Duo Etnicholic
Sumber foto: MalangSatuID

Setahun setelah me-release album Nandur Kamulyan, Duo Etnicholic mem-publish singleHome” pada 12 Februari 2023. Kemarin pagi saya baru sempat mendengarnya di bus dalam perjalanan ke kantor, tiga hari setelah Redy Eko Prastyo mengirimkannya via WhatsApp. Petikan manis dawai Redy membuka lagu ini, lalu disahut string keyboard dan gebukan drum pada detik ke-45. Anggar yang suaranya mirip Trie Utami menembangkan dua bait lirik berbahasa Inggris:

Blue sky
With the green fields
Everywhere I look around
Feel the God blessing all the time

Butterfly
Pink flower bloom
Oh, it’s so beautiful
Feel the God blessing all the time”

Langit biru, padang hijau, kupu-kupu, dan bunga merah bermekaran. Semua tampak indah di mana-mana, karunia Tuhan sepanjang masa. Mooi Indie? Boleh jadi banyak yang menuding begitu sesudah mendengarnya. Bak lukisan pemandangan elok di Nusantara pada masa penjajahan Belanda, tanpa melukis derita penduduk Hindia Belanda.

Tapi, tunggu dulu. Simak bagian chorus-nya:

I call you home
Sweet home
Where the love’s like the sunshine
Brightens my day so bright

I call you home
Sweet home
We know that our feet may leave
This heart will stay live in here

Nyanyian ini bagai memanggil anak-anak Ibu Pertiwi untuk kembali pulang ke Tanah Air tercinta, di mana sang surya bersinar sepanjang hari. Kehangatan khas negeri tropis yang memanggil langkah siapa pun untuk kembali ke kampung halaman, tempat hati kita semua terpatri.

Sampai bait ini, saya teringat sebuah sajak Rendra, “Doa Seorang Pemuda Rangkasbitung di Rotterdam,” yang sempat dilarang rezim Orde Baru saat akan dibacakan penyairnya di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, pada 1990.  Kisah seorang pemuda desa, lima belas kilometer dari Rangkasbitung, Banten, yang sedang kuliah di Rotterdam, Belanda. Jiwanya kesepian, mengembara di tengah kekerasan atas nama kekuasaan dan ketamakan yang menyerbu desanya hingga Afrika Selatan, Vietnam, India, serta berbagai tempat di dunia yang tak adil ini. “Tanganku mengambang di atas air bersama sampah peradaban/ Apakah aku akan berenang melawan arus?/ Langit nampak dari jendela/ Ada hujan bulu-bulu angsa/… Allah Yang Maha Rahman/ Imanku adalah pengalamanku.”

Di bagian akhir lagu, Duo Etnicholic mengajak kita semua untuk selalu mengingat kekayaan negeri ini. Mereka eksplisit menyebut Nusantara, bukan Indonesia yang belakangan kian terasa absurd sebagai negara-bangsa. Apalagi setelah Richard Eliezer yang dituntut hukuman lebih berat ketimbang istri Ferdy Sambo, kendati telah mengungkap skandal pembunuhan yang diarsiteki seorang jenderal polisi berbintang dua. Absurditas yang juga menohok kita di tengah akrobat para elite politik jelang 2024, dari gerilya presiden tiga periode hingga koalisi “kawin paksa”.

I remember all the time
I remember home
Nusantara
This is my home
This is your home
This is our home

Lengking yodel Anggar semakin mendakik, diiringi riuh berbagai bebunyian instrumen musik. Begitu single ini selesai, saya lama tepekur. Melintas bayangan Bapak Republik Indonesia, Tan Malaka, yang ditembak mati tentara di Selopanggung, Kediri, dalam pelukan dingin kaki Gunung Wilis, pada 1949. Juga 13 teman-teman aktivis korban penculikan pada 1997-1998 yang sampai sekarang belum kembali. Kapankah mereka pulang? Kedua mata saya tiba-tiba basah. Lagu M. Syafei, “Indonesia Subur”, lamat-lamat menggema dalam hati saya. “Indonesia, Indonesia/ Tanahku subur/ Tanah subur/ Ya subur/ Kami cinta kau/ Kami cinta kau/ Sepanjang umur/ Ya umur”.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini