Malam ini, lelaki itu kembali meraup untung besar di Pasar Malam. Pardi merupakan seorang bandar judi yang cukup terkenal di desanya dan kembali meraup untung besar hingga hampir membuat bangkrut para pemain.

Bagaimana tidak? Dia telah menyiasati semua permainan yang digunakan untuk memperdaya para pemain sehingga tidak ada satu pun dari para pemainnya malam ini yang membawa hadiah besar berupa radio.

Pardi juga telah menyuap beberapa polisi di sekitar Pasar Malam sehingga operasinya kali ini berjalan dengan sangat lancar. Meski suap yang dia gunakan tidak seberapa, tetapi tindakan itu cukup membuat Pardi memiliki banyak waktu hampir semalaman untuk mencari korban.

Tepat ketika adzan subuh berkumandang, operasinya dihentikan. Dia langsung menutup kios kecilnya dan mulai membereskan permainannya kemudian bergegas pulang.

Pardi segera membangunkan Sodhikin yang sedang tertidur cukup pulas di belakang. Sodhikin adalah anaknya yang berusia 17 tahun. Dia mengikuti Pardi sejak masih berumur 10, pergi dari satu pasar malam ke pasar malam lain. Di sana Pardi biasa menggelar kios kecilnya dan menggelar permainan untung rugi tersebut.

“Bangun nak…” ucap Pardi sambil menggoyangkan kaki anaknya yang sedang terbujur pulas. “Pulanglah, dan bawa hasil uang malam ini untuk ibumu, dia pasti sedang kebingungan uang untuk sarapan di rumah.”

Sodhikin bangun tak lama kemudian. Dia bukanlah pemuda yang suka bermalas-malasan sehingga segala titah yang dikatakan Pardi, ayahnya, akan segera dijalankan.

Tanpa berlama-lama lagi Sodhikin berangkat dengan sepeda Jengki milik Sang Ayah. Udara dingin subuh segera dia terabas untuk segera sampai di teras rumah sesegera mungkin.

Setelah Sodhikin pulang, Pardi segera merogoh saku celananya yang lain dan menghitung uang yang tak kalah banyaknya. Bagi Pardi pantang hukumnya untuk memberikan semua hasil jerih payahnya pada keluarga di rumah.

Meski Sodhikin sangat patuh, dan Pardi memiliki istri yang taat di rumah, namun dirinya juga memiliki kepentingan lain yang tak perlu diketahui oleh siapapun. Termasuk istrinya sendiri.

Segera dia berjalan menyusuri jalanan yang mulai sedikit ramai dengan para pedagang yang akan berjualan di pasar. Beberapa menit kemudian dia langsung mencegat oplet agar segera beranjak pergi ke tempat yang sedikit jauh.

“Untung tidak ada yang aku kenal” batin Pardi sambil melihat ke dalam Oplet.

Keberangkatannya kali ini harus dirahasiakan kepada siapapun. Bahkan jika mampu, Pardi tidak ingin ayam tetangga sekalipun mengetahui kepergiannya kali ini.

Jalanan kembali hidup secara perlahan. Para pesepeda jengki yang membawa pisang, singkong, dan beberapa barang yang biasa dijual ke pasar menyalip oplet yang dinaiki Pardi. Dia mulai gelisah, nampaknya dia berburu dengan waktu untuk sampai di tempat yang akan dia tuju kali ini.

***

“Mana bapakmu?” tanya Sulastri ketika Sodhikin baru sampai rumah dengan membawa beberapa lembar uang.

“Masih di Pasar Malam, katanya aku suruh pulang terlebih dahulu untuk emak. Takutnya bingung uang sarapan” jawab Sodhikin sambil memarkirkan sepedanya.

Sulastri hanya sanggup mengambil nafas panjang. Sudah beberapa hari ini Pardi jarang pulang ke rumah. Meski kebutuhan rumah tangga terpenuhi, namun perasaannya sering was-was ketika Pardi jarang berada di rumah. Dia adalah laki-laki yang baik, setidaknya itu penilaian Sulastri hingga sekarang.

Sulastri merindukan suaminya, seperti merindukan kekasihnya yang pergi merantau ke tanah orang tanpa pamit. Meski ini adalah kebiasaan Pardi ketika Pasar Malam digelar, namun entah kenapa Sulastri masih belum bisa berdamai dengan kebiasaan suaminya.

