Berangkat Sekolah
Sumber Foto: wartakotalive.com

Bahrul memandangi kendaraan di depannya dengan seksama. Ia mengendarai motor bebek miliknya dengan sangat hati-hati saat hendak mengantar adiknya beerangkat ke sekolah.  Sebab, Ia tidak ingin kejadian 5 tahun yang lalu terulang kembali. Peristiwa pilu itu membuat orang tuanya harus mengganti kerusakan mobil milik orang lain. Kejadiannya begitu cepat, Bahrul hanya menoleh  dua detik ke arah jalan yang berlawanan.

Adik Bahrul, Tasnim, melihat ke sekeliling jalan dengan perasaan kalut. Jadwal masuk sekolah hari itu pukul 06.40 sedangkan arloji yang ia kenakan sudah menunjukkan waktu 06.38. Bahrul menginjak rem dengan mendadak. Ada seorang ibu yang berjalan dengan khidmat nan santuy tiada tara. Helm Tasnim berbenturan dengan helm Bahrul. Ingin keduanya mengumpat, tetapi hubungan darah di antara keduanya menghambat reaksi itu.

Baru saja Bahrul mengangkat kakinya dari pedal rem, tiba-tiba muncul motor berwarna hitam mulus seperti warna rambut pada iklan shampoo yang biasa ditonton Bahrul di TV. Roda kedua motor itu hampir bersentuhan tetapi takdir Tuhan menghindarkan sentuhan maut itu. Bahrul menatap sinis. Begitu juga dengan si pengendara motor hitam.

Tasnim turun dari motor. Jam raksasa di depan beranda sekolahnya menunjukkan waktu 06.54. Bahrul termenung selama 5 detik. Tepat di detik ke-6 ia mencengkeram erat gas motornya untuk melanjutkan perjalanan ke tempat kerjanya.

Kantor masih sepi. Sebagian kawan Bahrul yang tidur di kantor baru saja bangun dari ranjang kumal yang seprainya diganti seperti perayaan kemerdekaan, satu tahun sekali. Bahrul mengambil sapu untuk membersihkan ruang kerjanya. Bu Kholis, perempuan paruh baya yang biasa membersihkan sekitar kantornya setiap pagi masih belum datang di hari itu. Mungkin dia sedang sakit, pikir Bahrul. Mungkin juga ia terjebak macet meski kemungkinannya kecil.

Belum genap 3 menit Bahrul menyapu, muncul notifikasi dari aplikasi berita di ponsel Bahrul. “Mahasiswa Membludak, Jalan  Semakin Macet”, “Ini 7 Kota Termacet di Dunia, Nomor 4 Bikin Kamu Pusing”, “Darurat Kemacetan, Akademisi: Pelebaran Jalan Bukan Solusi,” begitu tajuk utama dari beberapa berita yang ia lihat. Bahrul mematikan layar ponselnya. Tidak ada berita yang cukup menarik baginya. Selain drama tembak-menembak oleh polisi dan pengamen yang masuk istana, baginya hampir semua berita menampilkan masalah yang terus berulang.

***

Jam istirahat kantor masih lama. Bahrul menyesap es kopi sachet yang ia pesan dari warung seberang kantornya. Ia sadar, kemasan plastik yang pada akhirnya akan menumpuk di tanah dan perairan dapat merusak lingkungan hidup. Namun, apa daya, keserakahan segelintir pebisnis yang merusak alam serta kondisi keuangan Bahrul yang kadang kurang mendukung untuk membuat es kopi sendiri dari biji kopi berkualitas membuatnya terpaksa mengkonsumsi minuman sachet.

Mobil berwarna biru dengan 6 jendela dan tiga pintu berhenti di sebelah warung. Keringat membasahi wajah si pengendara. Handuk bergambar logo Manchester United yang dia genggam seolah tak cukup mengurangi basahnya wajah pria berkumis tipis itu. Bahrul yakin, laki-laki tersebut berkeringat karena panasnya cuaca siang itu, meski sebenarnya Bahrul juga curiga, pria berpakaian warna merah itu mengeluarkan peluh karena takut akan omelan istri yang uang belanjanya berkurang setelah ia kalah bertaruh pada pertandingan sepak bola.

“Setoran aman, Pak Yudi?” Bahrul membuka pembicaraan. Ia memang mengenal pria itu. Tiga kali sudah dia bertemu dengannya di warung yang sama.

“Belum, Mas. Kurang banyak. Meskipun sekolah sudah masuk, akhir-akhir ini masih sepi. Belum banyak yang naik angkot lagi,” jawab laki-laki itu sembari membuka botol berisi air minum yang tinggal separuh.

“Mahasiswa nggak pernah naik, Pak?”

