Penerjemah
Sumber foto: Pixabay.com

Buku merupakan jendela dunia. Begitulah ungkapan yang acap terdengar oleh mereka gandrung ilmu pengetahuan.

Kualitas sebuah buku tentu terlihat dari manfaat dan pengaturan bahasa yang digunakan dalam penyampaiannya. Secara alami, mata akan menikmati sebuah bacaan ketika bahasa yang digunakan baik dan benar. Hal ini pun berlaku untuk buku dengan orisinal bahasa asing yang diterjemahkan.

Dalam acara dialogIN bertajuk “Si Penerjemah Bahasa dan Hati”, tim Intrans Publishing mengadakan siaran langsung melalui akun Instagram @intranspublishing. Acara ini dilangsungkan dalam rangka memperingati Hari Penerjemah Internasional yang jatuh pada tanggal 30 September lalu. Selain itu, acara ini juga merupakan salah satu dari serangkaian acara lainnya yang dilaksanakan dalam rangka memeriahkan HUT PT Citila yang ke-19.

Dipandu oleh Cindy, diskusi kali ini mengundang seorang penerjemah, yaitu Wawan Eko Yulianto. Beliau merupakan seorang penerjemah, penulis, dosen, juga editor. Kariernya diawali sejak berkuliah di jurusan Sastra Inggris, lalu di akhir masa kuliah mulai menerjemahkan buku dan diterbitkan beberapa bulan sebelum kelulusan, dan berlanjut sampai sekarang.

- belanja buku di sini -
Sumber foto: Instagram @intranspublishing

Banyak dari penulis Indonesia ingin mendapatkan pengaruh dalam karya mereka dari penulis luar Indonesia, salah satunya dengan membaca naskah asli dalam bahasa asing, atau yang sudah diterjemahkan. Oleh karena itu, dalam lingkup literasi, penerjemah memiliki peran penting.

Di dunia penerjemahan adakalanya terdapat persaingan, seperti mendahului penerjemah lain dalam menerbitkan buku terjemahan sebuah buku yang belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Banyak novel berbahasa asing yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dalam penerjemahan sastra, seorang penerjemah tidak harus berkuliah di jurusan bahasa asing, karena kemampuan berbahasa asing bisa didapatkan dari berbagai sumber. Namun, keunggulan dari mahasiswa sastra bahasa asing menjadi penerjemah, yaitu karena mereka mempelajari bahasa asing tersebut, serta karya-karya sastranya.

Dalam menerjemahkan, merupakan suatu hal wajib membaca karya sastra tersebut secara utuh dan keseluruhan, dan bahkan lebih dari sekali. Dengan begitu, pesan yang ingin disampaikan dari suatu karya sastra dapat diketahui.

Setelah diterjemahkan, kita perlu membaca ulang hasil dari terjemahan tersebut. Membaca ulang terdiri dari beberapa tahap seperti berikut ini.

Tahap pertama, yaitu apakah masuk akal atau tidak, runtut atau tidak, penggunaan istilah konsisten atau tidak.

Tahap kedua, dicek kembali, dicek lebih detail, seperti mengurangi penggunaan kata ganti “dia” atau “mereka” dengan menggunakan nama karakter, mengoreksi logika antara satu kalimat dengan lainnya.

Tahap terakhir, pemeriksaan ejaan. Alat bantu utama dalam pemeriksaan ejaan ialah kamus yang bermacam-macam, seperti google translate, kamus konvensional, atau kamus aplikasi. Internet juga dapat digunakan sebagai referensi terjemahan, karena sering kali suatu kata atau istilah dalam bahasa Inggris hanya ada dalam bahasa Inggris dan tidak memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia. Dengan sering membaca penggunaan istilah-istilah melalui internet, kita akan lebih memahami konteks ketika istilah tersebut digunakan.