“Baiklah… segera kau makan dan ajak adikmu. Setelah itu bersiap-siaplah untuk pergi sekolah. Sekarang hari senin, emak sudah menyiapkan seragam yang akan kau gunakan.”

“Baik mak, ini uangnya hasil semalam” jawab Sodhikin sambil menyodorkan uang pada ibunya.

Sulastri menerima uang itu dengan perasaan yang masih gamang. Dia berharap segera bertemu dengan Sodhikin hari ini untuk menuntaskan kegamangan tersebut dan mengusap pipi suaminya yang kasar karena jarang tidur.

“Ini uang sakumu” ujar Sulastri sambil mengambil beberapa lembar uang yang diberikan Sodhikin.

Sodhikin mengambilnya dengan perasaan senang, dan segera masuk ke dalam rumah untuk sarapan sebelum berangkat sekolah. Sulastri kembali duduk di kursi anyaman bambu kesayangannya.

Memperhatikan geliat desa yang secara perlahan telah hidup karena hari memang telah beranjak pagi, pandangannya terpaku dengan jalanan depan rumah, dan sesekali tersenyum pada orang yang lewat.

Meski keluarga Pardi bukanlah berasal dari golongan orang-orang besar, namun banyak orang desa yang menaruh hormat pada keluarga ini. Sebab jika ada permasalahan keuangan, banyak warga desa yang tidak ragu untuk meminjam uang pada Pardi, sehingga semua warga desa selalu baik pada keluarga tersebut.

Meskipun mereka tahu bahwa uang itu berasal dari jalan yang kurang tepat, namun paling tidak itu adalah solusi dari kemelaratan yang kerap menimpa karena zaman yang masih belum menentu.

Sulastri kembali teringat dengan suaminya, dia tahu bahwa kepergian suaminya kali ini pasti ke sebuah tempat yang tidak ingin ada satu orang pun boleh tahu. Termasuk dirinya sendiri. Dia juga paham betul dengan laki-laki satu itu yang tidak akan kuat hanya dengan satu perempuan dalam hidupnya. Meski demikian, dia tidak pernah menuntut banyak dari Pardi bahkan sejak mereka berdua menikah.

“Lantas aku harus seperti apa padamu mas….” ucap Sulastri sambil meraba cincin kawin yang melingkar di jarinya.

Sulastri terlempar ke beberapa tahun lalu ketika dia dan Pardi pertama kali bertemu di Pasar Malam. Saat itu dia dan ayahnya mendatangi sebuah kios judi yang ramai diperbincangkan orang. Konon kabarnya ada seorang yang baru saja mendapat hadiah utama berupa radio Philips yang terkenal dengan suara jernihnya dan pengantar sinyal yang cukup kuat.

Di situlah Sulastri memandang mata Pardi yang cukup tajam dan mempesona. Dia sadar bahwa laki-laki yang sedang memutar roulette itu telah memiliki segudang pengalaman yang tidak semua orang miliki. Sesekali Pardi juga mencuri pandang pada Sulastri yang saat itu masih belum bisa melepaskan pandangannya sama sekali dari Pardi.

Pria itu tersenyum. Senyuman itu adalah sesuatu yang tidak mungkin dilupakan oleh Lastri hingga sekarang. Bahkan hanya dengan senyuman itu, Lastri akan langsung memaklumi dan berhenti marah pada Pardi jika jarang pulang seperti sekarang.

Mak!” teriak Sodhikin dari dalam rumah.

Hampir saja Sulastri meneteskan air mata, namun lamunannya buyar ketika Sodhikin keluar dan izin untuk berangkat ke sekolah.

Mak aku berangkat” ucap Sodhikin sambil mencium punggung tangan ibunya yang telah sedikit keriput karena usia.

“Hati-hati di jalan, dengarkan dengan baik apa kata gurumu di sekolah. Jika nanti kau ketemu bapak di jalan, suruh dia segera pulang”

“iya…” jawab Sodhikin sambil menyiapkan sepeda jengkinya dan langsung melesat pergi.

Sulastri melihat punggung anaknya yang semakin menjauh dengan perasaan bangga. Meski Pardi bukanlah pecinta yang setia, paling tidak laki-laki itu bertanggung jawab dan menyekolahkan anaknya dengan benar. Bahkan, Sulastri juga tidak pernah merasa kekurangan dalam kebutuhan keluarga.

