Duduk bersama dan minum segelas kopi sambil menghisap satu batang rokok di warung kopi. Katanya, aktivitas itu adalah kenikmatan dalam tradisi mahasiswa. Sambil tertawa bahkan bernyanyi riang dengan lagu ala Ikhsan Skuter.

Sebagian orang tak jarang juga duduk berdiam sekadar untuk menatap gawai berjam-jam. Bahkan, ada yang berkumpul mendiskusikan cara jitu untuk menyukseskan suatu acara.

Tak banyak terlihat para pemuda cemasan membincangkan situasi di tengah negeri yang berkecamuk ini.
Sudahlah, warung kopi sudah tak seindah dan senyaman dulu.

Membaca buku di warung kopi terlihat sebagai aktivitas yang asing. Ternyata, keluhan itu memang tak lazim lagi. Akhirnya, narasi ini menjadi kelaziman bagi kita semua.

Konon, tempat itu dijadikan kampus pertama oleh mahasiswa. Pengertian tersebut lambat laun terkikis zaman dan waktu. Memang warung kopi semakin banyak, namun aktivitas di dalamnya tak sebanding dengan harapan.

Ruang itu telah hampa, hanya menimbulkan kesedihan dan kegelisahan tak bertuah.

Aku masih ingat masa lalu ketika warung kopi dijadikan ruang untuk memperdebatkan segala hal. Mulai dari ideologi hingga stategi dan taktik.

Semua bebas menyampaikan suaranya, tidak ada pembatasan atas suara itu.Saat warung kopi dijadikan ruang debat, ia seumpama ruangan yang menyimpan suara paling mulia.

Saling berbalas retorika hingga berbusa demi menerangkan konsep tentang keberpihakan, seolah esok adalah hari revolusi. Bahkan, ruangan itu memberikan mimpi yang tak berujung.

Parahnya lagi, ruangan itu sedang memproduksi Munir baru, Rosa Luxembreg baru, Che Guevara baru, Seokarno baru dan sosok-sosok baru lainnya.

Semangat itu tetap menjadi kobaran api yang menghidupkan ruangan. Malang yang dikenal sebagai kota dingin, lantas menjadi panas melebihi Surabaya.

Sebab, gairah anak mudanya yang selalu bergelora. Bahkan, api semangat meyulut mereka untuk turun aksi.

Bukan sekadar aksi massa, melainkan benar-benar menerapkan teori yang sebelumnya telah diperdebatkan oleh mereka.

Bukankah setiap zaman memiliki sejarah yang berbeda? Kita semua harus menghargai zaman itu. Sebab, di waktu yang sama terdapat pemikiran manusia yang terlibat di dalamnya.

Itulah salah satu hal yang membuktikan kita sebagai manusia sesungguhnya. Maka dari itu, wajib hukumnya untuk menghargai dan tidak merendahkan zaman, karena memiliki keistimewaannya masing-masing.

Biarkan sejarah yang menilai, bukan kita yang hari ini menjadi subjek dari sejarah itu.

Ruangan itu tidak seperti dulu lagi, kosong sama sekali.Tidak tercium aroma pengetahuan yang kritis dan menggugah keyakinan akan perubahan.

Bukankah ini soal kondisi, bung & sus?! Tentu, pendemi membuat semua berubah sedemikian rupa. Gagap menghadapi bencana dunia ini.
Setidaknya, alternatif akan dimulai dengan metode daring—metode yang tidak mudah.

Cara-cara ini dilakukan agar tetap melakukan diskursus pengetahuan. Pada akhirnya, kelemahan dominan yang hadir dibanding kelebihan.

Akan tetapi, kita harus beradaptasi. Sialnya, para penguasa tak berani mengambil keputusan yang benar-benar real—seperti negara di luar sana yang sigap menanggapi hal tersebut (walaupun tidak semuanya).

Anjurannya adalah cukup sabar dan taati protokol kesehatan. Ini ujian dari ciptaan Tuhan yang umatnya harus bersabar.

Sedih rasanya mendegar itu. Semua suara-suara itu bertebaran hingga membuat perasaan menjadi bosan. Pengetahuan mandek dan ekonomi tak kunjung membaik.

Padahal, warung kopi menjadi salah satu alternatif dari tembok beton ruang kampus. Sebab, kita menyadari betul bahwa ruang kampus hanya sekadar penawaran pengetahuan untuk mendapat ijazah.

Selebihnya kita tidak diberikan penjelasan terkait hakikat pengetahuan. Bahkan, bagaimana pengetahuan lahir adalah yang paling utama. Mungkin terkesan tidak memihak pada kampus, tetaapi itulah yang sebenarnya terjadi.

Setidaknya, mimpi akan perubahan memang tidak hanya diawali di warung kopi. Akan tetapi, mari ciptakan kembali suasa di kanal-kanal kecil itu.

Ini akan membuatmu tumbuh menjadi mawar yang terus bermekaran. Tentu, baunya menarik serangga untuk hinggap menghisap madu di dalamnya.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Next articleEksistensi, Puncak Kebutuhan Manusia Terkini
Kontributor Semilir.co | Badan Pekerja Malang Corruption Watch

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here