Sebagai pemimpin bangsa, Bung Karno dikenal dengan peci hitamnya. Baginya, peci hitam menjadi identitas orang yang berjiwa Nasionalis. Ini menjadi unik karena peci dianggap sebagai identitas agama, tetapi Bung Karno melepas anggapan itu dan menyulapnya menjadi identitas persatuan, yang kemudian disebut Nasionalisme.

Pemikiran Nasionalismenya sedikit banyak menuai kontroversi. Lebih tepatnya pada penolakan terhadap penggunaan label Islam pada Negara Indonesia.

Apalagi pada kurun waktu 1950-an, wacana Negara Islam masif digaungkan beberapa partai. Ini lantas menyulut respon Bung Karno pada pidato di Amuntai, 27 Januari 1953 tentang rumusan NKRI yang merenggangkan hubungan Bung Karno dengan beberapa tokoh Islam.

Bagi Bung Karno, jika Islam dipaksakan atau dijadikan sistem negara, akan mendegradasi agama itu sendiri sebagai agama yang sakral.

Pada kutub lain, Bung Karno juga menggebrak dimensi Perempuan. Konteks zaman yang mensubordinasi perempuan dibredel habis oleh Bung Karno.

Singkatnya, selain bangsa, perempuan juga harus merdeka. Tak lain, peran Sarinah-lah yang digunakan Bung Karno sebagai proyeksi kemerdekaan perempuan.

Perjalanan Intelektual Bung Karno dan Keterkaitannya dengan Islam

Lahir dari darah priyayi Jawa-Bali membuat Bung Karno tidak pernah mendapatkan pengetahuan tentang Islam secara mendalam. Perjalanan Intelektual ia dapat melalui pengembaraanya sendiri dengan berdialog dengan tokoh-tokoh Islam sezamannya, antara lain, Haji Agus Salim, Kartosuwiryo, Alimin, Darsono, HOS Cokroaminoto, Ahmad Hassan dan lainnya.

Selain itu, rekam jejak pengasingan Bung Karno juga menjadi pengalaman tersendiri yang juga memengaruhi dimensi sosio-relijiusnya. Misalnya, saat pengasingan di Bengkulu, Bung Karno memutuskan untuk bergabung dengan ormas Islam Muhammadiyah.

Dalam karyanya berjudul Pancasila Dasar Filsafat Negara, Bung Karno memahami konsep ketuhanan melalui beberapa fase gradual kehidupan manusia.

Pertama, ketika manusia memahami tuhan itu adalah angin, air, guntur, dan lain sebagainya. Kedua, persepsi tersebut bergeser pada binatang yang memberikan dampak positif bagi manusia, seperti susu, daging, kulit.

Ketiga, pengalaman kehidupan terhadap apa yang dihadapi manusia, pekerjaan yang dicitrakan sebagai petani membuat persepsi tentang tuhan bergeser pada dzat yang memberikan kemakmuran pada bidang pertanian, seperti, Dewi Sri, Saripohaci, Laksmi, dan lain-lain.

Keempat, setelah mengalami pendewasaan pikiran, persepi terhadap tuhan bergeser pada akal yang menjadi penentu atas apa yang dikerjakannya. Seperti pembuatan bajak, jarum, sabit, kapak, dan lain-lain.

Kelima, fase muthakir manusia yang pada akhirnya dapat membuat teknologi yang “dapat menggeser peran tuhan”. Dengan itu, sebagian orang telah menafikan tuhan atau menjadikan dirinya sebagai tuhan. Segala sesuatu dapat dibikin manusia seperti hujan buatan, petir buatan, dan lain-lain.

Bung Karno melihat realitas keagamaan secara periodik kian bergeser. Corak keberagamaan yang mulanya cenderung doktriner begeser menjadi kritis.

Pergesaran ini juga sejalan dengan pamahaman Amin Abdullah yang termaktub dalam karyanya Studi Agama Indoensia: Pendekatan Studi Agama penghujung abad ke-19 dan pada pertengahan abad ke-20 terjadi pergeseran pemahaman keagamaan, yang dahulu terbatas pada idealitas bergeser ke arah historisitas, dari persoalan doktrin ke arah entitas sosiologis, dari diskursus ke arah eksistensi.

Sebagai founding father bangsa, Bung Karno memerhatikan penuh dinamika keagamaan khususnya Islam di Indonesia. Dalam masterpiece-nya, Di bawah Bendera Revolusi, Bung Karno, upaya mendefinisikan ajaran Islam adalah sebuah jalan ijtihad yang wajib ditempuh dan menuju pada kemajuan.

Upaya rethinking terhadap Islam dipahami Bung Karno dengan harapan agar Islam tidak terlihat kaku, dan dapat terkoneksi dengan zaman. Firman Allah dan Sunnah Nabi tidak akan pernah berubah, namun pemahaman terhadap keduanya akan senantiasa berubah.

Masih dalam DBR-nya Bung Karno, Kemerdekaan menjadi kata kunci dalam proyeksi keislaman menurut Bung Karno. Baginya, agama Islam akan berkembang jika beberapa syarat dipenuhi, seperti kemerdekaan ruh, kemerdekaan akal, kemerdekaan pengetahuan. Berpijak pada trilogi itu umat Islam akan terbebas dari kejumudan, taqlid buta, dan indoktrinasi yang kaku.

Reinterpretasi Islam atau rethinking Islam versi Bung Karno harus dijalankan sesuai dengan konteks zamannya. Penerapan hukum Islam tidak boleh tidak menafikan kemajuan dan fleksibilitas.

Dengan spirit rasionalitas yang tinggi berusaha tidak lebur dalam polarisasi ilmu fiqh dan sikap anti-rasionalisme dengan tetap membawa harmonisasi dan tanggung jawab untuk menjawab tantangan zaman.

Bung Karno sangat menyayangkan jika umat Islam di Indoensia hanya bergumul pada penerapan Islam secara fiqh sentris dengan menafikan realitas sosial kemasyarakatan-keislaman.

Pada sisi yang lain, Quran dan spirit Islam seakan mati dan tidak berkobar dikarenakan kitab fiqh yang dikarang oleh para ulama malah menjadi pedoman hidup, bukan kalam itu sendiri.

Dengan itu, Bung Karno meramalkan masyarakat akan mati dengan sendirinya. Demikian pula masyarakat Islam di Indonesia, karena mereka terlanturkan dalam kitab fiqh saja tidak terbang seperti burung garuda di atas udara-udaranya atau agama Islam yang hidup.

Bung Karno mengajak umat Islam, terutama pada para pemukanya untuk tetap memerdekakan umat Islam dari belenggu pemikiran fatalistik. Dengan membawa keselarasan otak dan hati, antara akal dan kepercayaan, yang dibalut dengan rasionalisme dalam memahami agama Islam.

Maka dari itu, dapat membawa umat Islam pada perjuangan yang memerdekakan, pada ideologi yang merdeka.

Previous articleApresiasi Karya Sastra pada Hari Aksara Internasional
Next articleMenengok ke Barat
Satrio Dwi Haryono merupakan mahasiswa prodi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Raden Mas Said Surakarta. Dirinya juga penikmat kajian kefilsafatan, keislaman, dan kebudayaan. Dapat dihubungi melalui instagram: @satrioharyono__ dan HP: 08814123592

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here