Novel Laut Bercerita
Sumber foto: Nongkrong.co

Laut Bercerita, sebuah novel yang ditulis oleh Leila S. Chudori. Pertama kali mendengar judul novel tersebut apa yang terlintas di kepala kalian? Sebuah cerita romansa anak muda yang berkaitan dengan laut atau sebuah novel yang menceritakan tentang keindahan lautan?

Saat mendengar judul buku tersebut saya mencoba menerka-nerka apa isi dari buku itu. Mungkin sebuah cerita romansa yang diceritakan oleh seorang tokoh bernama laut.

Rasa penasaran itu semakin muncul setelah saya membaca penjelasan singkat yang berada di belakang buku bertuliskan “Laut Bercerita, bertutur tentang kisah keluarga yang kehilangan, sekumpulan sahabat yang merasakan kekosongan di dada, sekelompok orang yang gemar menyiksa dan lancer berkhianat, sejumlah keluarga yang mencari kejelasan makan anaknya, dan tentang cinta yang tak akan luntur.”

Buku tersebut juga menggunakan latar tahun 1998 di mana kita ketahui tahun tersebut sangat bersejarah untuk bangsa ini, tulisan tersebut semakin membuat saya penasaran apakah sebenarnya yang dituliskan dalam buku itu.

Setelah menyelesaikan membaca buku tersebut kurang lebih satu minggu, saya hampir tidak bisa menggambarkan isi dari novel tersebut, hanya satu kata “waaah gila keren” kalimat yang terucap setelah menyelesaikan membaca buku itu.

Ternyata novel ini jauh dari bayangan saya, bukan cerita romansa seperti yang saya bayangkan apalagi menceritakan tentang keindahan lautan. Latar belakang pada tahun 1998 mengingatkan kembali pada era-era reformasi, sehingga bagi saya novel ini lebih menceritakan tentang perjuangan dan keteguhan dalam sebuah perlawanan.

Novel ini berceritakan tentang sekelompok anak muda yang ingin melihat wajah berbeda dari Indonesia dimasa orde baru. Diperankan oleh Luat, Kinan, Gala, Sunu, Daniel, Alex, Naratama, Gusti dan kawan-kawannya.

Dibuka dengan latar kampus ternama di Yogyakarta menceritakan kegiatan sehari-hari para anak muda tersebut sebagai seorang aktivis Wirasena dan Winatra. Sampai suatu hari mereka memulai aksi perlawanan Blangguan pada tahun 1993 dan berakhir dengan beberapa teman aktivis ditangkap dan mengalami penyiksaan sebelum akhirnya dibebaskan.

Sejak peristiwa tersebut mereka menjadi buron, harus berpindah-pindah tempat bahkan menyebrang dari Pulau Jawa agar terhindar dari penangkapan sebelum akhirnya mereka benar-benar ditangkap, mungkin lebih tepatnya diculik.

Sangat jelas diceritakan bagaimana penculikan para aktivis tersebut dan apa yang terjadi terhadap mereka setelahnya. Bagaimana mereka diculik, mengalami penyiksaan, kemudian sebagian dilenyapkan dan tidak pernah kembali.

Selain itu, novel ini juga menceritakan bagaimana keluarga dan teman-teman yang tidak henti-hentinya berjuang untuk mencari kejelasan mengenai teman, anak, suami, kakak mereka yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Mereka tidak pernah kembali meskipun sudah bertahun-tahun berlalu dan periode kepemimpinan yang sudah berganti.

Bagaimana dengan kisah romansa? Apakah sama sekali tidak ada? Tentunya ada, tapi mungkin kalian akan melihat bentuk lain dari cinta dalam novel ini.

Ada sebuah kalimat yang sangat melekat untuk saya setelah membaca novel ini “Setiap langkahmu, Langkah kita, apakah terlihat atau tidak, apakah terasa atau tidak, adalah sebuah kontribusi, laut. Mungkin saja kita keluar dari rezim ini 10 tahun atau 20 tahun lagi, tetapi apapun yang kamu alami adalah sebuah Langkah. Sebuah baris dalam puisi. Sebuah kalimat pertama dari cerita pendekmu…” dari kalimat tersebut saya memahami bahwa sekecil apapun hal yang kita lakukan adalah sebuah kontribusi nyata entah untuk orang lain ataupun diri kita sendiri.

Bagusnya lagi novel ini juga membuat kita berimajinasi sendiri tentang cerita-cerita yang dituliskan, membuat tanda tanya sendiri tentang peristiwa yang terjadi dalam novel tersebut. Kita diajak berfikir memecahkan teka-teki kenapa, mengapa, di mana dan alasan apa. Terlebih lagi semua emosi yang dituliskan di novel seperti rasa marah, bahagia, sedih, takut dan jijik ditularkan secara sempurna kepada pembaca.

Alur mundur atau kilas balik dengan latar tempat yang digunakan serta tulisan yang dibuat seakan-akan merupakan cerita tersebut benar adanya. Siapa sangka ternyata ini sebuah novel fiksi namun seperti nyata, mula dari latar tempat, waktu, tokoh, dan bahkan peristiwanya seperti benar-benar terjadi.

Penulis novel juga menjelaskan bahwa novel tersebut hanya historical fiction, namun cerita tersebut dituliskan berdasarkan fakta dikarenakan sebelum menulis beliau melakukan wawancara kepada korban tau saudara dari korban yang terlibat dalam peristiwa tersebut.

Bahkan untuk latar tempat sendiri, penulis mengunjungi langsung tempat yang dituliskan dalam novel tersebut atau mencari narasumber yang memang memahami tempat tersebut.

Sedangkan untuk tokoh-tokoh dalam novel, penulis melakukan pendalam secara khusus untuk membangun karakter tokoh. Misalnya saja seperti tokoh dokter penulis langsung mendatangi beberapa dokter untuk mengenalkan pada dunia kedokteran, kemudian tokoh seorang pria dari Timur dan beberapa tokoh lainnya. Mungkin itulah yang membuat novel ini menjadi sangat hidup dan seperti nyata terjadi.

Begitulah sensasi yang saya rasakan saat membaca novel Laut Bercerita, mungkin kalian bisa menemukan cerita yang berbeda setelah membaca novel tersebut.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini