Puisi
Sumber foto: IDN Times

Kumpulan Karya Puisi Muhammad Gufron

 

Demi masa

Setiap peristiwa berjalan dan seterusnya.
Beberapa hal terbagi, beberapa hal telah dikerjakan.
Tentang harapan. Tentang segala kebahagian, dan kemalangan bergantian.

Demi masa
Atau perihal kehidupan dipenuhi oleh nasib.
Segalanya tiada arti, terlebih apa yang didapat?
Dari ibu, melesat anak panah sedemikian cepat.
Awalnya begini, lalu begitu, kemudian menjadi seperti itu.
Demi masa.

YK, 29 Oktober 2019

 

Prahara Kehidupan

Anak manusia. Lahir. Tumbuh.

Besar dan dibesarkan. Bercita-cita.

Anak manusia. Lahir. Tumbuh.

Keras kepala. Egois. Serakah. Tak beradab.

Prahara kehidupan.

Tanah tak tersisa, semakin mahal harganya.

Hutan tak rindang, pembabatan semakin liar.

Sungai tak berair, sumber tercemar.

Laut tak bertepi, biru tak terlihat penuh sampah.

Angin tak berhembus. Panas menghanguskan, dingin, mencekam.

Anak manusia tumbuh menjadi kupu-kupu.

Anak manusia besar menjadi musang.

Serigala menyerupai manusia.

Kota ini panas.

Diamlah. Bila perlu tanpa isyarat.

KJ. 10 Januari 2020

 

Secepat Kamu Hentikan dengan Ciuman

Kepada pertemuan. Malam penuh berkah
Meneguk anggur segelas penuh
Memeluk tubuh yang baru saja rapuh
Tentang hidup dan masa mendatang
Tentang ketidakpastian berlinang keyakinan bercampur hening dan juga kecemasan

“Kamu menyukainya?”
“Tentu saja”
“Apa tidak takut, kalau semua ini akan berakhir?”
“Tidak”

Aku tertawa.
-Ha. Ha. Ha. Ha. Ha-
Secepat kilat, kamu hentikan dengan ciuman.

KJ. 01 September 2020.

 

Bulan November, Dik.

Hujan lebih sering menyapa dibanding bayangan wajahmu
Desau angin lebih sering menghampiri, sedangkan peluk hangat darimu tak lagi ku rasa
Dikala hujan deras tak berkesudahan
Aku lebih memilih menerjang, Dik.
Seluruh tubuh basah
Bukan berarti aku merelakan tubuh ini bahas sebab mencintai hujan
Melainkan, aku tak ada alasan untuk berdiam diri menunggu ketidakpastian

Perihal, kapan hujan dihentikan Sang penurun hujan.

Tak apa, Dik.
Ini bulan sudah seharusnya bergelimang berkah hujan.

SM, 17 November 2021

 

Lorong Penghabisan

-Shella, yang tak lagi dalam pelukan
/1/
Kala itu, semua terjadi begitu saja.
Terlihat, raut wajah mu tak seperti biasa ringan bibir
Aku memahami. Musibah menimpamu masih basah
Dan aku mengerti.
Ku bawa kamu pada keramaian semu ini adalah usahaku
Setidaknya. Langkah meningalkan rumah, kamu bisa menyapa  yang bisa membuat mu sedikit senang dari segala risau.
Walaupun.
Tak ada sepatah kata dari bibir manis mu terucap.
Hanya anggukan kepala, selebihnya senyap.
Dan aku mengerti. Sungguh.

/2/
Semuanya telah lepas dari pelukan.
Tentu saja, aku tak berharap lebih untuk kembali.
melakukan apa-apa saja yang pernah terjadi.
Biarkan. Aku menikmati lorong penghabisan malam ini.
Untuk menikmati kesunyian. Menari dalam gelap malam dengan mata terpejam

KJ,19 Mei 2021

Previous articleDeretan Komik Legendaris Indonesia
Next articlePeluh Petani dalam Lagu Riant Daffa
Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Salah satu pendiri komunitas luaruang. Menulis adalah suara untuk jariku yang diam. Bisa di sapa melalui Instagram @mgufron02

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here