(Fail)usuf

Terlihat menawan dan bijak
Menikmati setiap detik dengan “pergumulan”
Bukan karena apa,
Sebab tak bisa apa-apa
Selain “bergumul”

Terlihat menawan dan bijak
Lenyap dalam ratapan dalam
Lenyap pula dalam kesendirian,
Yang katanya bermakna

Terlihat menawan dan bijak
Katanya mencari kebenaran,
Lari kemana kebenaran!!!
Toh enggak kemana mana

Terlihat menawan dan bijak
Banyak yang berkoar-koar
Koar-koar dalam gua yang tak berpenghuni
Menyatakan diri telah menemukan kebenaran

- belanja buku di sini -

(Boyolali, 9/8/2022)

Keber(agama)an

Sering memakai kaos bertuliskan “Pluralisme”
Di helm kesayangannya pula
Kadang mengutip kata-kata Gus Dur
Ya, sekedar kutip
Biar terlihat keren,
Dan sedikit intel-ek

Kadang juga,
Memepetkan sholat
Namun pandai berdalil
Dan tidak lupa,
Mengutip lagi kata-kata Gus Dur

Kadang berteriak “semua agama itu sama”
Lalu ada yang bertanya “sama gimana?”
Lalu dijawab “sama-sama mengajarkan kebaikan”
Lagi-lagi, muncul tiupan nada yang muncul dari mulutnya
Tidak lain, kutipan-kutipan Gus Dur

Entah cari di mana
Di bukunya kah? Atau dikumpulan quotes tokoh diinternet?
Tidak takut kah? Untuk menjaskan apa yang diomongkannya
Tidak peduli, yang penting terlihat keren walau rokok tetep ngeteng

Tapi, kok berkawan dengan itu-itu tok
Coba main sama kawan-kawan yang lain,

Apakah masih terlihat keren?
Atau malah ingin leren?

(Boyolali, 9/8/2022)

(Stereo)tip(e)

Ceplas-ceplos tidak berdosa
Ceplas-ceplos tidak tau apa
Ceplas ceplos tidak diajak bicara
Ceplas ceplos tak bisa henti

Dengan jujur tapi tak lantang
Dengan ikhlas tapi tak tau malu
Dengan lantang tapi kok subyektif
Dengan jujur tapi kok ga pas

Menghantam batu keras menggunakan microphone
Tanpa microphone pun tetap tegas, walau suara habis
Menyudutkan, mencaci, membedakan, mempertegas, ah apapun itu
Jangan sampai lupa diri, bahwa anda sedang berdiri
Jangan berdiri, jika anda masih lupa diri

(Boyolali, 10/8/2022)

Cacian Si Kurcaci

Dibalut kerinduan yang sangat menyesakkan jiwa
Seakan jiwa ini telah habis dihirup udara
Tak ada semangat, tak ada kata, tak ada laku
Menjunjung tinggi kemerdekaan
Tiada hati dalam berbuat
Tiada cermin untuk melihat
Yang ada angkara murka tertanam di dada dan lisan

(Boyolali, 10/8/2022)

 

Pu(isi)

Mendayu-dayu
Bahasamu
Sulit dipahami
Lantas Mengapa?
Tak apa
Celotehmu nan indah
Toh tidak tau maksudnya
Tapi mahal, hargamu
Makna, katanya
Kita dipaksa mengmabil makna, ya
Tapi bagaimana? Aku tak tahu
4 baris, umumnya dikau
Bagi si pandai, kau penuh makna
Bagiku, kau tak lebih untaian kata yang njlimet
Tak cukup hanya membacamu
Cukup waktu pun tak cukup
Katanya butuh perenungan untuk menguraimu
Tetap saja, bukan makna yang kutemui

(Semarang, 14/9/2022)

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleKeselarasan Etika Kant dan “Ora Ilok” ala Orang Jawa
Next articleMenemukan yang Hilang dalam Mencuri Raden Saleh
Satrio Dwi Haryono merupakan mahasiswa prodi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Raden Mas Said Surakarta. Dirinya juga penikmat kajian kefilsafatan, keislaman, dan kebudayaan. Dapat dihubungi melalui instagram: @satrioharyono__ dan HP: 08814123592

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here