Investasi
Sumber Foto: Pinterest

Berinvestasi belakangan ini semakin diminati masyarakat Indonesia. Berbagai lembaga layanan yang mewadahi investasi pun berlomba-lomba menarik para investor agar menanam modal di layanannya.

Mengingat investasi merupakan hal yang berhubungan dengan perkara panjang untuk hidup jangka panjang tentu tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Diperlukan pengetahuan yang cukup sebelum berinvestasi di lembaga tertentu.

Diskusi pada sore hari itu mengurai ihwal bagaimana mengatur keuangan dan memulai investasi untuk mereka yang sudah berpenghasilan, serta apa saja hal penting yang perlu dipersiapkan. Acara tersebut merupakan diskusi rutin yang dilangsungkan melalui akun Instagram @intranspublishing dengan tajuk DialogIN. Tema minggu ini mengusung “Investasi Pangkal Stabil Ekonomi.”

Dipandu oleh Yogi Fahcri, diskusi hari itu ditemani oleh Riyandi Saras Anggita, seorang konsultan ekonomi yang akrab dipanggil Mbak Ayas.

Sumber foto: Instagram @intranspublishing

Mbak Ayas merupakan seorang lulusan Universitas Brawijaya dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Pertama kali terjun sebagai ekonom ketika berkuliah pada 2010. Saat masih berkuliah, dirinya sempat mengikuti penelitian dosen terkait proyek ekonomi daerah. Hal itu membuat Mbak Ayas tertarik mendalami karena ilmu ekonomi yang dimilikinya dapat diaplikasikan langsung terhadap proyek-proyek penelitian ekonomi daerah.

Dalam ekonomi daerah, penelitian yang dilakukan yakni tentang perkembangan dari suatu daerah, seperti potensi apa saja dari daerah tersebut yang sudah ada dan bisa dioptimalisasikan. Hal lain juga dapat dilakukan, seperti membuat mapping untuk investor-investor yang ingin berinvestasi di daerah tersebut tetapi bingung mengenai profil daerahnya.

Dari pemaparan tersebut, dapat dikatakan bahwa perekonomian tidak hanya seputar isu nasional saja seperti APBN, karena nyatanya sudah banyak dilakukan penelitian-penelitian perekonomian yang dilangsungkan di tingkat daerah.

Penelitian perekonomian daerah yang dilakukan memerlukan panduan dalam menjalankannya. Sebagaimana dijelaskan lengkap dalam buku “INDONESIA dan COVID-19” yang ditulis oleh para ekonom, seperti Prof. Erani Yustika, termasuk Mbak Ayas dan kawan-kawannya.

Menanggapi tentang resesi yang belakangan menjadi isu hangat di bidang perekonomian, Mbak Ayas berpendapat bahwa Indonesia tidak akan sampai mengalami resesi. Hal ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dapat tumbuh sampai sekitar 5%, yang berarti beberapa sektor di Indonesia tetap mengalami perkembangan, dan bahkan cenderung pulih pasca pandemi.

Pertumbuhan perekonomian Indonesia tidak jauh-jauh berhubungan dengan perkara investasi. Investasi Indonesia masih naik sekitar 3% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini membuktikan bahwa investor dari dalam maupun luar negeri percaya, bahwa Indonesia merupakan salah satu wadah yang tepat untuk berinvestasi.

Mbak Ayas mengatakan, selama masih ada kepercayaan tinggi pada masyarakat bahwa “Indonesia is doing good”, dengan inflasi yang cukup terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang bagus, resesi dirasa masih jauh untuk dialami Indonesia. Rasa syok mungkin akan tetap dialami dari segi perekonomiannya, tetapi Indonesia tidak akan sampai mengalami resesi. Sebuah pandangan yang cukup melegakan.

Berbicara tentang investasi, sekecil apapun sebuah investasi yang dilakukan, hal itu merupakan kontribusi terhadap negara. Jika melihat dari tujuan investasinya, penting atau tidaknya investor seperti retail, kembali lagi terhadap orang yang melakukan investasi tersebut.

Dalam berinvestasi tidak boleh asal-asalan, kita harus lebih dulu mengetahui arah investasi yang akan dilakukan. Berikut ini beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum memutuskan untuk melakukan investasi.

Sumber foto: news.unair.ac.id
  1. Jangka Investasi

Jika sudah siap berinvestasi, kita harus menentukan periodenya, apakah jangka pendek atau jangka panjang. Kalau kita ingin mengambil hasil investasi atau tabungan kita, maka investasi ini termasuk jangka pendek. Sementara investasi jangka panjang, hasil dari investasi akan kita ambil sampai sekitar 5-15 tahun.

  1. Tujuan Investasi

Tentu ada hal yang ingin dicapai dalam berinvestasi. Misalnya, seperti untuk membeli mobil, investasi yang dilakukan perlu dilakukan dalam jangka menengah. Dengan begitu, kita akan rutin berinvestasi karena memiliki tujuan tertentu. Bayangkan jika kita berinvestasi, tetapi tidak memiliki tujuan. Hal ini akan menghambat kedisiplinan berinvestasi sesuai perencanaan yang telah dibuat.

  1. Rasio Alokasi Gaji

Alokasi gaji atau penentuan penggunaan gaji merupakan hal yang perlu ditentukan. Dalam hal ini, Mbak Ayas membagikan empat rasio alokasi gaji.

Pertama, rasio 50%, 20% da 30%. Sebesar 50% gaji digunakan untuk kebutuhan pokok, seperti biaya kos, makan, listrik, air, internet, dan sebagainya. Sebesar 30% untuk lifestyle, seperti liburan, belanja, healing, dan sejenisnya. Kemudian, sebesar 20% digunakan untuk tabungan atau investasi yang akan dilakukan.

Kedua, rasio 80% dan 20%. Sebesar 80% digunakan untuk apa saja, seperti biaya kebutuhan hidup, liburan, belanja, itu semua menjadi satu. Lalu, untuk 20% sisanya digunakan untuk investasi.

Ketiga, rasio 40%, 30%, dan 20%. Sebesar 40% gaji digunakan untuk biaya hidup, 30% untuk cicilan, dan 20 % untuk investasi.

Keempat, rasio paling aman, yakni 50% dan 50%. Sebesar 50% semua dimasukkan untuk investasi, dan 50% sisanya untuk kebutuhan apapun. Rasio ini menjadi pilihan Mbak Ayas karena merasa dirinya masih sulit disiplin mengalokasikan gaji pada banyak sektor.

Dalam menerapkan alokasi yang telah dipilih, hal penting yang perlu dilakukan selanjutnya yaitu memiliki beberapa rekening. Mbak Ayas sendiri memiliki tiga rekening, rekening tabungan, rekening untuk pembayaran tagihan-tagihan, dan rekening lifestyle. Jika kita hanya memiliki satu rekening saja, akan terasa sulit untuk menerapkan alokasi gaji sesuai rasio yang dipilih.

  1. Instrumen Investasi

Beragam instrumen investasi bisa jadi pilihan, seperti saham, emas, properti, dan lain sebagainya. Jika ingin konsisten, kita perlu memilih dan fokus berinvestasi pada satu instrumen saja. Hal ini untuk memudahkan dan tidak membebani diri sendiri. Jika terlalu banyak instrumen yang kita investasikan, maka kemungkinan hasilnya tidak akan memuaskan.

Sumber foto: CNBC Indonesia
  1. High/Medium/Low Risk Taker?

Sebelum memilih instrumen investasi, pastikan untuk kamu memahami dirimu sendiri. Apakah kamu adalah orang yang berani mengambil high risk? Cenderung cari aman dengan memilih jalan tengah medium risk? Atau terlalu berhati-hati sehingga merupakan seorang low risk taker?

  1. Siapkan Dana Darurat dan Proteksi

Dana darurat akan sangat berguna apabila terdapat hal tak terduga terjadi di kemudian hari dan memerlukan dana dengan segera. Selain itu, kita juga harus memiliki proteksi berupa asuransi. Hal ini diperlukan agar nantinya dana yang telah diinvestasikan tidak harus dialihkan untuk masalah kesehatan.

Penghasilan seseorang yang berasal dari suatu usaha tentu memerlukan teknik dalam penerapannya. Hal ini bisa diperoleh dari buku “Teknik Penghitungan Biaya Usaha Kecil di Indonesia”. Sebuah buku yang dapat bermanfaat dan menambah wawasan tentang penghitungan biaya untuk yang sedang atau baru ingin membuka suatu usaha.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleDear Perokok, Gunakanah Asbak dengan Bijak!
Next articleVictor Hugo, Sastrawan Perancis yang Romantis
Penikmat film, musik, dan buku tertentu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here