Sastrawan Lekra

Mungkin sebagian di antara kita belum mengenal Lekra, apalagi tokoh-tokoh yang berprean penting di dalamnya. Lekra atau singkatan dari Lembaga Kebudayaan Rakyat didirikan pada tanggal 17 Agustus 1950. Yang ditandai dengan diluncurkannya Mukadimah Lekra sebagai naskah proklamasi pendirian sebuah organisasi kebudayaan. Lekra didirikan oleh sekitar 15 orang yang menyebut dirinya peminat dan pekerja kebudayaan di Jakarta. Lekra bertujuan mengembangkan kebudayaan nasional yang bersifat kerakyatan dalam rangka perjuangan pembebasan nasional melawan imprealisme.

Joebaar Ayoeb dalam Kongres Pertama Lakra di Solo menyatakan, “Lekra didirikan 5 tahun setelah Revolusi Agustus, di saat revolusi tertahan oleh rintangan hebat yang berwujud persetujuan KMB. Lekra didirikan untuk turut mencegah kemerosotan lebih lanjut garis revolusi, karena tugas ini bukan hanya tugas politisi, tetapi juga tugas pekerja-pekerja kebudayaan. Lekra didirikan untuk menghimpun kekuatan yang taat dan teguh mendukung revolusi.

Sebagai organisasi kebudayaan, Lekra berkembang pesat dan menjadi wadah pertemuan para intelektual dan seniman dengan latar belakang yang berbeda-beda. Di organisasi ini berkumpul seniman lukis, seniman tradisional, sastrawan dan sebagainya. Walaupun tidak ada pendataan anggota, ada yang meyakini bahwa anggota Lekra sampai puluhan bahkan ratusan ribu orang. Kalau ditelusuri ke belakang, yang sangat berpengaruh kepada konsep kebudayaan Lekra adalah pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pentingnya mengakarkan dirinya ke berbagai bentuk dan kekuatan kebudayaan rakyat Indonesia.

Salah satu upaya mempertahankan kebudayaan yakni mengabadikannya melalui tulisan. Di sinilah peran penting sastrawan pada masa itu dalam menyuarakan aspirasinya dalam karya sastra. Konsep dasar sastra Lekra adalah (1) Seni untuk rakyat: sastra mengabdi dan memo bela kepentingan kaum buruh dan kaum tani yang digambarkan tertindas oleh kaum borjuis, kaum feodal dan kaum kapitalis. Sastra ini memusuhi kaum penindas, di samping kaum agama dan sastra yang berhaluan humanisme-universal; (2) Politik adalah panglima: kepentingan politik komunis di atas segalanya. Sastra Lekra tunduk kepada kepentingan PKI. Semboyan sastra Lekra dalam hal ini adalah “Kesalahan politik lebih jahat daripada kesalahan artistik”; (3) Meluas dan meninggi: meluas artinya sastra harus setia kepada kaum buruh dan kaum tani, sedangkan meninggi berarti sastra harus seimbang antara kreatifitas dengan peningkatan ideologi PKI; (4) Gerakan turun lee bawah: sastrawan Lekra harus mengenal kaum tani dan kaum buruh secara objektif dan baru mengengkatnya dalam karya sastra; (5) Organisasi: kedudukan organisasi penting membentuk seorang sastrawan sosialis. Dalam organisasi tersebut para sastrawan dapat saling memberikan kritik, saling memberi dan menerima. Lekra memiliki wadah sastra untuk melakukan kegiatannya, antara lain, Harian Rakyat, Sunday Courier, Bintang Timur, majalah Jaman Baru.

Sayangnya, setelah kegagalan pemberontakan G-30-S/PKI pada tahun 1965, Lekra bersama PKI dinyatakan sebagai organisasi terlarang di Indonesia. Semua karya sastra Lekra dilarang di Indonesia sehingga para sastrawan pada masa itu pun mulai terlupakan. Beberapa sastrawan Lekra yang jasa-jasanya perlu dikenang di antaranya.

