hipwee

Manusia, makhluk ciptaan Allah yang dianugerahi keunggulan dan kesempurnaan daripada ciptaan yang lain. Keunggulan ini paling utama terletak pada akal yang dengannya manusia dapat membedakan yang baik dan buruk serta dapat menyadari keberadaan dirinya di dalam dunia. Dengan akal pula, tumbuh kesadaran manusia untuk belajar “menjadi manusia”.

لقد خلقنا الأنسان في أحسن تقويم
Sungguh, kami telah menciptakan manusia dalam keadaan yang sempurna. (QS. At-Tin:4).

Dengan alat akal, para filosof mengatakan manusia adalah “hayawanun nathiqun” yang berarti hewan yang berpikir. Dengan pikirannya, manusia dapat mencapai proses kesempurnaan.
Manusia, makhluk yang ketika lahir tidak mengerti apa-apa dan belum menjadi apa-apa. Namun seiring waktu, manusia bertumbuh. Manusia harus belajar jika ingin mengetahui dan menjadi apa-apa.

Berbicara tentang menjadi manusia sempurna, asyik menilik
buku berjudul “Manusia Sempurna” karya Murtadha Muthahhari.
Penulis menawarkan konsep manusia sempurna dalam sudut pandang Islam, bukan Barat.

Konsep tersebut melihat bagaimana Al-Qur’an dan Sunnah mendefinisikan manusia sempurna. Kedua, kita dituntut untuk memuliakan dan mengikuti jejak individu-individu nyata yang di didik berdasarkan model Al-Qur’an pada Sunnah.

Contoh koteks tersebut yakni Nabi Muhammad Saw dan Sayyidina Ali Kw (hlm. 10). Kita dituntut mengenali keduanya, bukan hanya dari segi nama, silsilah, identitas yang tampak saja (lahiriah), tetapi juga harus mengenali kepribadiannya.

Penulis mengajukan beberapa pertanyaan: Siapa sebenarnya yang dapat dikatakan sebagai manusia sempurna? Apakah ia adalah seorang yang ahli ibadah, ahli Zahid atau orang yang merdeka, ahli pecinta, atau justru pemilik akal?

“Tak satu pun dari ke semuanya merepresentasikan sosok
manusia sempurna”

Hanya apabila semua nilai kemanusiaan yang meliputi cinta, akal, ibadah, kebebasan, pelayanan kepada sesama dan ibadah dapat dikembangkan di dalam dirinya secara harmonis, maka ia dapat dipandang sebagai manusia sempurna.

Lalu lanjut, penulis mengemukakan bahwa kemampuan merasakan penderitaan adalah ciri dari kemanusiaan. Tidak merasakan penderitaan laksana tidak memiliki perasaan dan pemahaman yang berarti setara dengan kedunguan.

Timbul pertanyaan, mana yang lebih baik bodoh, dungu dan tidak merasakan penderitaan ataukah sadar, terjaga dan
merasakan penderitaan?

Terkadang, menjadi seorang Socrates yang kurus itu lebih baik daripada menjadi seekor babi yang gemuk. Menjadi orang terpelajar dan bijaksana meski tercerabut kenyamanan-kenyamanan adalah lebih baik daripada menjadi orang bodoh yang
menikmati segala kenyamanan.

Setelah itu pada akhirnya penulis mengatakan bahwa kriteria kemanusiaan adalah cinta kepada Allah dan cinta kepada manusia. Kesemuanya tercermin dalam diri Sahabat Ali Kw (hlm. 40).

Penulis mengemukakan bahwa kelak manusia akan dibangkitkan dengan nilai kemanusiaannya. Hanya sekelompok manusia yang
akan dibangkitkan dalam bentuk manusia sedang yang lainnya akan di bangkitkan berdasarkan watak dan sifatnya.

Dicontohkan ketika manusia memiliki watak layaknya seorang anjing, maka kelak ia akan di tampilkan seperti seekor anjing. Watak ini di tandai berdasarkan niat, keinginan dan karakter hakiki mereka. Penulis pun mengajak kita memikirkan diri kita apakah keinginan-keinginan kita di dunia merupakan keinginan seorang
manusia atau justru keinginan hewan.

Pada intinya, buku ini mengajak pembaca menyelami dua sosok manusia agung yang sering disebut sebagai manifestasi sosok manusia sempurna. Kita juga diajarkan konsep manusia dalam sudut pandang Islam sungguh tidak kalah keren dengan konsep manusia versi barat modern. Bahkan, konsep Islam menyentuh hakikat dari manusia itu sendiri yakni spiritualitas. Digambarkan untuk menjadi manusia yang utuh manusia harus dapat mencintai Tuhannya serta para makhluk-Nya.

Buku Menjadi Manusia
Buku Manusia Sempurna karya Murtadha Murthahhari

Identitas buku
Judul buku  : Manusia Sempurna (terjemahan dari buku Perfect Man)
Penulis       : Murtadha Muthahhari
Penerbit     : Rausyan Fikr Institute
Tebal buku : 142 halaman
Cet. Tahun : III, 2019
ISBN         : 978-602-17363-7-1

Previous articlePerjalanan 30 Jam Vigo ke Ficantieres
Next articlePasar Malam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here