TUBUHMU ADALAH HARI-HARI YANG DISEDERHAKAN

Setiap bagian tubuhmu
Adalah hari-hari yang disederhanakan
Pagi hari adalah kepalamu
Akan sibuk mengatur sketsa
Tentang perjalanan hingga petang

Siang hari adalah dadamu
Tempat segala kesibukan
Menenun benang mimpi-mimpi
Untuk rumah bagi masa depan
Sebab siang adalah jembatan menuju petang
Juga penentu bagaimana kelak
Dirayakan dengan air mata
Atau pesta bunga-bunga

Menjelang malam adalah hatimu
Kau berjalan pelan
Membawa apa saja
Dari pagi hingga saat ini
Matahari perlahan kemerahan 

Di kaki barat
Orang-orang berbondong menuju rumah Tuhan
Panggilan-panggilan menggema
Hingga ke seluruh penjuru kota
Menyentuh hati manusia yang beriman
Untuk bersujud di kaki Tuhan

Kau bergegas memeluk setengah dunia
Juga setengah akhirat
Tapi apakah benar begitu
Sejenak ada keraguan
Apa yang kau bawa hingga malam ini
Apakah hanya satu perdua dunia
Seperempat akhirat dan sisanya sia-sia

Malam hari adalah bagian seluruh jiwa
Tempat seluruh perasaan berpulang
Segala bentuk wajah
Malam adalah penyesalan
Bagi orang-orang yang sadar
Setelah perjalanan tak membawa apa-apa
Hanya euforia memenuhi bejana
Sedangkan malam diam dalam

Riau, 2023

 

KUN DAN PERMAINAN DUNIA

Kau percaya pada kata Kun
Tapi apakah Kun akan bangun
Jika kau diculik
Oleh seluruh dunia imajinasi
Menjadi tokoh utama
Seperti dalam game
Dimainkan anak muda
Seluruh kendali dikuasainya

Begitulah dunia jika terlena
Bukan dunia menjadi permainan
Tapi kau akan menjadi bahan permainan
Bagi dunia yang kemudian
Kau sebut sebagai kehidupan
Ha ha hi hi

Kun tak akan menjadi fayakun
Jika hanya menatap dari jendela
Tanpa melakukan apa-apa
Mari mainkan dunia ini

Tembak kesedihan
Hancurkan kebencian
Belok kiri jika ada yang iri
Terus lurus dan tabrak basa-basi 

Abaikan seluruh kenyinyiran
Membuatmu berhenti
Seperti itulah kehidupan
Jika kau tak bisa bermain akan dipermainkan
Mati sebagai tokoh lemah
Lalu skormu tak sampai setengah

Riau, 2023

 

DI TITIK YANG JAUH

Semakin aku ingin naik ke permukaan
Tubuhku ditekan makin jauh ke dasar
Aku bagai berada di tempat asing
Udara yang tipis dan gelap
Dadaku sesak
Hidup seakan dalam kematian 

 

Seluruh apa yang hendak kuraih
Seperti ditarik menjauh
Hingga tak menyisakan apa pun
Selain kesedihan dan keresahan
Terus naik ke dasar
Sebagai permintaan paling bara

Sudah lama aku begini
Di kelilingi semu
Semua pintaku ditepis
Jadi debu lalu lenyap dibawa angin
Oh apakah aku yang lelah
Mengaduh dan mengeluh 

Aku sudah berada di titik paling jauh
Di posisi sudah tak tahu
Harus bergerak ke sudut mana
Menempuh sisi laut ini Tuhan 

Akankah hamba telah terlantar
Atau dadaku telah mengecil dari seluruh tabah
Tak tahu yang mana
Entah Tuhan yang marah
Atau aku yang salah
Meletakkan prasangka 

Riau, 2023

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleAlbert Einstein, Makna Kehidupan dan Agama Pengetahuan
Next articleMusim Semi IKA UB: “Maju Serentak, Berdampak Lewat Tulisan”
Riska safitri atau biasa dipanggil Riska. Aktif sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Malang semester 7 jurusan Sastra Indonesia. Hobby nge-gym, suka olahraga beladiri, dan nonton merupakan hal yang paling digemari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here