perbedaan kepenulisan komunikasi
https://pin.it/6QCtu1U

Tulisan itu bisa ada dan bisa diterima pembaca tak semata tanpa adanya sebab. Sebenarnya, tulisan itu ada untuk membantu pembaca menemukan suatu titik terang atas suatu permasalahan. Maka dari itu, sebelum penulis menghasilkan tulisannya, penulis akan berpikir terlebih dahulu apakah tulisannya nanti bisa diterima masyarakat pembaca atau tidak.

Dari sini, muncullah perbedaan kepenulisan yang nantinya dapat membantu penulis mencapai mimpinya. Apa saja, sih, perbedaan kepenulisan yang bisa membantu pembaca dalam menemukan solusi dari suatu masalah? Kali ini, saya akan menjabarkan perbedaan kepenulisan yang ditinjau dari tujuan komunikasinya.

perbedaan kepenulisan
https://pin.it/2cmnbhT

Pertama, tulisan berupa argumentasi. Tulisan dalam bentuk argumentasi ini biasanya ditulis untuk menguatkan pendapat penulis dari pendapat pihak eksternal. Tulisan argumentasi biasanya ditemukan pada buku-buku bertema politik. Tujuan tulisan argumentasi ini sebenarnya untuk memengaruhi pembaca agar mau menerima pernyataan dari penulis.

Misalnya, ketika penulis tidak setuju tentang politik Indonesia, maka nanti dalam benak pembaca muncul imaji mengenai perlawanan wacana dari pihak politik sebagai akibat dari argumen penulis. Argumen biasanya juga harus dikuatkan dengan bukti, sehingga penulis tak semata-mata menulis sesuatu tanpa adanya bukti. Tulisan argumentasi ini harus berupa fakta lapangan, sehingga tulisan argumentasi masuk pada kategori tulisan non-fiksi.

Kedua, adanya tulisan berupa eksposisi. Tulisan eksposisi ini ditulis untuk menerangkan cara kepada pembaca. Cara ini juga harus berlandaskan fakta. Mengapa dikatakan demikian? Karena setiap tulisan eksposisi ini selalu menggambarkan cara pada suatu masalah di lapangan.

Misalnya, ketika penulis ingin menulis mengenai tata cara bermain game Valorant, maka pembaca diharapkan untuk mengikuti cara penulis untuk bermain game. Ya, meskipun game berupa fiksi, tetapi ketika penyampaian penulis yang dijabarkan secara prosedur atau tahapan, maka hasil yang keluar adalah suatu bentuk non-fiksi yaitu cara terhadap memainkan suatu game.

Ketiga, adanya tulisan berupa gambaran atau deskriptif. Tulisan deskripsi merupakan tulisan yang menggambarkan sesuatu, sehingga muncul gambaran atau imaji mengenai tulisan penulis. Tulisan deskripsi ini sebenarnya bisa masuk ke dalam dua kategori sekaligus, yaitu kategori fiksi dan non-fiksi. Bila penulis menggambarkan sesuatu berupa busuknya buah naga, maka gambaran tersebut masuk dalam tulisan non-fiksi.

Namun, jika penulis menggambarkan sebuah negeri antah-berantah yang di dalamnya hidup seorang penyihir, maka tulisan tersebut berupa tulisan fiksi. Tujuan adanya tulisan deskripsi ini sebenarnya untuk memunculkan suatu emosi terhadap sesuatu yang nantinya bisa menjadi sebuab citraan baru bagi pembaca.

Keempat, tulisan berupa ajakan atau yang biasa disebut dengan persuasi. Tulisan persuasi merupakan tulisan yang mengajak pembaca untuk melakukan sesuatu. Tulisan persuasi masuk ke dalam kategori fiksi dan non-fiksi. Sama seperti tulisan deskripsi, jika penulis mengajak untuk membeli suatu produk olahan susu, maka tulisan itu berupa tulisan non-fiksi.

Di sisi lain, jika penulis mengajak pembaca untuk memercayai suatu teori konspirasi yang belum jelas, maka tulisan itu masuk ke dalam kategori fiksi. Tujuan utama tulisan persuasi ini untuk mengajak dan memengaruhi pembaca agar nanti pembaca dapat mengikuti suatu tren. Istilah gampangnya, tulisan persuasi sebenarnya identik dengan iklan.

Kelima, tulisan narasi yang biasanya ditemukan pada karya sastra fiksi. Sebenarnya, tulisan yang berupa narasi ini tak selamanya ditemukan pada karya fiksi. Tulisan ini juga bisa ditemukan dalam tulisan non-fiksi di koran atau majalah. Seperti yang kita tahu, karya sastra selalu menjabarkan mengenai tokoh yang sedang menjalankan aktivitas. Dalam karya sastra juga selalu menggunakan istilah hari, jam, dan waktu, sehingga sudah dipastikan karya sastra tersebut memiliki keruntutan peristiwa.

Namun, bagaimana dengan tulisan narasi yang ada dalam koran dan majalah? Sebenarnya, ketika kita sedang membaca berita yang sedang membahas mengenai kecelakaan lalu lintas, secara tak sadar kita sedang membaca sebuah narasi. Hal itu bisa dikatakan demikian karena dalam setiap narasi pasti terdapat pelaku, peristiwa, waktu, serta pokok pembahasan yang sedang dibahas. Sehingga, narasi yang dijabarkan menjadi sebuah fakta dan bisa ditemukan kebenarannya.

Nah, dari kelima perbedaan kepenulisan di atas seharusnya dapat membantu para penulis untuk merencanakan hasil tulisannya. Sebaiknya, sebelum penulis mencurahkan ide dan fakta dalam tulisan, penulis dapat memilih tujuan dan sasaran tulisan tersebut. Jika penulis sudah bisa menentukan sasaran dan tujuan komunikasinya, maka dijamin penulis bisa melancarkan segala aksinya dalam bentuk tulisan.

Tak hanya penulis saja, pembaca yang nantinya telah sampai pada halaman terakhir buku akan memiliki sebuah pandangan baru terkait hasil tulisan penulis yang sudah direncanakan sejak awal dengan matang oleh penulis. Singkatnya seperti ini, jika penulis menghasilkan tulisan argumentasi, maka pembaca akan terpengaruh dengan sanggahan penulis. Kemudian, jika penulis menghasilkan tulisan eksposisi, maka nanti pembaca dapat mengikuti prosedur atau tahapan penulis dan begitu seterusnya.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini