Perayaan
Sumber foto: Anadolu Agency

Usai sudah peringatan hari kemerdekaan bagi republik ini. Peringatan yang dikenal di kampung-kampung di Indonesia dengan sebutan perayaan “tujuh-belasan”.

Penyelenggaraan kegiatan tujuh-belasan biasa dimeriahkan oleh beragam kelompok masyarakat di perkotaan maupun di perdesaan. Baik yang dilaksanakan institusi publik pemerintahan pun oleh institusi sosial kemasyarakatan seperti paguyuban profesi dan RT/RW (rukun tetangga/warga). Begitu hal dengan lembaga swasta seperti perusahaan dan sejenisnya, bahkan komunitas yang tak berorganisasi dan berstruktur pun ikut meramaikan. Semuanya hampir merasakan kebahagiaan dan keramaian dalam memperingati tujuh-belasan agustus ini..

Secara sederhana, perayaan merupakan sebuah acara yang diikuti orang ramai untuk memperingati suatu peristiwa. Sejak dahulu kala bahkan sebelum Indonesia merdeka berbagai peringatan, seremoni atau perayaan telah biasa diselenggarakan, baik peringatan yang sifatnya formal maupun informal.

Ada bermacam jenis perayaan, seperti untuk kepentingan budaya, ritual keagamaan, juga ada yang karena penghargaan pada sebuah capaian dari komunitas sosial, dan tentunya karena mengingat perjuangan dan kemudian melahirkan kebahagiaan seperti perayaan kemerdekaan sebuah negara seperti negeri kita, Indonesia.

Sumber foto: PikiranRakyat (Ket. Festival Budaya Nusantara)

Sejak masa lalu hingga sekarang, seremoni selalu dilaksanakan dengan semarak. Perayaan yang menyangkut kebahagiaan suatu komunitas, organisasi maupun setingkat negara selalu terselenggara dengan gegap gempita.

Demikian peringatan menyangkut individu tak kalah penting dan megah. Acap perayaan itu diadakan secara besar-besaran, misalnya, perayaan kelahiran seseorang yang saat ini dikenal dengan hari ulang tahun. Konon, sejarah ulang tahun dimulai dari masa Mesir kuno sekitar 3000 SM yang diinisasi oleh pemipin Mesir di masa lalu yaitu Firaun. Tradisi ulang tahun ini diketahui dari adanya penanggalan di zaman Mesir kuno yang ditemukan.

Pada zaman Romawi kuno, peringatan ulang tahun hanya diperuntukkan kaum laki-laki, yang mana kegiatan ini hanya diikuti oleh keluarga terdekatnya. Kemudian pada abad 12, kaum perempuan diperbolehkan melakukan seremoni hari ulang tahun. Diduga sejak memasuki abad ke 18 kebiasaan ulang tahun ini merebak ke berbagai penjuru bumi. Ritual hari ulang tahun juga kemudian diikuti oleh warga yang mendiami tanah Nusantara ‒sebelum bernama Indonesia, setelah merdeka dari kolonialisme bangsa asing khususnya Eropa.

Kini, pernak pernik perayaan untuk memperingati ulang tahun individu, ulang tahun sebuah daerah dan negara ataupun kegiatan yang bernuansa ritual budaya dan keagamaan, sangatlah unik, semarak, dan penuh dengan semangat pesta. Mari kita lihat dalam tradisi budaya Jawa, ada Megengan, Suroan, Sedekah Laut, Jamasan Pusaka, bahkan yang sering diadakan masyarakat di kampung, yaitu selamatan.

Sumber foto: Istana Catering (Ket. Menu makanan saat selamatan)

Peringatan itu di masing-masing kampung beraneka ragam jenis dengan nama tersendiri, misalnya ritual Safar yang diyakini sebagai tradisi tolak balak. Ada pula selamatan Rebo Wekasan yang dilakukan dengan beragam cara di berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, ada yang dikaitkan dengan selamatan desa, selamatan kampung dan sejenisnya.

Kehidupan Indonesia di masa lampau memang tidak bisa dilepaskan dari kekuatan budaya lokal. Lantas budaya itu menjelma menjadi beragam kegiatan perayaan yang sangat  kental pertaliannya antara budaya dan ritual keagamaan. Keadaan inilah membuat beragam perayaan tetap terawat dengan baik, bahkan kalau-kalau masyarakat melangsungkan perayaan dengan persiapan panjang, serta tenaga dan biaya tak sedikit.

Tujuannya sekadar menyelenggarakan perayaan ritual keagamaan dan sosial-budaya di tempat tinggalnya dengan gegap gempita penuh kemeriahan. Tak jarang, jika ada warga yang tidak turut serta saat persiapan dan dalam perayaan dianggap tidak mengerti asal usul budayanya maupun dinilai tidak mampu menjalankan “syariat” adat istiadat dengan baik.

Perayaan
Sumber Foto: Kompas.id (Kirab Budaya Kota Solo saat Memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia)

Pada zaman modern seperti saat ini, ‒yang awalnya diduga akan banyak meninggalkan hal-hal berbau adat istiadat‒ ternyata proses perayaan telah terkomodifikasi sedemikian rupa menjadi alat menyampaikan gagasan, menyampaikan pengaruh. Lebih-lebih perayaan dapat dijadikan alat untuk merengkuh kepentingan sosial, ekonomi maupun politik.

Previous articleMenilik Riwayat Novel Horor
Next articleKeselarasan Etika Kant dan “Ora Ilok” ala Orang Jawa
Pemerhati Demokrasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here