Sohib bertanya: “Apa yang gerangan tahu tentang Gus Dur?” Dengan simpel, sohibnya sohib itu menjawab: “E… Gus Dur itu adalah presiden ke-4 Republik Indonesia. Juga, tokohpluralisme, atau gampangannya, dia seorang penyeruperdamaian atau peace.”

Dari jawaban di atas, kita semua memberikan nilai sangatsetuju akan jawabannya mengenai siapa Gus Dur itu. Gus Dur yang bernama kecil Abdurrahman Addakhil, dikenal—sebagianbesar khalayak pada umumnya—sebagai presiden ke-4 RepublikIndonesia dan penyeru perdamaian dengan pluralisme-nya. Maka, atas jasa yang tiada tanding itu, Gus Dur dianugrahisebagai Bapak Pluralisme oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono di upacara pemakamannya di Jombang pada Desember 2009 silam.

Namun, selain itu, ada jawaban yang mungkin bernilaiamat sangat setuju. Yaitu, Gus Dur adalah insan kelas wahid dan tiada tara tandingannya di dunia. Yang tentunya, pada soal initerkait wawasan keilmuannya yang melebihi luas samuderaIndonesia. Saking luasnya, kita sangat sukar untuk menjelajahi, bahkan melampaui keluasan dimensi-dimensi wawasankeilmuan Gus Dur diberbagai bidang: agama, sastra, politik, dan lainnya.

Nah, soal keluasan keilmuan Gus Dur, kita dapat membacabuku bertajuk Prisma Pemikiran Gus Dur. Buku yang bersampulfoto Gus Dur terbitan LkiS ini, adalah bunga rampai yang memuat tujuh belas tulisan Gus Dur yang pernah dimuat di Majalah Prisma pada dekade 1970-1980-an. Buku yang bersampul foto Gus Dur terebut memberikan kita paham ataulebih tepatnya, membuahkan sebuah kebingungan mengenaisiapa Gus Dur. Betapa tidak. Tulisan-tulisan di dalamnya, menjadi pantulan cahaya betapa sangat berwarnanya kapasitaskeilmuan Gus Dur.

- belanja buku di sini -

Mula-mula, kita di antar oleh dua pengantar. Masing-masing, dari Hairus Salim dan Greg Barton. Bagi Hairus Salim, keberadaan Gus Dur dalam Majalah Prisma sangatlah dominan. Majalah Prisma yang kala itu menjadi panggung bagi intelektualbuat menuangkan pikirannya. Menurut Hairus Salim, ada duagolongan yang berkiprah, yaitu para penulis yang berasal darikalangan departemen dan dari kalangan universitas, badan-badan penelitian dan cendekiawan-cendekiawan bebas lainnya. Lalu, di mana tempat Gus Dur?

Sudahlah jelas, bahwa Gus Dur berada sebagaicendekiawan bebas dalam kancah ilmiahnya. Bahkan, latarbelakang dan habitat intelektualnya sangat asing. Ia bukanberasal dari universitas di dalam maupun luar negeri yang terkemuka dalam ilmu-ilmu sosial seperti umumnya para penulisdi Prisma. Pengetahuan mengenai ilmu sosial betul-betul diaperoleh secara otodidak. Tetapi, apakah sifat bebas yang unik-eksklusif dalam pemikiran Gus Dur? Untuk ini, kita harusmemeriksa secara serius artikel-artikel ini dalam kaitannyadengan seluruh artikel yang ada dalam Prisma era tersebut.(hlm. xi)

Selanjutnya, ada pengantar dari Greg Barton. Penulis bukuBiografi Gus Dur sekaligus pengajar di Deiken University Australia itu, menyatakan bahwa, kita begitu “bingungsebingung-bingungnya” dalam memahami pola tingkah dan jalan pemikiran Gus Dur. Banyak kebingungan tentangAbdurrahman sebagian besar berasal dari peran banyak wajahyang dimainkannya dalam masyarakat Indonesia.

Lebih tepat lagi, kebingungan itu berasal dari fakta bahwapada satu sisi Abdurrahman dipandang dan dikenal banyakorang sebagai figur religius dan pada sisi lain ditafsirkan banyakorang, khususnya di pusat-pusat metropolitan dan diantara kelasmenengah terdidik Indonesia sebagai politisi yang sekuler atauintelektual liberal. Dengan bersandar kedua alasan tadi, kesalahpahaman tentang Abdurrahman Wahid berjalan seiringdengan kesalapahaman tentang Barat pada umumnya, yaitubagaimana seseorang yang merupakan intelektual liberal juga dapat dianggap sebagai figur religius dan bahkan pemimpinkarismatik setingkat wali? (hlm. xxii-xxiii)