Sumber foto: Pexels.com

Buku “Teori Sastra Masa Depan” ialah buku yang berisi tentang khazanah baru tentang kajian-kajin sastra yang bisa digunakan sebagai rujukan yang layak bagi akademisi maupun sastrawan di tanah air. Seorang penerjemah akan terbantu dalam menerjemahkan suatu karya sastra melalui kajian-kajian sastra yang ditulis oleh para ahli.

Terdapat sebuah strategi dalam menerjemahkan padanan kata yang tidak ada dalam bahasa Indonesia. Strateginya yakni tetap menggunakan kata tersebut tetapi dicetak miring, atau mencari istilah dalam bahasa Indonesia yang mirip atau setidaknya dapat mewakili padanan kata tersebut.

Indonesia memiliki sebuah lembaga atau organinasi para penerjemah Indonesia, yaitu Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI). HPI memiliki jalur administrasi yang harus dipenuhi ketika seorang penerjemah ingin menjadi anggotanya. Namun, Mas Eko tidak tergabung di dalamnya.

Hal ini menunjukkan, bahwa seorang penerjemah tidak otomatis menjadi anggota HPI begitu saja. Diperlukan proses untuk bisa benar-benar bergabung ke dalamnya.

HPI merupakan himpunan yang selalu memiliki kegiatan yang sifatnya meningkatkan kemampuan penerjemah, seperti workshop penerjemahan iklan dan penerjemahan dari google translate. Dalam menerjemahkan suatu naskah, HPI memiliki standar untuk penentuan tarif terjemahan, sehingga tidak akan ada orang yang memberikan harga terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Mas Eko menyebutkan bahwa penerjemahan merupakan salah satu rukun dalam perkuliahan di jurusan Sastra Inggris. Hal ini berdampak pada seringnya workshop tentang penerjemahan diadakan, dengan mengundang narasumber dari HPI. HPI juga memiliki serangkaian tes sertifikasi yang dapat membantu penerjemah mengetahui seseorang yang sudah layak menjadi penerjemah profesional dan bisa dibayar berdasarkan harga yang standar. Sertifikasi dari HPI sangat memudahkan bagi seseorang yang sedang mencari seorang penerjemah. Hal ini membuat baik penerjemah maupun orang yang sedang mencari penerjemah terasa sangat terbantu.

Dalam menerjemahkan, lebih mudah menerjemahkan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan, bahasa Indonesia ialah bahasa ibu kita, sehingga penerjemah merasa lebih percaya diri terhadap hasil terjemahannya. Sebaliknya, menerjemahkan bahasa Indonesia ke dalam bahasa asing dibutuhkan usaha lebih, seperti memiliki pengalaman berbicara langsung dalam bahasa asing di kehidupan sehari-hari, yang membuat kita memiliki kepekaan bahasa.

Meningkatkan kompetensi seorang penerjemah ada cara dan langkahnya. Pertama, rutin menerjemahkan. Dengan rutin menerjemahkan, kita akan menemukan masalah dan mencari solusi untuk mengatasinya. Kedua, belajar dari orang lain, seperti mengikuti obrolan, workshop, atau membaca buku tentang proses penerjemahan. Ketiga, belajar dari apa yang digunakan orang untuk mengetahui kompetensi seorang penerjemah, seperti mencari tahu Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) untuk penerjemah.

Lihatlah penerjemahan sebagai suatu cara mengembangkan diri. Ketika kita melihat penerjemahan sebagai sesuatu yang perlu terus dikembangkan dan disempurnakan, kita akan terbuka untuk belajar dari orang lain dan mempelajarinya secara semi formal. Menerjemahkan dilakukan sebagai suatu pekerjaan yang selalu ada hal yang kita refleksikan, seperti hal baru apa yang kita plajari dari hal yang diterjemahkan.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleAksara Merasuk Jiwa Jawa
Next articleGapura Surga Raja Ampat di Pelabuhan Rakyat Sorong
Mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang yang sebentar lagi lulus, aamiin!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here