soviet satire

Subgenre satire, khususnya yang berlatarkan negara pecahan Uni Soviet bukan tipe buku yang punya basis penggemar besar. Eksposur yang diberikan oleh penerbit pun tak besar. Apalagi di Indonesia yang saat ini sedang dibanjiri novel sastra Asia, terutama Jepang dan Korea. Padahal, negara-negara bekas Soviet punya masalah yang mirip dengan Indonesia, yakni korupsi, oligarki, dan demokrasi parsial.

Menemukan buku-buku post-Soviet satire juga tidak mudah, apalagi yang versi terjemahan Indonesia. Alhasil, merogoh kocek lebih dalam untuk menikmati buku-buku bahasa Inggris jadi opsi paling masuk akal. Untuk menghemat, saya biasanya mencoba membeli buku elektronik atau berburu diskon di toko buku impor yang ada di marketplace.

Setelah setahun mencoba menyelami subgenre ini, saya menemukan beberapa penulis paling prominen yang layak dikenal khalayak. Siapa tahu post-Soviet satire bisa menemukan penggemar barunya lewat tulisan ini.

Andrey Kurkov

Penulis pertama yang saya kenal adalah Andrey Kurkov. Didorong isu perang Rusia/Ukraina yang menyeruak pada Februari 2022, saya sadar bahwa selama ini saya tak pernah membaca buku dari Ukraina. Ketika coba mengulik penulis asal negara berbendera kuning dan biru tersebut, Andrey Kurkov menyeruak di daftar teratas. Ia paling dikenal lewat Death and the Penguin (1996), sebuah novel satire yang rilis beberapa tahun setelah Uni Soviet pecah dan Ukraina menjadi negara independen seutuhnya.

Namun, saya justru memilih membeli novel terbarunya, Grey Bees yang rilis pada 2018. Novel ini menarik karena saya sempat menulis skripsi tentang konflik Ukraina dan Rusia periode 2013-2015.

Grey Bees secara garis besar membahas bagaimana kehidupan orang Ukraina terkoyak karena perpecahan wilayah dan pencaplokan Krimea, lewat sudut pandang seorang pria paruh baya bernama Sergey. Kritik Kurkov apik dan subtle, tanpa provokasi dan glorifikasi pada perang. Saya menobatkan novel ini sebagai buku terbaik yang saya baca pada 2022.

Serhiy Zhadan

Serhiy Zhadan sudah merilis beberapa novel. Salah satu yang banyak direkomendasikan juga dengan berlatarkan konflik Rusia/Ukraina 2014 berjudul The Orphanage. Saya sempat membaca sampel versi elektroniknya dan menyerah. Saya justru berkenalan dengan Zhadan lewat beberapa cerpennya yang disertakan dalam buku kompilasi cerita Love in Defiance of Pain: Ukrainian Stories (2022). Kebetulan buku ini kena potongan harga yang signifikan.

Dua cerpennya, The Sailor’s Passport dan The Owner of the Best Gay Bar, sangat berbeda dengan The Orphanage. Ia menggunakan gaya bercerita satire yang menghipnotis dan jauh lebih menghibur.

Satire memang ideal untuk membahas isu-isu tentang negara yang bobrok. Lewat cerpen-cerpen penulis Ukraina ini, saya makin yakin kalau dibanding dengan Rusia, Indonesia punya kemiripan yang lebih banyak dengan Ukraina.

Alina Bronsky

Bronsky punya beberapa buku yang populer, seperti Broken Glass Park dan The Hottest Dishes of the Tartar Cuisine. Namun, saya justru berkenalan dengannya lewat buku Baba Dunja’s Last Love versi terjemahan bahasa Indonesia yang saya temukan nyempil di salah satu rak toko buku lokal. Novel ini pendek dan fokus pada karakter Baba Dunja, tanpa menitikberatkan pada plot.

Berbasis di Jerman, tetapi berasal dari Rusia, Bronsky menyelipkan refleksinya tentang pengalaman pribadinya tinggal di dua negara itu dalam kisah Baba Dunja. Tentunya dengan selingan humor yang lumayan menghibur. Dibanding Zhadan dan Kurkov, cerita Bronsky lebih melankolis dan tragis.

Anthony Marra

Marra adalah seorang Amerika yang pernah tinggal di Rusia. Meski tidak punya latar belakang yang menyakinkan untuk menulis kisah satire post-Soviet, ia ternyata berhasil mengeksekusinya lewat The Tsar of Love and Techno: Stories (2015). Buku ini saya dapat dengan harga diskon di sebuah toko buku impor daring. Sampulnya hardcover dan berat, sangat tidak disarankan dibaca sambil rebahan.

Bab-bab awal agak membosankan, tetapi saat masuk pada cerpen keempat semuanya berubah. Marra menyusun cerpennya dengan hint bahwa mereka saling bertautan, tetapi ia sengaja tidak menggunakan linimasa yang linier.

Saya tidak menyangka bahwa ia menyelipkan satire dan humor dalam novel ini. Mengingat novelnya yang bertajuk A Constellation of Vital Phenomena (2013) lebih condong ke drama dan tragedi. Novel berlatar Rusia pun biasanya lebih banyak mengusung genre itu, ceritanya jauh lebih gelap dan suram bila dibandingkan sastra Ukraina. Coba ingat saja novel-novelnya Fyodor Dostoevsky dan Ivan Turgenev.

Marina Lewycka

Saya menemukan Lewycka di tumpukan buku diskon. Novelnya yang berjudul A Short History of Tractors in Ukrainian langsung saya comot kala itu. Ada banyak kritik yang dilayangkan pada novel ini, tetapi secara mengejutkan saya justru menikmatinya. Memang ada beberapa bagian yang membosankan, tetapi secara garis besar novel ini nyaman dibaca. Ia bercerita tentang sebuah keluarga imigran Ukraina di Inggris, terdiri dari seorang pria lansia dan dua anak perempuannya yang sudah berusia 50-an. Satu hari, sang ayah jatuh cinta pada perempuan Ukraina yang ia kenal lewat internet.

Konflik pun dimulai karena dua anaknya curiga bahwa pacar sang ayah hanya memanfaatkannya untuk bisa dapat visa tinggal di Inggris. Sesuatu yang lumrah dilakukan orang Eropa Timur untuk bisa kabur dari kebobrokan negaranya adalah menikah dengan warga negara maju, entah memang didasari cinta atau berkedok nikah kontrak. 

Bagaimana, sudah siap menyelami serunya subgenre post-Soviet satire? Pastikan masih ada ruang di rak bukumu untuk menambahkan mereka dalam koleksi.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous article5 Novel Karya Penulis Indonesia yang Mendunia Juga Menginspirasi
Next articleJadikan Pengalaman LDR dan Musik Tempo Dulu sebagai Inspirasi Berkarya, Stephen Sanchez Tarik Perhatian Dunia
penulis lepas yang bermukim di Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here