Dunia modern kehidupan manusia tidak bisa lepas dari ajang-ajang penghargaan di segala bidang. Dalam olahraga, kita bisa menentukan seorang MVP, pemain paling berkontribusi terhadap tim dibuktikan dengan skor atau poin yang ia cetak.

Dalam pendidikan, kita menentukan ranking untuk tiga atau sepuluh murid terbaik, dengan kualifikasi bisa mencapai standar nilai tertentu untuk semua mata pelajaran. Buku ini secara umum membahas ajang-ajang penghargaan yang telah menjadi bagian dari kehidupan manusia itu. Namun dalam bentuk paling kompleksnya, yaitu ajang-ajang penghargaan yang bertujuan mencari bentuk tertinggi estetika dan menunjukkan kerja keras sains manusia, seperti Nobel atau Oscar.

Akan tetapi, di balik motif saintifik atau estetik yang dikemukakannya, ajang-ajang penghargaan tidak pernah lepas dari sisi-sisi ekonomi: bahwa ajang penghargaan tidaklah lebih dari sebuah medium transaksi karya-karya seni dari seluruh dunia. Ajang penghargaan pada dasarnya adalah sebuah pasar seni yang perkembangannya begitu pesat sehingga terus-menerus direproduksi.

Modal kapital bekerja dengan sangat efektif di baliknya, baik untuk membantu produksi, promosi, maupun kehadiran donatur-donatur filantropis. Untuk itu, English berusaha untuk membedah ajang penghargaan secara bulat-bulat, menampilkannya sebagai bagian dari ekspresi kebudayaan manusia yang tak lepas dari dinamika ekonomi dan kekuatan politis manusia.

Buku ini setidaknya dibagi dalam tiga belas bab. Namun, untuk tujuan yang lebih ringkas, saya akan membaginya sesuai chapter atau bagian: masa-masa keemasan ajang penghargaan, industri penghargaan dan keunikannya, permainan dan pemainnya, serta ekonomi prestise budaya global.

Masa-Masa Keemasan Ajang Penghargaan

Satu-satunya ajang penghargaan paling tua dan masih eksis hingga saat ini adalah Nobel Sastra, yang sudah memberikan pialanya kepada Sully Prudhomme pada 1901. Lalu, pada periode berikutnya mulai merambah bidang-bidang lain termasuk sains dan perdamaian.

Namun, kultur penghargaan ini setidaknya sudah dikembangkan sejak masa Yunani Kuno pada Abad Keenam ketika sastrawan-sastrawan berkumpul di balai Kota Athena, menunjukkan kebolehan mereka bersyair dalam festival-festival tahunan. Bentuk kontemporernya kemudian mulai dikembangkan oleh lembaga pendidikan seperti akademi dan perguruan tinggi di Eropa untuk menghargai pencapaian saintifik ilmuan mereka pada abad ke-17.

Meski berkembang sejak lama, ajang penghargaan adalah bentuk ekspresi budaya yang kontradiktif. Seniman dan ilmuan sama-sama berpartisipasi untuk mendapatkan pengakuan dalam masyarakat yang lebih luas, namun bukan berarti kerja mereka sebagai seniman atau ilmuan hanyalah untuk mendapatkan penghargaan.

Ajang penghargaan kemudian menciptakan situasi saat pekerja seni hanya dapat dinilai dari berapa banyak penghargaan yang ia dapat, berapa banyak piala yang ia raih sebagai hasil dari pengakuan masyarakat terhadapnya.

Meski begitu, ajang penghargaan tidak dapat dipandang sebagai musuh kebudayaan karena sudah menyeleweng dari tujuan aslinya, namun dapat ditemukan kesinambungannya dengan praktik budaya lain serta menjadi cara untuk memahami budaya manusia secara lebih baik.

Setelah lahirnya Nobel sebagai ajang penghargaan paling besar dan megah hingga saat ini, muncul pula Nobel-Nobel lain yang berupaya untuk tidak hanya berkompetisi dengan Nobel asli sebagai ajang penghargaan paling bergengsi di wilayahnya, tetapi juga menghimpun bidang-bidang kesenian lain untuk masuk ke dalamnya.

Logika proliferasi ini ditandai dengan dua hal, yaitu to imitate (meniru) dan to differentiate (membedakan). Artinya, semua orang berlomba-lomba menciptakan Nobelnya sendiri, namun berbeda dengan menonjolkan cakupan wilayah yang ia ambil (internasional, negara, dan regional) dan bidang budaya apa yang ia berikan apresiasi.

Hingga akhirnya proliferasi ajang penghargaan mencapai puncaknya pada periode 1970-an, yakni ketika muncul banyak ajang penghargaan untuk seniman visual, meskipun keberadaan Oscar sebagai penghargaan film dunia terbesar sudah dimulai sejak 1929.

Kemunculan ajang penghargaan untuk hiburan di televisi mendorong perubahan maknanya menjadi lebih jauh, menjadikan ajang penghargaan itu sendiri sebagai hiburan. Maka muncullah bentuk-bentuk anti-prize, parodi atas Nobel, Oscar, atau penghargaan lainnya.

Mereka memberi penghargaan untuk temuan-temuan sains yang paling konyol, akting-akting paling buruk, hingga pekerja seni sendiri pun tidak mau menerima penghargaan itu karena akan mempengaruhi posisi mereka di masyarakat.

Namun, keberadaannya yang semakin banyak dan menyimpang bukan berarti ajang penghargaan mencapai titik jenuhnya. English meyakini bahwa keberagaman itu menunjukkan fleksibilitas, dan semakin beragam ajang penghargaan yang muncul (beserta parodinya) maka akan semakin kuat pula masyarakat kita menggunakan instrumen pembuat perbedaan itu, antara imitasi dan diferensiasi.

Pasar film dan musik juga dapat terus-menerus dieksploitasi dengan investasi yang besar pada jenis penghargaan yang tidak terlalu serius sifatnya.

Industri Penghargaan dan Keunikannya

Meskipun membuat ajang penghargaan adalah hal mudah karena keunikannya yang tak terbatas, bukan berarti penghargaan itu akan terus hidup. Apresiasi terhadap modal-modal simbolis semakin besar, seniman-seniman baru juga bermunculan, namun ada ajang-ajang penghargaan yang mati dan tidak berlanjut lagi.

Karena pada dasarnya ajang penghargaan adalah investasi, membutuhkan modal kapital yang cukup besar tidak hanya untuk hadiahnya, tetapi juga promosi, publikasi, dan operasional. Oleh karena itu, modal sosial dengan fungsionaris-fungsionaris kebudayaan menjadi penting, dan jaringannya dengan lembaga-lembaga pendidikan atau seni selalu menjadi tempat bergantung.

Dari lembaga-lembaga itulah muncul seniman atau akademisi berkompeten untuk menjadi juri dalam ajang penghargaan. Kebanyakan dari mereka tidak dimotivasi oleh uang, tetapi cinta kepada seni (secara ideal), kewajiban pada individu atau organisasi, hingga keinginan untuk mendapatkan reward sosial atau simbolis.

Meskipun hadir sebagai individu, juri memegang kekuatan simbolis untuk menjadi ikon dari sebuah penghargaan, menunjukkan kapabilitasnya sebagai profesional, hingga latar belakang pendidikan atau karya yang mentereng.

Juri kemudian tidak dapat asal dipilih kecuali dikenal baik oleh masyarakat, meskipun pada akhirnya mereka juga tidak selalu memiliki pengaruh besar dalam pemilihan pemenang atau penerima hadiah.

Selain juri, instrumen ajang penghargaan lain yang tak kalah penting adalah piala; ini yang mungkin terlewat oleh ilmuan-ilmuan sosial, terlalu berfokus pada aktor-aktor penting atau interaksi dan transaksi di antara mereka. Bahkan, piala adalah bentuk interaksi sekaligus transaksi tertinggi dalam ajang penghargaan, menunjukkan nilai-nilai simbolis yang menjadi representasi dari estetika atau pencapaian saintifik tertinggi.

Namun, piala juga adalah karya seni di mana ada seniman yang bekerja di baliknya, dan ajang-ajang penghargaan kadangkala terlalu gengsi untuk menunjukkan bahwa pialanya adalah karya pabrik, diproduksi secara massal. Belum lagi, setelah piala-piala itu berpindah tangan dari pemenang dan diwariskan kepada keluarga atau kerabat, mereka menjualnya secara mudah, bersembunyi di balik anonimitas untuk menghindari prasangka masyarakat.

Piala dalam hal ini memegang nilai simbolis, tidak semata-mata material, namun ketika dijual, maka kembali ke bentuk materialnya. Komersialisme piala di luar ajang penghargaan dalam hal ini tidak dapat dilihat sebagai pelanggaran, namun perpanjangan dan penguatan dari nilai fungsi aslinya.

Permainan dan Pemainnya

Ajang penghargaan disebut sebagai panggung drama (play) dan permainan (game) tidak lain karena memfasilitasi fungsi skandal dengan sebaik-baiknya. Bahkan ajang penghargaan tidak pernah lepas dari skandal-skandal di dalamnya: bahwa ada peserta-peserta yang tidak pantas dinominasikan, ada pula yang tidak pantas dimenangkan; bahwa ada juri yang bias dengan sudut pandang tertentu, ada pula juri yang dianggap tidak memiliki latar belakang yang baik.

English menyebut skandal sebagai mata uang, membuat ajang penghargaan semakin tersorot publikasi dan menyebarluaskan namanya di media dengan lebih baik. Secara fungsional, skandal juga berperan merubah aturan-aturan dalam ajang penghargaan dan merubahnya menjadi lebih dinamis, tidak hanya mengikuti perkembangan masyarakat tetapi juga memperluas cakupan wilayah atau bidang penghargaan itu sendiri.

Untuk itu, kritik dalam ajang penghargaan adalah hal lumrah. English menyebutnya sebagai retorika baru, di mana ada bentuk-bentuk seni merendahkan atau mengekspresikan cemoohan dalam seluruh proses penganugerahan penghargaan; baik oleh juri ketika mempertimbangkan kemenangan seorang nominator, oleh pemenang dalam pidato penerimaan, maupun kritik-kritik di luar panggung oleh masyarakat luas.

Secara fungsional, kritik membantu masyarakat untuk menemukan bentuk terbaik, menilai pencapaian apakah ia bisa menjadi wakil kemanusiaan di masa itu. Kritik juga dinikmati lantaran ia menjadi bagian dari permainan, mengizinkan setiap peserta untuk bermain-main dan menentang aturan yang ada.

English kemudian membuat bab tersendiri untuk membahas bahwa “strategi merendahkan” ini merupakan gaya bermain yang lumrah dalam ajang penghargaan budaya.

Mengkritik penobatannya sebagai pemenang dalam pidato penerimaan, misalnya, menunjukkan bahwa pemenang tidak menolak secara khusus nominasi hadiah terhadap dirinya, melainkan untuk memperkuat nilai simbolis dari sebuah piala yang diterimanya.

Oleh karena itu, “merendahkan” hadiah atau ajang penghargaan tidak berarti menyerang institusinya, tetapi bagian dari proses menemukan siapapun yang pantas, yang terbaik, bahkan ketika permainan itu sudah usai dan panggungnya telah ditutup.

Ekonomi Prestise Budaya Global

Setelah membahas berbagai sisi produksi budaya dalam ajang penghargaan, English beralih pada sisi ekonomi yang difasilitasi oleh hadiah atau ajang penghargaan. Hal ini bermula tidak hanya dengan semakin tenarnya sebuah ajang penghargaan melampaui batas-batas teritorial, seperti yang terjadi pada Nobel dan Oscar, melainkan juga menjangkau berbagai bidang seperti sains dan perdamaian (untuk Nobel) atau film-film berbahasa asing dan animasi (untuk Oscar).

Dalam hal ini, globalisasi dan ajang penghargaan saling berkaitan, membuat negara-bangsa tidak lagi memegang peran penting dalam ekonomi prestise dunia.

Argumen utamanya adalah kemunculan “dunia keempat.” Dalam literatur ilmu sosial, ada semacam anekdot bahwa setelah Perang Dingin, dunia dibagi menjadi tiga divisi intelektual: dunia pertama (Barat) dipelajari oleh sosiolog dan ilmu politik, dunia kedua (negara-negara Sosialis) dipelajari oleh studi Soviet, sedangkan dunia ketiga (negara-negara terjajah) dipelajari oleh para antropolog.

Dunia keempat ini kemudian muncul sebagai efek dari globalisasi, menunjukkan kualitas tradisionalnya sekaligus marjinal, namun mampu terhubung dalam ekonomi pasar global tanpa bantuan negara.

Kebanyakan dari mereka mengandalkan pada kekuatan tempat, lokasi penyelenggaraan festival (dalam kasus ini film) dan menjadi lebih tenar daripada negaranya sendiri.

Terakhir, English kemudian mengingatkan kembali bahwa banyak ajang penghargaan adalah bentuk-bentuk komersialisme seni di Eropa, membuat kedatangan nominator-nominator dari berbagai negara tidak lebih dari ajang untuk membuktikan kemanjuran selera Barat terhadap seni dan budaya.

Terlepas dari bagaimana ajang penghargaan dapat diperoleh oleh masyarakat dari negara-negara di dunia ketiga atau kelompok marjinal di dunia keempat, prestise mereka menjadi global setelah hadiah atau piala dari penghargaan itu didapatkan.

Secara umum, pembahasan dan kritik terhadap ajang penghargaan dalam buku ini ditulis secara sangat kompleks, memberikan setiap kasus contoh riil dalam drama ajang penghargaan itu sendiri.

Namun, English mengingatkan di awal bahwa buku ini masih sangat Barat-sentris, di mana setiap ajang penghargaan yang ia sebutkan selalu berada di Eropa dan Amerika meskipun ada pengecualian untuk sedikit pembahasan tentang Afrika dan Jepang.

English, James F. 2005. The Economy of Prestige: Prize, Awards, and the Circulation of Cultural Value. Harvard University Press.

Previous articleTersandung BBM Melambung
Next articleMerawat Cinta Damai Sejak Dini
Fariduddin Aththar, mahasiswa program sarjana di Antropologi UB, Malang. Menulis karya sastra dan lainnya di @diniatkan_murojaah (IG). Hubungi 085648425412 untuk WA.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here