Batik Tulungagung

Hingga tahun 1980-an, perbatikan di Tulungagung (diakronimi “TA”) mencapai periode keemasan (golden periode). Para pengusaha batik yang tersebar di sejumlah penjuru daerah, pada sub-area barat dengan pusat di Kalangbret, sub-area utara yang ber pusat di Majan-Simo, sub-area timur dengan  pusat di Ringinpitu dan sub-area tengah dengan pusat di kampung Mataraman Desa Kauman, maupun sejumlah tempat lain membentuk “jejaring (net working)”, yang dinaungi oleh koperasi batik dengan nama “Batik Tulungagung”, dan disingkat dengan “BTA”.

Demikian kuatnya perbatikan di Tulungagung kala itu, sampai-sampai memiliki Taman Kanak Kanak, yang dinamai TK Batik, perusahaan kain (tekstil) yang juga diberi nama “BTA”, gedung megah untuk perkantoran koperasi dan gedung serbaguna yang dinamai pula “BTA”. Paling tidak, pada tahun akhir tahun 1970-an kami pernah berpentas seni dua kali dalam.dua tahun berturut-turut di gedung BTA itu. Perkantoran dan gedung serba guna yang berha- laman cukup luas itu berada tepat di perempatan jalan pada wilayah Desa Kepatihan dan Kampung Dalem, tepatnya di pojok timur-utara dan di timur-selatan. Lantaran ketenaran koperasi batik (BTA) kala itu, sampai-sampai sebutan “BTA”  digunakan untuk menamai perempatan jalan, sehingga ada  sebutan “Perempatan BTA”. Dalam hal demikian, BTA menjadi “toponimi”, yakni nama atau sebutan untuk suatu areal, yakni perempatan jalan. .

Seiring dengan surutnya drastinya perbatikan di Tulungagung. koperasi BTA pun terkena dampak- nya. Bahkan, memasuki medio 1990-an dan awal tahun 2000-an, kantor Koperasi Batik Tulungagung (BTA) tak lagi menjadi kantor, alias “suwung”. Begitu pula gedung serbaguna dengan halaman yang luas berubah fungsi menjadi “Bank Jatim”. Sejalan dengan itu, nama “Perempatan BTA” pun juga mulai kurang familier di kalangan generasi muda kelahiran tahun 1990-an dan sesudahnya. Kalaupun tahu sebutan “BTA”, namun mereka tidak cukup faham bila sebutan itu berkenaan dengan perbatikan di Tulungagung masa lalu. Dikiranya, sebutan BTA itu berkenaan dengan dunia kuliner.

Setalah cukup lama mengalami kekosongan, pada era Pandemi Covid-19 lalu, gedung ini difungsikan lagi. Namun, bukan lagi untuk kantor koperasi BTA, melainkan untuk usaha baru dalam bidang kuliner. Uniknya, akronim “BTA” masih dipertahankan. Namun kepanjangannya menjadi sangat lain, bukan “Batik Tulung Agung”, melainkan menjadi “Bebek Teman Ayam”. Terkesan semacam “pemelesetan” dari kepanjangan lama, yang sensasional. Mengapa diberi kepanjangan demikian? Ternyata, menu kuliner utama di resto ini adalah ayam goreng serta bebek goreng. Sebagai “sesama lauk”, ayam potong dan bebek potong dipandang “berteman” dan senasib sepenanggungan, yakni sama-sama sebagai calon santapan orang. Dengan perkataan lain, bebek menjadi temannya ayam dalam dunia kuliner.

 

Resto “Bebek Teman Ayam (BTA)” tak setenar bila dibanding “Batik Tulung Agung (BTA)”. Dalam hal keemasan itu, koperasi Batik Tulung Agung (BTA) tereduksikan menjadi suatu usaha kuliner dengan nama “Bebek Teman Ayam (BTA)”. Kini usaha per- batikan di Tulungagung mulai menggeliat bangkit. Namun, para pengusaha batik di Tulungagung tak lagi bernaung dibawah naungan Koperasi “Batik Tulung Agung (BTA)”. Ketika mengalami alih fungsi dari kantor koperasi BTA menjadi resto, maka tak pelak bangunan lama yang usianya telah mencapai sekitar 50-an tahun tersebut sebagian mengalami perombakan – sesuai dengan fungsi barunya.

Jadilah, BTA sebagai lembaga ekonomi kerakyatan yang berbentuk “koperasi’ itu tinggal “cerita sukses di masa lalu” mengenai perbatikan di Kabupaten Tulungagung. Suatu memori tentang periode keemasan perbatikan di daerah Tulungagung. Bagi orang-orang yang memiliki memori tentang itu, mereka adalah  generasi yang kini telah memasuki usia setengah baya ke atas, karena mereka sempat mengenyam era keemasan perbatikan Tulungagung. Suatu peristiwa yang telah sangat lama, satu hingga setengah abab yang lampau.

Mereka yang tak mempumyai memori tentang itu, plesetan dari kepanjangan lama “BTA (Batik Tulung Agung)” menjadi “BTA (Bebek Teman Ayam)” adalah hal biasa,. Namun, bagi yang memiliki memori tentang itu, pengubahan kepanjangan akronim tersebut dirasakan sebagai reduksi makna, plesetan kepanjangan, yang cuma mengejar sensasi publik.

jika ada yang memiliki foto lama tentang
kantor koperasi BTA, dimohon berkenan
untuk di-share-kan.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleBocah Dari Surga, Kontroversi Al-Azhar, Dan Omong Kosong Demokrasi Mesir
Next articlePenulis, Dunia dan Pekerjaan Menulis
Dwi Cahyono adalah pria kelahiran Tulungagung, 28 Juli 1962. Kini sedang menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Universitas Airlangga, Surabaya. Salah satu karyanya adalah Arkeologi Sejarah Kalimantan di Situs Muara Kaman. Dia aktif dalam gerakan peduli peninggalan situs budaya kuno di Jawa Timur. Ia juga mengajar di Universitas Negeri Malang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here