Berangkat dari dua pengantar di atas, mari kita mulaimenapaki rute pemikiran Gus Dur. Ketujuh belas tulisan Gus Dur di sini, meliputi soal-soal yang bermacam-macam yang terkesan gado-gado. Namun, ada beberapa tulisan Gus Dur yang menarik buat dibincangkan. Diantaranya:

Kita membaca artikel berjudul Mencari Perspektif Barudalam Penegakan Hak-hak Asasi Manusia. Pada awal tulisannyaitu, kita paham bahwa Gus Dur sangatlah galau dengan masalah-masalah pemenuhan hak-hak asasi manusia yang semakinmenjemukan untuk diperbincangkan di negara-negara sedangberkembang.

Selain itu, Gus Dur juga menyoroti penguasa represif di sebagian negara dengan mengagungkan militerisme. Hal itu, adalah asumsi-asumsi yang melandasi kebijaksanaan hak-hakasasi manusia yang dilancarkan Presiden Carter yang waktumengirimkan pasukan Amerika Serikat ke Jazirah Korea dan beberapa negara di Timur Tengah.

Oleh karenanya, mungkin kita bisa menyepakati akanperlunya menciptakan kesadaran massif di kalangan rakyatnegara-negara yang berpemrintahan totaliter akan hak-hakmereka yang fundamental sebagai manusia. Hanya dari sudutpandang seperti inilah baru dapat dimengerti kegunaanperjuangan mahasiswa di satu-dua negara berkembang untukmenumbangkan rezim militer setempat dan pembelaan para pejuang hak-hak asasi manusia. (hlm. 89)

Apa yang diungkapkan Gus Dur, patut kita laksanakan—notabene seorang mahasiswa-aktivitis—untuk melakukanpenyegeran pola piker masyarakat akan pentingnya hak asasimanusia. Dengan itu, pekikan: “Rakyat bersatu tak bisadikalahkan” akan menjadi kekuatan penyatu rakyat buatmenuntut hak-hak asasi mereka atas negara.

Selanjutnya, ada artikel berjudul Nilai-Nilai Indonesia, Apakah Keberadaannya Kini? Dalam tulisannya ini, Gus Dur menyoroti watak masyarakat Indonesia tentang idealisasi nilai-nilai luhur bangsa. Bahwa, watak yang mengidealisir nilai-nilailuhur bangsa meletakkan kesemuaannya itu pada kedudukanyang sangat diagungkan sebagai prinsip pengarah yang telahmembawa bangsa Indonesia pada kejayaan kemerdekaan, dan dengan sendirinya harus akan membawa bangsa kepada upayatak berkeputusan untuk mencapai masyarakat yang adil dan Makmur.

Prinsip-prinsip itu mengambil bentuk “sikap bijaksana” seperti “keserasihan tanpa menghilangkan kreativitasperorangan”, kesediaan berkorban untuk mengorbankankepentingan sendiri untuk kepentingan orang lain, melakukanbanyak hal untuk orang lain tanpa mengharapkan imbalan (sepiing pamrih, rame ing gawe), kesabaran di hadapan kesulitan dan penderitaan, dan seterusnya. (hlm. 102) Karena sikapdemikianlah, bangsa Indonesia menjadi bangsa pencintaperdamaian, sopan kepada orang lain tanpa sedikitk pun menyerahkan diri kepada hal-hal yang mencelakakan, dan sikapbijaksana lainnya.

Dari atas, kita bisa memahami, Gus Dur memandangbahwa demikianlah ciri endimik masyarakat Indonesia. Utamayasepi ing pamrih, rame ing gawe. Makna yang begitu dalam. Kita sering melaksanakan semboyan itu, kita ikhlas membantu dan menolong orang yang mungkin tidak kenal, tanpa mengharappamrih dan balasan kebaikan. Kalaupun ada, itu hanya bonus atas kebaikan kita.

Begitu, buku ini patut kita baca dan baiknya ditelaah. Agar, kita—umpanya generasi muda—bisa memahami bahwa Gus Dur tidak hanya membahas pluralisme. Demikian.

Foto: penulis

Identitas Buku:

Judul ​​: Prisma Pemikiran Gus Dur

Penulis: K.H. Abdurrahman Wahid

Penerbit: LKiS

Cetakan: II, 2010

Halaman: vlviii+242

ISBN ​​: 979-25-5308-8

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleSerenade Melancolique
Next articleMengenal Akulturasi Islam dan Budaya Jawa
Fahrul Anam, berasal dari Mantingan, Ngawi. Bergiat di Lingkar Diskusi "Pencerahan" Kartosuro, Sukoharjo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here