De Stille Kracht

Novel De Stille Kracht karya Louis Couperus ini telah terbit juga versi Indonesianya dengan judul Kekuatan Diam dan dalam Bahasa Inggris dengan tajuk The Hidden Force. Sementara itu, ulasan ini didasarkan pada edisi berbahasa Indonesia.

Louis dianggap sebagai penulis Belanda yang legendaris, salah satunya adalah karena karyanya yang bernilai historis sebab ditulis dan dirilis pada masa serta dengan penggambaran yang “dekat” terhadap realitas. Benar, novel ini boleh digolongkan sebagai karya sastra yang terilhami oleh realitas, oleh karena itu dapat mendeskripsikan dengan jelas setiap sudut kehidupan di sebuah kompleks kerasidenan pada akhir abad ke-19. Kendati demikian, sebagai karya sastra, Louis membutuhkan bantuan imajinasi sebagai penyamar atau pemanis atas suatu realitas, seperti penggunaan nama Labuwangi sebagai nama kerasidenan, yang tidak akan kita temukan pada catatan administratif daerah manapun di Kepulauan Indonesia masa itu. 

Louis berusaha menguak sisi lain dari kehidupan orang Barat yang “modern” dan orang Jawa yang tampaknya “kalem”. Modernitas orang Barat ternyata menyimpan keyakinan spiritual yang tak kalah mistisnya dengan orang Jawa. Sementara itu, orang Jawa yang pada dasarnya dikesankan orang Barat sebagai pribadi yang “kalem”, lugu, dan penurut ternyata bisa memendam kemampuan berpikir untuk melawan, yang berasal dari kebencian. Sisi lain itu mengendap dalam diam, kekuatan diam. Sang pengarang mengungkap kekuatan diam ini ke dalam tujuh bagian di dalam novelnya.

Bagian pertama novel ini merupakan latar belakang dari keseluruhan isi novel. Pada muka cerita, suasana, pakaian, dan kebiasaan yang berlaku di Labuwangi dipaparkan, misalnya saja kebiasaan membunyikan gong pertanda waktu makan malam dan tokek yang membawa keberuntungan. Penulis juga memaparkan karakter van Oudijck, seorang Residen di Labuwangi, yang merupakan tokoh utama di dalam novel ini. Menyusul deskripsi tentang van Oudijck, penulis tidak lupa menerangan tokoh-tokoh lain yang berada di sekeliling van Oudijck beserta hubungan emosionalnya dengan sang tokoh utama.

semilir
De Stille Kracht pernah diangkat ke layar lebar

Setidaknya pesan yang dibawa oleh judul novel De Stille Kracht (kekuatan diam) telah diberi polanya, melalui tokoh Leoni (istri van Oudijck) yang dibalik karakternya yang menawan hati banyak orang dan amat dicintai van Oudijck, ternyata suka selingkuh bahkan dengan anak tirinya sendiri, Theo. 

Pada bagian kedua muncul tokoh-tokoh lainnya, seperti sekretaris Residen, yakni Onno Eldersma, Eva istrinya, dan anggota-anggota satu klub dengan Eva, terutama sang Kontrolir, van Helderen. Pada bagian ini penulis semakin membimbing pembaca terhadap pesan “kekuatan diam” di tengah-tengah tokoh. Hal ini terkuak melalui sosok Eva, istri sang sekretaris Residen, yang kerap merasakan keganjilan ketika hari menjelang malam, seperti waktu dia menyatakan bahwa ada sesuatu yang misterius dan mendebarkan di waktu malam. Karakter Eva yang begitu perasa dan sensitif akan kekuatan diam yang berada di sekitarnya juga diamini oleh Ida, istri van Helderen, yang melihat seorang “haji” ketika mereka memainkan tafeldans, menunjukkan suatu bentuk kepercayaan orang Barat itu terhadap hal mistis. Kekuatan diam lain, dalam dimensi non-mistis, sebuah rasa terpendam yang akhirnya diungkapkan juga, ialah kecintaan van Helderen terhadap Eva. Namun, sebagaimana awalnya, berangkat dari diam, rasa itu juga berakhir dengan didiamkan, Eva meminta van Helderen untuk melupakannya.

Rahasia, sebagai kata lain untuk menyatakan kekuatan diam, banyak digunakan oleh penulis pada bagian ketiga novel ini. Skadal-skandal rahasia antara Doddy (anak perempuan Residen) dan Addy (sosok perayu dari kawasan pabrik gula di Pacaram), kemudian antara Leoni, yang pada bagian ini tidak hanya terpikat oleh Theo, namun mulai tertarik pula dengan kekasih rahasia anak tiri perempuannya itu. Makhluk misterius, haji berserban putih, kali ini dirasakan kehadirannya oleh Doddy. Selain skandal itu, kekuatan diam lain yang Louis sertakan pada bagian ini ialah adanya rahasia yang disimpan oleh Raden Ayu, mewakili karakter Ningrat Jawa, yang dalam kekalemannya tersembunyi hasrat rahasia.

Pada bagian keempat, penulis lebih berani mengutarakan maksud novel ini, melalui ungkapan, “ada kekuatan diam melawannya dalam kegelapan”. Bagian keempat menginformasikan kondisi van Oudijck, dibalik kecintaannya terhadap keluarganya, mulai menyadari banyak hal tak beres sedang berlangsung, surat-surat kaleng adalah yang berhasil membantunya sadar. Dia selama itu digambarkan hanya melihat yang tampak, buta akan adanya sisi lain dari setiap episode kehidupan yang dia jalani. Istri dan keluarga yang dia pikir turut mencintainya, ternyata di belakang bertindak sebaliknya.  Orang Jawa, yang dia anggap semata-mata menyadari posisinya yang rendah, nyatanya juga memendam perlawanan, sebuah kepercayaan yang terpendam bahwa mereka layak berada di atas atau setidaknya setara.

Jika van Oudijck masih menerka-nerka, maka Eva sudah lebih dahulu merasakannya, perlawanan dalam diam oleh para pegawai Jawanya, kita dapat temukan ini pada bagian kelima. Labuwangi takut akan kekuatan diam, perlawanan dari Bupati Ngajiwa, ketika Bupati Ngajiwa dipecat karena menjatuhkan harga dirinya dengan mabuk berat saat pesta dengan para bangsawan, namun ketakutan itu berhasil terlewati ketika sang bupati dan istrinya memenuhi undangan, sebuah bentuk ajakan berbaikan oleh van Oudijck.

Kekuatan diam tampak mulai mengkhawatirkan Leoni pada bagian keenam. Berbagai takhayul juga disertakan pada bagian ini, seperti pasar malam yang tidak berlangsung pada hari bagus dan sumur yang tidak disedekahi, yang diyakini mengundang makhluk-makhluk tak kasat mata menghantui Labuwangi, terutama rumah Residen. Leoni khawatir, jika ternyata pelbagai kejadian ganjil itu karena ulah kotornya dengan Theo. Kuntilanak, cermin pecah, kejadian mengerikan yang menimpa Leoni di kamar mandi, membuat rumah Residen perlu dibersihkan dari pengaruh-pengaruh jahat itu. Namun, skandal Leoni tak berakhir dengan Addy, hal ini mengundang kekuatan diam lain, kebencian Theo terhadap Leoni dan kecemburuan van Oudijck karena lambat laun mulai tersadar akan perilaku serong istrinya.

Akhirnya, pada bagian ketujuh, seluruh kekuatan diam memudar. Leoni yang bahkan setelah ketahuan menyimpan skandal masih mampu membela dan membersihkan diri, dia selamat. Van Oudijck juga selamat, dengan memilki keluarga baru serta tidak lagi dihantui oleh kekuatan diam, perlawanan dari keluarga, masyarakat, ataupun alam yang dia tempati. Eva, meski dalam pencariannya akan van Oudijck masih merasakan ada hal lain di Danau Lelles, namun ternyata tidak berarti apapun. Penulis menutup novelnya dengan menunjukkan kecintaan van Oudijck terhadap negeri Hindia bagaimanapun kesannya, melalui ungkapan “ini bukan salah negeri ini”.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini