band alt-j

Alt-J menjelma menjadi band yang spesial karena sematan “Shakespearean lyrics” yang dinobatkan kepadanya. Lirik lagu-lagu mereka sekilas menunjukan jiwa dan referensi terhadap sastra Shakespeare karena karya mereka yang unik, puitis, dan menawarkan keintiman tersendiri. Karya mereka bukanlah jenis yang biasa ditemui pada industri musik pop, mereka betul-betul orisinil.  

Band yang terbentuk di Inggris ini mengusung simbol delta yang merupakan hasil kombinasi tombol Alt dan huruf J pada keyboard komputer Mac. Nama Alt-J juga merefleksikan sebuah band indie eksentrik yang gemar bereksperimen melalui musiknya. Anggotanya dipertemukan di Leeds University pada tahun 2008 dan semula bernama Films. Nama Films kemudian berganti karena sudah ada band  lain yang menggunakannya. Selama dua tahun Alt-J berlatih dan pada tahun 2011 masuk ke label infectious records. 

Ciri Khas Musik

Alt-J memadukan gaya musik rakyat yang kental namun terinfeksi oleh gaya pop dan menyuarakan rock alternatif. Karakter ini muncul pada single “Matilda” dan “Fitzpleasure” yang merupakan debut dari album mereka yang bertajuk An Awesome Wave yang dirilis pada tahun 2012. Album tersebut kemudian menerima salah satu penghargaan prestisius yakni Mercury Price, juga masuk ke dalam tiga nominasi Brit Awards. Satu single yang hendak diulas kali ini berjudul 3WW pada album Relaxer yang dirilis pada tahun 2017 dengan format trio yang terdiri atas Gus Unger Hamilton (vokal and piano), Joe Newman (vokal and guitar) dan Thom Green(Drum).  

Kandungan Psikedelik dalam lirik single 3WW

Single 3WW menyingkat kalimat three worn words dengan cara yang simbolik dan misterius. Sensasi yang timbul dari jalinan musik dan vokal yang dibawakan mengajak pendengarnya untuk menikmati pengalaman yang berbeda dan pergi ke alam halusinasi. 3WW menawarkan pengalaman psikedelik yang terefleksikan lewat nuansa musik instrumental yang memadukan musik rakyat maupun rock dengan cara yang unik dan menggunakan lirik yang mencerminkan atmosfir halusinasi yang memikat.

Sepanjang 90 detik lamanya lagu dimulai dengan introduksi menggunakan musik instrumental, menghadirkan ambient yang mengalir dan kian menghanyutkan. Gus-Unger Hamilton memulai nyanyian dengan cerita yang mereka sampaikan lewat lirik yang berbunyi: “There was a wayward lad, Stepped out one morning, The ground to be his bed, The sky his awning”. 

Alt-J menarasikan sebuah kisah, memperkenalkan pemuda yang mengawali sebuah perjalanan tanpa tujuan yang pasti. Pemuda itu akhirnya beristirahat di permukaan tanah antah berantah,  tidur di bawah lindungan langit yang malam itu menjadi satu-satunya tempat bagi dirinya. Penggunaan “there was” menggambarkan permulaan sebuah cerita rakyat yang serupa dengan kalimat “once upon a time” untuk memberikan penekanan yang mistis.

Setelah itu nyanyian beralih dan dilanjutkan oleh Joe Newman dengan suara rendah dan berkarakternya, bernarasi dan menarik perhatian dengan lirik yang berbunyi: “Neon, neon, neon, A Blue moon lamp in a midnight country field, Can’t Surround you lean on, lean on, So much your heart’s become fond of this”.

Joe Newman bercerita secara simbolik lewat diksi “neon” untuk menggambarkan hadirnya cahaya bulan di tengah malam pada tempat sang pemuda mengistirahatkan diri. 

Bagian paling sentimental hadir lewat chorus yang dibawakan Gus-Unger Hamilton dan Joe Newman dengan lirik: “ Oh, these three worn words, Oh, that we whisper, Like the rubbing hands, Of tourists in Verona, I just want to love you in my own language”. Perpaduan dua karakter vokal di bagian ini menghadirkan suasana yang menyentuh dan intens terutama melalui lirik “i just want to love you with my own language” yang dibawakan tanpa iringan musik instrumental, murni hanya dua suara yang memberi kehangatan suasana dan haru. Three worn words merujuk pada “I love you” dan Verona mengisyaratkan lokasi dari patung Juliet, sang kekasih romeo. 

Narasi psikedelik muncul di bagian berikutnya ketika liriknya berbunyi: “Well, that smell of sex Good like burning wood”, dimana sang narator mendeskripsikan sensasi yang ia rasakan dengan cara yang metaforis. Berikutnya tertuang syair yang satir “Love is just a button we press last night by the campfire” yang mendeskripsikan bahwa cinta ibarat tombol yang ditekan begitu saja seperti sebuah saklar.

Dua kalimat tersebut berkontradiksi dengan ungkapan klimaks three worn words dengan tujuan membawa kita kembali pada realitas yang sejatinya tidaklah manis. Duet vokal antara Gus-Unger Hamilton dan Joe Newman kembali terjadi dengan bagian sentimental yang paling menjadi daya pikat di lagu ini.

3WW membawa pendengarnya kepada petualangan yang belum pernah kita rasakan. Musik maupun liriknya menghadirkan sensasi yang unik karena menggunakan referensi sastra yang kental begitu pun kosakata yang puitis dan simbolis.

Alt-J memadukan berbagai unsur musik yang menghasilkan narasi dan musik yang orisinil dan memikat. Three worn words menjadi kosakata yang simbolis, yang digunakan oleh Alt-J untuk merangkum pengalaman maupun cerita yang ingin mereka bagikan untuk ikut kita rasakan. Eksotisme liriknya menguatkan keberhasilan karya ini. Hal itu juga didukung oleh musik yang diolah dengan sedemikian rupa demi menjembatani kisah yang ingin Alt-J sampailkan.

 

Berikut video penampilan lagu 3WW secara live di KEXP:

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous article5 Buku-Buku Parenting untuk Kalian Jadikan Referensi dalam Mendidik Anak! Wajib Baca
Next article10 Aktor-Aktor Film Terbaik versi Semilir
Lintang Pramudia Swara merupakan mahasiswa aktif program S1 Musik di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Saat ini menjadi penulis aktif dari klub jurnalisme musik Aksaratala yang bernaung di bawah jurusan musik kampus ISI Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here