The Boy And The Heron

Apanya yang bagus dari The Boy And The Heron?! Animasi magis ala Ghibli, oh ya jangan diragukan lagi. Selain itu, apa? Cukupkah, sekedar berkata bahwa itu bagian dari kelebihan The Boy and The Heron.  Pada awal cerita, Mahito yang sudah pindah ke desa pedalaman di Tokyo, setelah ibunya lama mendiang bangun dari tidurnya. Di jendela kamar, seekor Bangau menclok mengipakkan sayap, dan rontok di lantai kamar Mahito. Sebelum bangau itu pergi, ia berkata, Mahito, tolong aku, kendati Mahito abai dan terlihat tidak mendengar.

Apa yang coba disampaikan oleh Bangau itu? Ilusi dan kebohongan. Setelah pada suatu waktu, akhirnya Mahito main jauh ke luar rumah dan menemukan Menara tinggi menjulang. Di Menara itu, ia masuk ke dalam lubang bawah tanah, dan masuk ke dunia lain. Seperti pada pertemuan pertama, dialog antara Mahito dan Bangau, si Bangau itu kembali menipu Mahito. Bangau berkata, ibu Mahito masih hidup, sementara kita tahu, penonton dihadapkan pada adegan pertama film – kematian Ibu Mahito, yang dilalap api dalam kebakaran Rumah Sakit.

Bagaimana mungkin Ibu Mahito bisa hidup kembali, sementara jasad ibunya yang terbakar tampak jelas di depan Mahito sebelum akhirnya sang Ibu menjadi Abu. Pertama kali Mahito masuk ke dalam Menara penghubung ke dunia lain itu, ia diberikan kesempatan untuk menyentuh ibunya yang sedang berbaring membelakangi kursi. Mahito menghampiri, memanggilnya, lalu menyentuhnya. Tapi ternyata, itu bukan si Ibu, melainkan manekin dari air yang dibuat oleh si Bangau. Bangau berkata, Mahito salah menyentuhnya, hampir saja manekin itu sempurna. Mahito dibohongi untuk kali ketiga, tapi ia tetap pecaya. Apakah Mahito bodoh? Tidak, Mahito memang sudah mengetahui itu kebohongan, tetapi ia ingin melihat.

Kebohongan, sejenius dan seindah apapun, bukan untuk dihindari. Dengan segala ilusi dan fantasi kepalsuan yang ditawarkan kebohongan dalam narasi si Bangau, Mahito berani menghadapi. Kebohongan dibiarkan terjadi apa adanya, dalam kondisi setengah berharap, setengah curiga. Kebohongan dan ilusi yang dihadapi oleh Mahito, melalui Hayao Miyazaki, dibentuk bukan sebagai drama, melainkan seolah menjadi bagian dari jalan kehidupan, yang, mau tidak mau kita harus melangkahinya. Kebohongan bukan lawan dari kebenaran, tetapi kebohongan adalah bagian dari kebenaran itu sendiri.

Sampailah Mahito pada harapan-harapan lain, ilusi yang lain, kebohongan yang lain, yang ada dalam dunia “atas”.  Mengapa begitu luwes Mahito menghadapi masalah ini, barangkali ada adegan yang menjadi penanda alasan. Momen dimana ketika tanpa sebab jelas, Mahito memukul kepalanya sediri di tengah jalan sampai semaput. Penjelasan adegan ini tidak jelas, sehingga scene dalam kondisi terbuka. Barangkali adegan ini menjelaskan, kehilangan Mahito di dunia nyata tak terperi. Seberapa hebat, anggun dan cantiknya, seorang Ibu tiri, ia tetaplah tiri, tidak lebih jauh dari sekedar pengganti. Mahito, belum menerima penuh Ibu Tirinya, sebagai ibu yang baru.

Ibu tiri, keluarga baru, halaman baru, kumpulan nenek-nenek dan ihwal lain yang belum pernah ada dalam hidup Mahito yang sebelumnya masih dianggap asing. Oleh Mahito,  kebaharuan hidup, lembar baru yang tampak dalam dunia lain, bisa menjadi dunia pelarian, tetapi dalam waktu yang sama, ia menakar rasa kehilangan dan rasa sakitnya untuk melawan dan menerima memori serta segala kemungkinan yang akan hadir di masa mendatang. Berlari, berlari, berlari, hingga ia terbiasa dalam fisik yang prima dan mental yang kuat meliha segala bentuk kemungkinan dalam kehidupan.

Apa yang baru? Penonton boleh menerjemahkan sendiri .Kendati sebenarnya, saya melihat film ini seperti Inception-nya Christoper Nolan. Masuk ke mimpi, ada pintu lain menuju mimpi lain, masuk ke mimpi lagi, terus bermimpi, sampai pada akhirnya batas antara mimpi dan kehidupan itu sendiri kabur. Dengan sengaja, Miyazaki dalam film ini, tidak membentuk mimpi itu leluasa, kuat, tapi yang dibentuk Miyazaki adalah mimpi yang mudah menguap. Maka akan sukar, misalnya, dalam The Boy And The Heron , anda mencari siapa Miyazaki, siapa para nenek tua di rumah Natsuko. Karena ini semua bermain pada memori, bukan konflik karakter

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleIlusi Perjumpaan dan Puisi-Puisi Lain karya Mochamad Chazienul Ulum
Next articleKritik Sastra Antara Jemawa Dan Jemawa
Treveller dan otaku garis keras. Aktif di Persma Inovasi UIN Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here