“Kalah sama ojol, Mas. Mereka bisa masuk gang-gang kecil. Kalau seperti saya ini kan, trayeknya tetap. Nggak bisa masuk jalan-jalan alternatif,”

“Pegawai kantoran atau buruh pabrik masih tetap pakai angkot kan, Pak?”

“Alhamdulillah, Mas. Disyukuri saja. Kalau buruh pabrik, masih ramai. Apa lagi kalau sore setelah bubaran pabrik rokok. Pegawai kantoran beberapa masih pakai angkot meskipun tambah sedikit. Lebih milih nyicil motor mereka,”

Yudi mengeluarkan ponselnya dan membuka notifikasi yang baru masuk. Bahrul mengintip. “16 Oktober, Chelsea vs MU, Asian Handicap 0:1” begitu isi notifikasi di ponsel Yudi.

“Masih pasang kalau MU main, Pak?” tanya Bahrul.

“Iya, Mas. Buat hiburan. Hidup sudah susah. Harga -harga pada naik. Pemerintah juga nggak memperhatikan nasib sopir angkot seperti saya. Kalau sudah begitu, ini jalan satu-satunya saya bisa bahagia, Mas.”

“Bukannya kalau kalah, Pak Yudi juga rugi, ya?”

“Iya, Mas. Cuma kalau sudah menang, rasanya kayak dapat istri baru, Mas.” Yudi terkekeh.

Bahrul jadi ingat kisah dari salah satu tetangganya yang kenal secara pribadi dengan Walikota tempat Bahrul tinggal sekarang. Si kepala daerah itu memiliki dua istri yang dinikahinya ketika masih menjadi sales buku pelajaran. Kala masih berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lainnya dengan motor yang cicilannya belum lunas, pria itu sudah berani melakukan poligami. Otak Bahrul berusaha menyamakan sosok si Walikota dengan Donald Trump. Keduanya adalah pengusaha sejak muda dan pernah menikah lebih dari satu kali. Bahrul bertanya-tanya dalam benaknya, apa sesungguhnya cara termudah menjadi pejabat publik adalah dengan menjadi individu yang penuh kenekatan dan kebodohan?

Terik matahari berkurang. Yudi sudah hampir selesai melahap satu piring nasi pecel dengan lauk tempe yang dipesannya. Bahrul menatap layar ponsel. 15 menit lagi jam istirahat kantor berakhir. Pikirannya masih berusaha menerka, masalah hidup apa saja yang menimpa sopir angkot di sebelahnya sehingga laki-laki itu mengalami krisis kebahagiaan.

“Sesama sopir angkot apa ada upaya buat menanyakan nasib mereka ke pemerintah, Pak?’ tanya Bahrul yang berusaha menggali informasi.

“Sudah, Mas. Bahkan mungkin sampean pernah tahu aksi dari paguyuban sopir angkot di depan Balai Kota. Sampai sekarang nggak ada tindak lanjut, Mas”.

“Nggak ada rencana alih profesi, Pak?”

“Teman-teman saya banyak yang sudah narik ojol sekarang, Mas. Cuma saya kasihan kalau nggak ada pilihan kendaraan umum selain ojol. Kasihan buruh-buruh itu sama ibu-ibu yang ke pasar, Mas,”

***

Jam sudah menunjukkan pukul 06.30. Bahrul mengendarai motor sekencang-kencangnya. Dia tak ingin Tasnim kembali terlambat datang ke sekolah. Kira-kira 300 meter sebelum bangunan sekolah, ada iringi–iringan mobil dengan sirine yang memekakkan telinga. Bahrul terpaksa menginjak rem. Barisan mobil itu berhenti. Muncul sosok perempuan seusia Tasnim dari salah satu mobil itu. Tepat di pintu lainnya, sosok pria berkacamata keluar dari dalam mobil. Anak perempuan itu bersalaman dan mencium tangan pria itu.

Bahrul mencoba mendekat. Ia mengamati sosok pria yang bergegas masuk ke dalam mobil itu. Wajahnya tak asing. Seperti iklan sedot WC, wajah pria itu memenuhi banyak bahu jalan di kotanya. Si Walikota, Bahrul yakin itu adalah sosok yang sama. Tanpa bisa berkata-kata, Bahrul menurunkan Tasnim dan melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, Bahrul melihat senyuman wajah pria yang sama di baliho besar bertuliskan, “Kurangi Polusi dan Kemacetan, Ayo Jalan Kaki ke Sekolah!”

Previous articleMemaknai Literasi
Next articleRefleksi Demokrasi Abad Ini
Seorang laki-laki yang gemar bicara dan membaca. Hingga saat ini masih berusaha mencintai sesama makhluk hidup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here