“Sayangnya aku masih mencintaimu mas…”

***

Pardi keluar dari rumah itu tepat setelah adzan maghrib selesai. Dia segera memburu oplet tercepat menuju Pasar Malam seperti biasa. Malam ini adalah panggungnya yang terakhir, sebab rombongan Pasar Malam akan buyar esok pagi. Kemudian Pardi akan pulang ke rumah bersama Sodhikin seperti biasa ketika ayam jantan berkokok untuk pertama kali.

Pardi sedikit gegabah, dia segera berlari ke jalan yang agak besar dan matanya langsung mencari ke sekeliling jalan. Keringat yang berceceran sejak keluar rumah tadi masih belum sempat dia hapus, menyisakan hawa yang cukup panas bagi Pardi malam itu. Padahal pergulatannya dengan perempuan itu telah selesai beberapa jam yang lalu, sebelum akhirnya dia sempat sedikit terlelap.

Rumah itu sebagaimana yang diketahui banyak orang adalah milik orang yang cukup melarat. Jauh dari pemukiman warga, membuat rumah itu jarang diperhatikan. Bahkan keluarnya Pardi dari rumah itu tidak ada satu orang pun yang tahu, kecuali perempuan yang sempat dia gauli seharian suntuk setelah turun dari oplet tadi pagi.

Kali ini dia semangat, sebab perasaannya masih sangat senang dan juga ganas. Seperti percumbuan yang terjadi antaranya dengan gadis itu dengan membuat guncangan di dipan bambu belakang rumah tersebut.

Bagi orang tua si perempuan, Pardi adalah suami sahnya. Keduanya melangsungkan pernikahan kemarin tanpa mengundang banyak orang karena berat dalam biaya.

Nampaknya hanya beberapa orang saja yang tahu bahwa Pardi telah menikahi perempuan itu dan malam ini dia menuntaskan hasrat lak-lakinya secara sah. Sebab, tidak ada paksaan sedikit pun. Malah menyenangkan.

Pardi bahkan enggan keluar seharian dan hanya sibuk dengan keringat, guncangan dan juga lendir yang tak kunjung berkesudahan. Untungnya dia ingat bahwa manusia juga perlu makan dan istirahat.

Bahkan sebelum akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke Pasar Malam, dia menyempatkan mandi dan menggunakan wewangian seadanya, agar nampak sedap dilihat para pelanggannya.

Alhasil Pardi baru menemukan Oplet setengah jam setelahnya, dan langsung menaiki kendaraan itu tanpa pikir panjang.

“Semoga malam ini banyak ikan yang tertangkap di jala.” Dia langsung mengelap keringatnya, dan mulai membayangkan akan membawa berapa lembar uang malam ini.

Jalanan melaju cukup kencang. Malam itu oplet dinaiki beberapa penumpang yang nampaknya memiliki satu tujuan dengan Pardi, Pasar Malam. Meski tempat semacam itu banyak penipu seperti Pardi, namun Pasar Malam adalah hiburan rakyat. Tempat banyak warga menaruh segala macam persoalan hidup dan hanya fokus bersenang-senang.

Bahkan, tidak jarang pemuda-pemudi yang datang ke Pasar Malam biasa menghabiskan waktu lama hanya untuk memandangi komedi putar yang tingginya tidak seberapa.

Tidak butuh waktu lama, semua penumpang turun termasuk Pardi dan langsung berhamburan memasuki Pasar Malam. Petugas yang langsung melihat datangnya Pardi melempar senyuman dan langsung menyiapkan tangan untuk menerima uang tutup mulut.

Para petugas itu adalah para polisi yang mendapat jatah untuk mengamankan daerah Pasar Malam. Takutnya ada kericuhan dan praktek judi ilegal yang tidak mendapat izin dari pemerintah.

Namun, nampaknya para petugas itu lebih sering mengamankan isi dompetnya sendiri dengan menerima pemberian dari Pardi. Tindakan semacam inilah yang membuat Pardi selalu aman dalam melakukan prakteknya.

Pardi memasuki kiosnya yang sederhana dan langsung menggelar roulette. Dia melihat sekitar daerah Pasar Malam dan langsung memberikan kode pada para Combe yang telah dia sebar.

Orang-orang yang berperan sebagai Combe si Pardi akan segera berlagak seperti pelanggan asing yang bermain judi seperti orang pada umumnya. Mereka akan mendapat hadiah besar hanya agar membuat pelanggan yang lain tertarik dengan permainan yang Pardi miliki.

