Film Pendek Indonesia
Sumber foto: Bioskopan.com

Pesatnya perkembangan sinema di Indonesia dan juga dunia membawa dampak positif terhadap film pendek. Kini, keberadaan film pendek Indonesia semakin dilirik masyarakat peminat film. Film pendek (web series) mulai memperoleh eksistensi dan diapresiasi oleh berbagai kalangan.

Seperti namanya, film pendek adalah film yang berdurasi pendek. Nggak ada patokan tertentu yang mengatur seberapa pendeknya durasi film pendek, normalnya film pendek nggak lebih dari satu jam (60 menit).

Tetapi beberapa ajang penghargaan film membatasi durasi film pendek hingga menit tertentu, sebut saja maksimal durasi film pendek yang ditetapkan Academy Awards yaitu 40 menit, sedangkan Festival Film Cannes hanya 15 menit.

Namun sayangnya, film pendek sering dianggap minor oleh banyak orang. Karena durasinya yang cepat, film pendek dirasa cuma jadi bahan eksperimental di mata kuliah atau pelajaran di sekolah dan kampus. Selain itu, jarang banget film pendek tayang di layar lebar atau bioskop, efeknya orang-orang awam sulit mengikuti perkembangan dari judul dan karya-karya baru film pendek.

Padahal, kalau kita amati lebih dalam dan dari berbagai sisi, film pendek punya banyak pesona yang nggak kalah dari film panjang atau film biasanya.

 

Efisien Waktu, Efektif Dampak

Film, baik panjang maupun pendek, terdiri dari dua unsur, yaitu unsur naratif dan unsur sinematik. Unsur naratif berkaitan dengan aspek cerita seperti penokohan, alur cerita, latar dan tema, sedangkan unsur sinematik lebih kepada aspek teknis seperti sinematografi, editing dan suara dalam film.

Durasi film pendek yang sebentar ini tak jarang jadi tantangan bagi pembuatnya. Karena, bagaimanapun, dengan keterbatasan waktu tayang, film harus memuat keseluruhan cerita yang berkesinambungan, jadi audience yang menonton bisa memahami pesan apa yang ingin disampaikan dari film pendek tersebut.

Maka, banyak film pendek yang menyajikan pesannya secara nggak langsung atau implisit, yaitu dengan cuma menyajikan montase adegan pokok yang dianggap mendukung jalannya film. Hal ini yang kadang-kadang bikin penontonnya kesulitan menyatukan puzzles dalam cerita. Jadi, mau nggak mau, penonton harus benar-benar mikir untuk bisa paham ceritanya secara utuh.

Ambil contoh film animasi pendek dari sekolah animasi Prancis, Gobelins, berjudul “Un diable dans la poche” (Sesosok Iblis di dalam Kantong). Film dengan durasi 5 menit 40 detik ini mengangkat topik bagaimana tujuh orang anak kecil harus menanggung beratnya rahasia karena menyaksikan pembunuhan berencana seorang borjuis.

Di film ini, salah satu dari tujuh anak itu, Auguste, nggak kuat menanggung rahasia mereka. Meski diiming-imingi cantiknya berlian, Auguste tetap ingin memberitahu dunia kalau telah terjadi pembunuhan tersebut.

Selain cerita dan penokohannya yang lumayan gelap, dari sisi sinematiknya pun nggak kalah menarik. Penggunaan gaya ilustrasi seperti buku cerita anak à la gambar krayon dan juga simbol-simbol unik yang dipakai. Contohnya berlian-berlian keluar dari tubuh korban alih-alih darah. Berlian-berlian itu yang dimanfaatkan pembunuh untuk “menutup mulut” ketujuh anak ini.

Siapa yang mengira, cerita dengan gaya “normalnya” untuk anak-anak bisa jadi segelap itu. Jadi, meskipun film pendek ini sebentar banget untuk ditonton, tapi untuk mencerna ceritanya butuh waktu yang nggak sebentar, bagi sebagian orang.

 

Topik Krusial dan Esensial

Film pendek sering juga berfungsi jadi media “kampanye” suatu aksi. Karena tema yang dipilih lebih fokus dan mengerucut atas topik tertentu yang memang acapkali terlewati atau dianggap sebagai hal yang remeh-temeh. Sebaliknya, isu-isu seperti ini bisa membantu meningkatkan kesadaran penontonnya untuk lebih menghargai setiap hal yang eksis di sekitar kita.

05.55 garapan Tiara Kristiningtyas dan Mohammad Azri yang rilis pada tahun 2014 ini contohnya. Film pendek 05.55 menggambarkan aktivitas sehari-hari warga dusun di daerah Bantul sebelum gempa dahsyat tahun 2006 melanda Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan wilayah sekitarnya. Film ini juga berhasil meraih berbagai penghargaan, salah satunya Best Cinematography di ajang Global Short Film Awards tahun 2016.

Konsep yang terstruktur bisa kita lihat dari perbedaan warna yang dipakai di film 05.55. Hampir seluruh montasenya hitam putih dan tanpa dialog, mengilustrasikan kegiatan warga Bantul sebelum gempa. Dan ada jeda hitam setelahnya dengan suara-suara sebagai citra gempa yang terjadi.

Dari film ini, kita bisa melihat betapa normal dan lumrahnya aktivitas yang dilakukan warga; menyapu halaman, memasak, memanaskan motor, sampai suara bayi menangis. Tetapi di suatu waktu, itu bisa jadi hancur lebur sama sekali, tanpa suatu prediksi pun.

Film pendek pada akhirnya mengundang kita merenungkan kembali hal apa yang benar-benar penting, namun seringkali terabaikan keberadaannya.

 

Film Pendek Tanah Air Makin Berkualitas

Selain 05.55, film-film pendek karya sineas Indonesia lainnya juga banyak yang meraih penghargaan di kancah internasional.

Salah satunya film garapan Sidi Saleh berjudul “Maryam”. Film yang mengisahkan seorang Muslim bernama Maryam yang bekerja kepada keluarga Katolik sebagai pembantu. Maryam bahkan harus menyelundup ke gereja atas permintaan majikannya. “Maryam” memenangkan Best Short Movie di Venice International Film Festival pada 2014 lalu.

Kemudian, “The Seen and Unseen” (Sekala Niskala) karya Kamila Andini yang pernah diputar di Busan International Film Festival, Toronto International Film Festival. Film yang mengambil latar masyarakat Bali ini mengisahkan dua orang kembar yang salah satunya meninggal akibat penyakit. Tetapi mereka masih bisa saling berkomunikasi sepeninggal anak tersebut.

Terdapat sisi magis, spiritual sekaligus artistik yang ditonjolkan di dalam film ini. Di tahun 2017, Sekala Niskala mendapatkan Golden Hanoman Award (penghargaan tertinggi) di Jogja-NETPAC Asian Film Festival.

Pada akhirnya, film pendek nggak hanya jadi tantangan bagi pembuatnya. Melainkan juga buat penontonnya. Tapi percaya deh, ada perasaan bangga tersendiri setelah menonton suatu film pendek dan bisa mengerti secara utuh moral yang dimaksud di sebaliknya. Dengan begitu, kita jadi lebih mengapresiasi keberadaan karya-karya film pendek, baik ciptaan sineas lokal maupun internasional.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini