ANAK-ANAK CAHAYA

Tubuh-tubuh di tanah jauh
itu tak dibentuk daging dan darah.
Kecuali semacam deretan angka, igauan berita.
Dalam setiap warta yang kita terima:
khazanah luruh, bangunan rubuh,
eksekusi mati yang tak disiarkan
lewat megafon.

“Apakah mereka para gergasi?”
Tanya seorang anak, “Yang sering diceritakan
pada dongeng-dongeng sebelum perang ini?”

Tapi bermuara dimana tembakan misil, dan
ledakan-ledakan jika ada suatu masa
sebelum perang? Sejak kedamaian
dijarah di jalur itu, mereka sebetulnya belum pernah
lihat serdadu datang tanpa senjata juga lencana.

Anak-anak yang karib dengan perang tahu
mimpi kata yang jauh dari kamus bahasa ibu mereka.
Dan mereka masih tak usai mengais kata yang raib itu: merdeka.
Dari puing batu, jasad beku, selongsong peluru, sejarah palsu, residu waktu.

“Tuhan,  siapa yang menggarisbawahi hidup kami
sebagai kunang-kunang, anak-anak cahaya di tanah sengketa ini?”

“Mereka yang mengusir tuan tanah sendiri
di tengah malam pucat pasi.”

 

DI ETALASE SWALAYAN

Orang-orang berbondong
keluar rumah membuang minyak goreng,
susu, juga air mineral sambil berteriak
lantang di mana mesti berpihak.

Bendera dikibarkan
di tengah plaza, perempatan jalan,
taman-taman, di mana manusia
alpa berteriak lantang, “kemanusiaan!”.

Kerumunan merah padam urung memandang
karyawan resto waralaba sembunyi
di balik hoodie dan jadwal kerja dua
hari sekali.

Ia jalan berjingkit—seperti enggan dituduh
pencuri atau pembunuh bayi.
Ia malu dan, barangkali takut: jika nasib mereka
tak ubah pelacur, tahu sekejap hidup bisa hancur.

Seperti anak-anak nun jauh, di sebuah lahan kecil:
Penuh dalam duga sangka kawat berduri.
Anak-anak itu sibuk menebak siapa di
antara bumi-langit yang bisa ubah nasib mereka hari ini?

Notifikasi obral besar di aplikasi ojek online tersebar:
Seekor duyung memang pernah menjebak
pelaut di hamparan biru sebelum menjelma penjaja kopi,
seorang badut memang pernah menikam anak-anak
di pesta ulang tahun sebelum menjelma resto cepat saji.

“Dengar! Seseorang ingin sembunyikan
jasad-jasad dari jangkauan mata kita ini!”

Etalase swalayan di awal bulan: kebutuhan rumah tangga
berbaris rapi seperti bala tentara.

Tapi perang bukan di tanah ini, dan mereka
cuma pegawai, pedagang, juga orang-orang yang hendak
menanggungkan penderitaan serta lelah melihat duka—
tak paham cara angkat senjata, pula mengambil nyawa.

Maka, dengan hati-hati mereka mesti memilih
kebutuhan rumah tangga yang bukan peluru
bedil atau barisan serdadu.

Siapa saja mesti teliti membeli
barang dengan merek ternama,
kecuali ingin menyantap ikan goreng
atau minum susu dari darah-darah bayi
atau jasad yang disusun rapi
tanpa nama di suatu lapang.

Sebab, kini, di etalase swalayan:
kebutuhan setiap orang bisa menyokong perang.
Menjelma sabit sang maut dan tak seorang
pun di sini ingin jadi jagal orang-orang di tanah jajahan.

MAUT

Jangan ambil kehidupan dariku,
aku belum lagi sampai erat menggenggamnya.
Kumohon: kembali, kembali saja ke langit tinggi.
Biar maut milikmu seorang.
Jangan ayun sayap-sayapmu, atau sabit hitam itu.
(Kau tahu kami masih ingin bermimpi, bukan?)
Namun, jika kami mesti mati hari ini, bahkan tanpa sehelai kain
dan adzan, kami tahu engkau akan sudi mengaku
pencabutan nyawa ini ulah Yahudi.

ENSIKLOPEDI PEPERANGAN

Sesaat kakekmu membatu, kau telusuri
garis retak punggungnya: selembar peta,
tanah jajahan, dunia baru tanpa budaya.
Jalan surga menuju cita rasa restoran mewah.

Engkau tak ditakdirkan tunduk
pada tentara sekutu, meski
wajah kolonial berkibar dari atas

kamar-kamar turis mancanegara.
Kau badut di tanah sendiri, mengais
simpati dari tangan-tangan bangsa asing.

Senapan menundukan air wajahmu seperti
misil yang melesap dari atas langit
Gaza, waktu itu—seperti tak pernah usai.
Tak ada ruang untuk para veteran perang, juga
para penjajah yang pesta bedil dan mabuk
senjata api, hanya tersisa: kesia-siaan.

Kau, anakmu, cucumu dan generasi tujuh turunan
adalah generasi pos-kolonial. Ada darah yang tumpah,

ada perang dingin dalam kongres internasional
Persatuan Bangsa-Bangsa. 

Kau berandai memahami nasib anak-anak korban perang
lewat lencana pahlawan di gudang rumah kakekmu.

Tapi kau berandai hidup dalam ketenangan,
berkembangbiak, tanpa tahu rasanya mengharapkan kematian.

Kau bermimpi mengerti
tatanan dunia yang luas
melalui ensiklopedia yang tipis.

Ini darah anak-anak:

Palestina, Suriah, Jepang, Jerman,
Mongolia, Cina, Indonesia, Timor Leste,
Papua. Dunia. Dunia. Dunia.
Negara dunia ketiga. Dan semua manusia.

Penjajahan bangsa & perdamaian dunia, sebuah kalimat yang

tak lagi terlacak sebab-akibat, dan perang
sebuah bahasa yang masih berkembang.

 

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleJaringan Kampung Nusantara: “Sonjo Kampung, Pethuk Kamulyan”
Next articleAlpanya Sisi “Dilan” Dalam Film Ancika: Dia yang Bersamaku 1995
bernama asli Andika Pratama. Lahir di Samarinda pada tahun 2000. Menulis puisi, cerpen, juga esai. Tulisannya pernah dimuat di omong-omong, Kaltim Post, Semilir, dan media lokal pula nasional lainnya. Bukunya yang sudah terbit Memoar Tangan-tangan Beku (2022, kumpulan puisi). Pernah mengikuti antologi puisi Cermin Lain di Balik Pintu Lamin: Lapis Mutakhir Penyair Kalimantan Timur yang diiniasi Ruang Sastra Kaltim, dan Buka Puisi Vol. IX yang diinisiasi Katakerja. Bisa dihubungi melalui media sosial: [at]dikablek

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here