Hari ini, semakin banyak orang ingin berwisata religi. Mengenal sejarah sebuah tempat peribadatan mungkin akan bisa menambah kekuatan iman.

Membincang wisata religi, Surabaya selain terkenal dengan wisata kulinernya, juga terkenal dengan kekayaaan destinasi wisata religi. Salah satunya Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya atau yang lebih dikenal dengan Masjid Cheng Ho. Siapa yang tidak tahu kebesaran nama Laksamana Cheng Ho?

Bangunan masjidnya yang bergaya khas oriental Negeri Tirai Bambu dibangun sebagai bentuk penghormatan pada Laksamana Cheng Ho, seorang Laksamana dari China yang menyebarkan agama Islam melalui jalur perdagangan.

Mau tahu sejarah dan fakta-fakta menarik mengenai Masjid Cheng Ho Surabaya? Yuk simak artikel berikut ini.

- belanja buku di sini -

Sejarah Nama Masjid Cheng Ho

Nama adalah sejarah, yang bisa terkenang karena kekuatan si pemilik nama. Masjid Cheng Ho Surabaya merupakan masjid pertama di Indonesia yang menggunakan nama Muslim Tionghoa dan menjadi simbol perdamaian umat beragama. Nama masjid ini berasal dari sosok penghormatan pada Cheng Ho, seorang Muslim gagah, tampan, berperawakan tinggi yang pernah berlayar dari China hingga ke pantai Afrika. 

Kedatangan Cheng Ho saat itu disambut baik karena ia menghormati wilayah yang ia singgahi. Ia mempunyai beberapa misi melalui jalur perdagangan, seperti menjalin persahabatan dan menyebarkan ajaran agama Islam. Oleh karena itu, untuk mengapresiasi sosok Laksamana Cheng Ho yang membawa misi baik tersebut didirikanlah Masjid Cheng Ho. Masjid ini sangat legend!

Sejarah Masjid-Masjid Cheng Ho di Indonesia

Pengaruh syiar Laksamana Cheng Ho menyebar di banyak penjuru Indonesia. Hingga akhirnya banyak bangunan Masjid Cheng Ho tersebar di banyak kota. Pada tahun 2002, Masjid Cheng Ho yang paling awal berdiri di Surabaya. Lalu disusul Palembang, juga dibangun masjid serupa. Masjid ini mulai digunakan sejak 2006. 

Selain di dua kota itu, masjid-masjid bernuansa tirai bambu dengan nama Cheng Ho dibangun di kota-kota yang bahkan tidak disinggahi Cheng Ho, seperti di Samarinda dan Balikpapan. Bahkan, di kota yang terhitung di masa lalu bukan kota dagang dan terletak di pedalaman atau di selatan Jawa seperti Purbalingga atau Jember, juga di Deli Serdang dan Jambi. Di antara masjid-masjid yang sudah berdiri, masjid terbesar Cheng Ho terdapat di Banyuwangi, yang satu kompleks dengan pesantren. 

Banyak yang peduli dengan pembangunan masjid Cheng Ho. Dana pembangunan masjid-masjid ini tak hanya mengandalkan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), tetapi dari dari donatur lain, termasuk dari pemerintah daerah dan pengusaha. Di Pandaan, Pasuruan, pemerintah daerah berperan dalam pembangunan masjid Cheng Ho. Di Kalimantan Timur, pengusaha Jos Soetomo yang merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia, sangat berperan dalam pembangunan tiga masjid Cheng Ho. 

Salah satunya yang sudah berdiri di jalan poros Balikpapan-Samarinda. Dua lain, di Samarinda dan Balikpapan. Betapa dashsyat pengaruh kebesaran nama Laksamana Cheng Ho yang benar-benar bisa menjadi contoh kegigihan dan kebaikan dalam menjalankan syiar agama Islam.

Arsitektur Bangunan

Bentuk bangunannya campuran China, Timur Tengah, dan Jawa. Arsitekturnya yang khas dan unik diilhami dari Masjid Niu Jie di Beijing. Sedangkan pintu utama masjid bernuansa Timur Tengah, dan temboknya bernuansa Jawa. Hal ini menunjukkan persatuan budaya yang menyatu, menciptakan perdamaian.

Warna Nyentrik

Warna masjid ini sangat memberi semangat. Dengan melihatnya saja, energy seperti bertambah. Warna masjid didominasi empat warna seperti warna merah, kuning, biru, dan hijau. Dalam kebudayaan Tionghoa, keempat warna tersebut adalah simbol kebahagiaan, kemasyhuran, harapan, dan kemakmuran. 

Kesatuan warna itu langsung menjadi daya tarik tersendiri untuk para wisatawan yang sedang melewati wilayah ini. Selain sangat nyaman untuk beribadah, buat swafoto (selfie) juga cantik. Masjid ini sangat instagramable.

Masjid Cheng Ho Surabaya

Bangunan ibadah megah ini dibangun oleh para pengurus PITI dan pengurus Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Jawa Timur serta tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya. Pembangunan masjid ini dibuat mirip seperti klenteng sebagai wujud penghormatan sosok Laksamana Cheng Ho yang membawa misi perdamaian dan seorang muslim yang taat beribadah. 

Masjid ini sebagai bukti adanya fakta perjalanan sejarah besar seorang Laksamana dari China yang bijak dan jadi teladan. Ketika kamu berkunjung ke Masjid Cheng Ho Surabaya, kamu akan disambut dengan berbagai ornamen dari seni kaligrafi dan aksara China yang menghiasi bagian langit-langit masjid. 

Setiap sudut bangunan masjid ini memiliki makna filosofi seperti atap masjid berbentuk persegi delapan yang menyerupai sarang laba-laba. Adanya unsur delapan yang dipercaya sebagai angka keberuntungan karena tidak memiliki sudut mati. Sedangkan, sarang laba-laba merupakan hewan yang menyelamatkan Nabi Muhammad dari kejaran kaum Quraish. 

Di sudut dinding utara masjid, nampak relief Sang Laksamana dengan miniatur kapalnya yang memiliki arti kalau Cheng Ho ialah sosok pelaut muslim dari China dan utusan perdamaian. Anak tangga di pintu kanan dan kiri masjid berjumlah 5 dan 6 yang menyimbolkan rukun Islam dan rukun iman. Selanjutnya, pintu masjid tidak memiliki daun pintu yang melambangkan bahwa masjid ini terbuka bagi siapa saja.

Alamat Masjid Cheng Ho Surabaya tepatnya di Jalan Gading No. 2, Ketabang, Genteng, atau sekitar 1.000 meter sebelah utara Gedung Balaikota Surabaya. Lokasi yang strategis memudahkan akses para wisatawan atau jamaah muslim untuk menuju ke masjid tersebut.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleRedam Climate Change, Selamatkan Bumi!
Next articleNovel Laut Bercerita, Setiap Langkah adalah Kontribusi
Rindu merupakan seorang researcher, solo traveller, serta pecinta sejarah dan budaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here