dangdut

Dangdut adalah genre musik yang barangtentu semua orang sempat mendengarnya. Setiap hari kita bisa mendengar dangdut, entah tak sengaja masuk ke gendang telinga, atau menyimaknya dengan serius dan penuh khidmat, bahkan disertai entakan kaki atau goyangan jari. 

Sederet lagu dangdut terbukti muncul dan bergema di mana-mana. Kita tak akan susah mencari di mana lagu dangdut berbunyi. Mulai dari hajat (sunatan, sedekah bumi/laut, mantenan, dll.) yang digunakan untuk meramaikan suasana, menemani pengendara melintas di jalanan, menyemangati tukang potong rambut bekerja, sampai jadi penanda adanya penjual jajanan keliling, dsb. 

Genre dangdut, toh juga bukan barang baru dalam belantika musik Indonesia. Hal ini terang mencandrakan sifat lagu dangdut yang merakyat, mudah diterima komunitas masyarakat, dan memiliki sifat kolektivitas yang tinggi. 

Sebagai budaya populer, dangdut telah menjadi ranah kajian yang amat menarik untuk ditelaah lebih jauh. Dangdut bukan hanya soal pertunjukkan dari panggung ke panggung, menghibur penonton untuk bergoyang diselingi senggakan—satu instrumen penting dari dangdut, lalu usai. Bukan. Dangdut juga bukan sebatas bunyi. Melainkan sudah berkelindan dengan beragam hal. 

Dangdut kiwari telah meluas, mengalami evolusi, baik konstruksi identitas, eksperimentasi lirik dan musikal, distribusi, sampai manajemen. Kerja-kerja melihat dan mencatat dangdut ini tekun dilakukan oleh Michael HB Raditya. 

Perjalanan lagu dangdut secara apik ditulis dalam buku garapan Michael HB Raditya ini, Dangdutan: Kumpulan Tulisan Dangdut dan Praktiknya di Masyarakat. Buku ini menyorot dangdut sebagai genre yang pantas diapresiasi, bukan melulu dipandang sebelah mata. Michael menempatkan dangdut sebagai bagian dari budaya populer yang tak lekang, namun mengalami perubahan dari waktu ke waktu—Michael menyebut dangdut adalah genre yang selalu negosiatif. 

Michael mengamati skena musik dangdut di Indonesia dengan cukup intens. Kehadiran buku Dangdutan adalah bukti hal itu. Dari masa ke masa, geliat musik dangdut terekam dan terpetakan. Fragmen demi fragmen perjalanan musik dangdut—yang terus mencari bentuk—jadi terdokumentasikan rapi. 

“Dangdut dapat mengejawantahkan kebudayaan warga tidak hanya mengenai sesuatu yang adikuasa, besar, dan mapan, tetapi mengenai yang kecil, keseharian, dan rentan,” tulis Michael. Kompleksitas persinggungan musik dangdut inilah yang Michael selidik satu per satu. 

Michael merujuk riset-riset sebelumnya, baik William H Frederick, Lono Simatupang, maupun Andrew N Weintraub, yang menyebut bahwa pembentukan dangdut tidak mudah, banyak aral melintang. Pelbagai cemooh turut dilontarkan banyak kalangan, mulai dari genre kampungan, hingga joget yang diasumsikan mengundang gairah, bahkan seronok. (hlm. 177).

dangdut
Via Vallen menghibur Pekerja Migran Indonesia (PMI) pada peluncuran aplikasi Mobile Remittance (MoRe) di Kedutaan Besar Republik Indonesia, Singapura, Minggu (11/3) [Antara]
Dangdut memang memiliki pergulatan dengan sejarah panjang. Pada tahun 1950-an, musik—ilustrasi film-film dari—India yang masuk ke Indonesia dinamai musik Melayu, sementara grupnya dinamai Orkes Melayu (OM). Kemudian muncul sejumlah besar Orkes Melayu—Pancaran Muda, Soneta, Radesa, dan lain-lain—di tingkat pusat, dan banyak sekali di daerah. Lama kelamaan, itu tersebut tak dirasa tepat. Ini menurut pemaparan Hamid Basyaib (2017). 

Ia lalu menegaskan bahwa mulanya, dangdut adalah nama untuk jenis musik dari kawasan Melayu, khususnya Deli, Sumatera Utara, dengan instrumen pokok gambus (oud), akordeon, biola, dan rebana (bukan gendang). 

“Goenawan Mohamad”, tulis Hamid, “memperkenalkan nama yang segera dianggap pas oleh publik melalui majalah Tempo dan belum dijadikan lema oleh kamus: dangdut—diilhami bunyi alat yang mendefinisikan jenis musik itu, gendang, yang di negeri aslinya disebut tabla.” 

Dulu, pengenalan genre dangdut di Indonesia turut ditopang oleh jurnalisme dan institusi pers. Kini, dangdut pun makin menyebar luas oleh keterbukaan informasi dan media sosial. 

Menggoyang Polemik

Dangdut tak pernah surut dari polemik. Beberapa polemik langgeng dan terus diperdebatkan. Michael membahasakan polemik dangdut di Indonesia dengan cukup objektif, yang lalu menjadi bukti bahwa dangdut selalu dalam bentuk “mencari”, bukan stagnan dan mandek.

 Satu di antara polemik dangdut adalah yang sempat menimpa Inul Daratista. Pada awal dekade 2000-an, Inul mengguncang Indonesia dengan goyang ngebor miliknya. Rhoma Irama, bersama “kerajaan dangdut” yang telah dibangunnya, geram tiada ampun, karena memandang goyangan Inul amoral, terkesan sensual, dan mencemari muruah dangdut.

PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu-Dangdut Indonesia) yang menjadi corong penyebaran ideologis Rhoma dalam membangun konstruksi identitas tentang dangdut, jelas mengecam dan melarangnya. Inul yang baru saja disorot oleh media ibu kota, lantas jadi bulan-bulanan. Namun, banyak juga yang terus mendukung Inul. Polemik menyangkut goyangan Inul menjadi heboh seiring dengan terbukanya kran demokrasi dan kebebasan—setelah lama tersumbat rezim Orde Baru. 

Jika ditilik kemudian, dangdut sejatinya tak bisa jauh-jauh dari namanya goyangan. Dangdut tumbuh bersama goyangan yang makin variatif dan unik. Seperti goyang itik dari Zaskia Gotik, goyang ngecor milik Uut Permatasari, goyang patah-patah punya Anisa Bahar, dan goyang dribble persembahan Duo Serigala. 

Belum lagi kelompok fans yang menyusun goyangan sendiri, nyaris seperti senam tetapi sangat ekspresif-akrobatik. Yang terakhir ini menamai dirinya dengan sebutan Temon Holic. Dangdut rasanya bukanlah dangdut jika tanpa goyangan. Dangdut dan goyangan adalah satu entitas kesatuan. 

Selain goyangan, banyak polemik yang sempat bergulir menyangkut musik dangdut. Persoalan hak cipta lagu sayang yang makin populer oleh Maulidia Octavia—atau lebih akrab disapa Via Vallen—sampai koplo versus non-koplo. 

Ada pula tuduhan Jerinx SID yang menuduh Via Vallen meng-cover lagu “Sunset di Tanah Anarki” tanpa izin. Bila disimak lebih lanjut, gesekan antara Via Vallen dengan Jerinx ini bukanlah gesekan biasa, tetapi gesekan dari dua ekosistem yang beda. Antara logika kolektivitas dari dangdut koplo dan logika individualitas yang termanifestasi oleh musik industri. 

Soal Via Vallen ini, barangkali publik Indonesia masih ingat tentang biduanita kelas atas ini yang instagramnya di-DM oleh pesepakbola kondang untuk ajakan yang tidak senonoh. 

Yang Muda, yang Beda

Pada era sebelumnya, dangdut lebih banyak dinyanyikan oleh kaum perempuan, tetapi kini kaum laki-laki tidak kalah. Para penyanyi dangdut laki-laki atau biasa disebut biduan lanang itu, sekarang merajai papan atas musik dangdut Indonesia. 

Michael menyebut mereka membawa angin segar bagi genre dangdut. Para musisi dangdut itu Ndarboy Genk, NDX AKA, OM Wawes, Guyon Waton, Pendhoza, Denny Caknan, dan Aftershine. Selain Denny Caknan, musisi dangdut di atas mayoritas bermarkas di DIY. Mereka pun mempunyai prinsip musik masing-masing, yang terus mencoba melakukan eksperimentasi yang beda dari ciptaan musik dangdut sebelumnya. 

Ndarboy Genk, OM Wawes, Guyon Waton, dan Denny Caknan lebih menatap Didi Kempot daripada Rhoma Irama sebagai kawah candradimuka. Pendhoza dan NDX AKA pun tampil dengan hiphop dangdut. Namun, ada benang merah yang menyimpulkan mereka sama-sama. Gelombang yang mempersatukan mereka adalah cinta dan bahasa Jawa. 

Michael menyebut ihwal cinta yang nyata menyatukan penonton yang beragam di satu panggung. Tema yang dinarasikan pun beragam; patah hati musabab orang ketiga, uang, tidak direstui orang tua, hingga gagal bersanding karena beda agama. Bahkan ada motivasi pembalasan untuk mereka yang telah menyia-nyiakan cinta. Sungguh kompleks. Kaum muda lantas merasa terwakili di bawah bendera cinta.

Selanjutnya adalah bahasa Jawa. Lagu anak-anak muda itu dalam banyak kasus memakai bahasa ngoko, yang membuat tema patah hati lebih dekat. Walhasil, dangdut baru mengakomodasi ekspresi hal-hal itu dan sukses menjadi medium ekspresi penonton. 

Publik kemudian merasa dipersatukan oleh playlist yang sama. Dangdut lantas jadi pemersatu, dalam cengkok yang merdu, lirik yang mengiris-ngiris, dan goyangan yang jadi pelepas beban. 

Buku ini mengasah kepekaan pembaca melihat-memaknai dangdut, dan menjadi pemantik awal untuk melihat bagaimana dangdut bekerja. “Dangdut bukanlah sekadar musik sambil lalu, dangdut telah menjelma sebagai salah satu budaya di Indonesia,” ungkap Michael. Ya, lihat saja sekeliling Anda. 

 

Judul : Dangdutan: Kumpulan Tulisan Dangdut dan Praktiknya di Masyarakat

Penulis : Michael HB Radiya 

Penerbit : Gading Pustaka 

Cetakan : Pertama, Juli 2022

Tebal : xxx + 302 halaman

ISBN : 978-623-98836-5-2

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleDampak Sampah dan Kesehatan Lingkungan
Next articleMuseum HAM Munir, Jejak Sang Penggaung HAM
Esais dan editor lepas. Pengelola Komunitas Serambi. Kini tinggal di Kartasura, Sukoharjo. Facebook Adib Baroya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here