Trik murahan semacam itu telah berhasil membuat Pardi menjerat pelanggan dalam jumlah banyak hampir tiap malam. Setelah Pasar Malam bubar, barang atau hadiah yang didapatkan si Combe akan dikembalikan dan dia akan mendapat bayaran atas kerjasamanya tersebut. Malam terakhir di Pasar Malam memang sedikit berbeda, para pengunjung lebih ramai dan calon korban Pardi semakin banyak.

Nampaknya malam ini aku akan untung besar.

***

“Kau ingin apa dek?” tanya pemuda yang baru saja datang mendekati lapak Pardi bersama dengan gadis di sampingnya.

“Hmmm apa ya mas…” jawab si gadis sambil menimbang dan memperhatikan hadiah apa saja yang Pardi pajang malam ini.

Gadis itu cukup menawan. Paling tidak ketika pemuda itu datang mendekati lapak Pardi, si bandar langsung sadar ada aroma gadis yang sangat menawan menghampiri kiosnya yang cukup kumuh untuk perempuan.

Aroma itu bau melati yang sangat wangi, nampaknya itu adalah parfum yang dia kenakan malam ini untuk keluar dengan pria di sampingnya, atau jangan-jangan itu aroma sabun mandi si perempuan?

Pardi melihat gadis itu dengan seksama. Perempuan yang sangat menawan, kulitnya putih seperti kapas, dan tatapan matanya cukup manja pada si laki-laki yang kali ini akan menjadi calon korbannya. Baju si perempuan cukup rapi dengan warna merah muda dengan bawahan sewek yang nampaknya cukup mahal.

Nampaknya dia berasal dari keluarga yang cukup berpunya. Batin Pardi sambil melempar senyumnya pada si gadis yang tentu saja tidak digubris sama sekali.

Gadis itu fokus dengan apa yang dibicarakan si laki-laki yang nampaknya adalah pasangan setia. Pardi sedikit terkejut karena si gadis nampak tidak tertarik dengan Pardi. Padahal senyumannya yang maut telah berhasil memporak-porandakan hati perempuan manapun termasuk Sulastri yang sekarang mungkin masih berharap Pardi pulang ke rumah malam ini.

Nomer piro mas?” tanya Pardi dengan nada yang cukup halus. Dia berusaha memberikan perlakuan spesial pada pelanggannya satu ini (karena laki-laki itu membawa gadis cantik bersamanya).

“hmmm… 19 sepertinya menarik” ucap si laki-laki sambil tersenyum dan membayar taruhannya dengan uang yang cukup besar, nampaknya dia memang mengincar hadiah utama untuk gadis di sampingnya itu.

“Semoga malam ini menjadi keberuntungan anda tuan muda” jawab Pardi sambil tersenyum dan mengambil uang tersebut kemudian menaruhnya di meja bandar.

Roulette diputar, dan Pardi tau apa yang harus dia lakukan malam ini pada sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Memberinya peluang. Tombol bagian bawah yang biasa digunakan Pardi untuk menentukan siapa yang akan menang dia geser dengan menggunakan kaki, dan arahnya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh si pemuda itu.

Dan alhasil keduanya nampak senang. Matanya berbinar-binar, bahkan si gadis yang nampak tidak percaya bahwa kekasihnya mendapatkan hadiah utama seperti yang dia harapkan sebelumnya.

“Ini tuan” ucap Pardi sambil memberikan hadiah itu pada si pemenang.

“Terima kasih mas!” jawab si laki-laki penuh kegirangan.

“Ohh tidak-tidak… saya yang terima kasih pada tuan.” jawab Pardi sambil senyum ke arah si perempuan yang berada di samping lawan bicaranya tersebut.

Setelah menerima hadiah itu keduanya pergi. Punggung si gadis perlahan menjauh dan Pardi nampaknya tidak bisa mengalihkan pandangannya sama sekali dari punggung si gadis.

Namun, beberapa langkah ketika keduanya mulai menjauh, si gadis membalikkan badan dan melempar senyumnya pada Pardi. Kedua mata mereka bertemu sepersekian detik, dan Pardi dibuat mematung oleh si gadis.

“Sekarang aku paham bagaimana Sulastri mencintaiku….”

Previous articleMenjadi Manusia
Next articleJason Ranti, Musisi yang Membuat Saya Berfilsafat
M. Iqbal Mubarok yang berdomisili di Kota Malang, tepatnya di kawasan Dinoyo. Dapat dihubungi melalui akun instagramnya @m.iqbal353 atau akun Facebook yakni M. Iqbal Mubarok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here