 A.S. Dharta

sastrawan indonesia

Klara Akustia mempunyai beberapa nama, yaitu AS. Dharta, Kelana, Asmara, Yogaswara, Barmaraputra, dan Rodji. Nama sebenarnya Adi Sidharta, tetapi biasa disingkat A.S. Dharta. Pada masa remajanya ia memakai nama Kelana Asmara dan akhirnya memakai nama yang terdengar seperti nama Rusia, yaitu Klara Akustia yang bermakna “mempunyai hubungan rasa simpati”.

Sastrawan yang mengkhususkan karyanya pada puisi ini dilahirkan di Cibeber, Cianjur, Jawa Barat pada 7 Maret 1924 dan meninggal pada 7 Februari 2007. Sebagai seorang Sunda, Klara Akustia telah mendarmabaktikan dirinya pada daerahnya. Ia telah berhasil mendirikan majalah Generasi Baru di Tasikmalaya pada tahun 1947 bersama dengan M.S. Ashar.

Salah satu kumpulan sajaknya yang berjudul Rangsang Detik banyak mendapat sorotan. Rangsang Detik, memuat 63 sajak, merekam masa-masa awal revolusi Indonesia yaitu sekitar tahun 1949 yang memadukan antara cita-cita dan daya cipta (kreasi). Kumpulan sajak ini bertema utama masalah-masalah yang berhubungan dengan revolusi sehingga nilai estetikanya tidak terlalu dipentingkan. Sajak-sajak karya Klara Akustia lebih banyak yang berbentuk tanggapan terhadap lingkungannya, sebagai anak zaman yang mematuhi tuntutan zamannya.

Selain dimuat dalam antologi, sajak-sajak Klara Akustia juga ada dalam terbitan lepas. Beberapa puisinya antara lain, berjudul (1) “Merdeka Kami” (2) “Kasih dan Penjara” ( dalam Siasat, No. 240/V, 18 November 1951; (3) “Nol Besar” (dalam Spektra, No. 52/I, 11 Februari 1950); (4) “Buruh” (dalam Tenaga, No. 8, 15 Juli 1950); (5) “Kepada Mao Tse-Tung”, (6) “Kasih dan Penyair”, (7) “Pejuang”, (8) “Taufan” (dalam Bintang Merah, No. 7, Oktober/November 1951); (9) “Nyonya Marsih” (dalam Zaman Baru, N0. 58/II, 15 November 1951); (10) “Merdeka Kami” (dalam Zaman Baru, 58/II, 15 November 1951); (11) “Api dan Mawar” (dalam Mimbar Indonesia, No. 6, 23 Februari 1952); (12) “Barisan dan Bendera” (dalam Mimbar Indonesia, No. 17/VI, 24 April 1952); (13) “Laguku” (dalam Zaman Baru, No. 81/II, 7 Mei 1952)’ (14) “Nanking Seratusribu” (dalam Harian Rakyat, No. 613/III, 25 Juli 1953; (15) “Petik Gitar”, (16) “Pada Manusia yang Bekerja”, (17) “Harapan” (ditulis waktu sakit di RSCM, 13 April 1955); (18) “Kongres Rakyat kepada Irian Barat”, 9 Agustus 1955; (19) “Epos Dasa Warsa kepada Angkatan 45”, 15 Agustus 1955; (20) “Petik Gitar untuk Kawan dan Lawan”, 25 Agustus 1955; (21) “Rakyat Memilih”, 30 Oktober 1955; (22) “Surat Biru kepada Iramani”, (23) “Kalibata”, 10 November 1955; (24) “Pelita Merah”, 4 Januari 1956; (25) “Candaspangeran kepada Memed Sastrahadiprawira”, 13 Januari 1956; (26) “Kawan Aidit”, 31 Januari 1956; (27) “Pada Manusia yang Bekerja Sidang Dewan Dewan Nasional Sobsi kedua”, 23 Februari 1956; (28) “DPR Baru”, 5 Maret 1956; (29) “Rumah Liar kepada DPKS Jakarta”, 5 Maret 1956; (30) “Wanita dari Sungai de Laureantis”, 30 Maret 1956.

Proses kreatif A.S Dharta pada akhirnya harus berhenti sejak peristiwa G30S. Dia masuk penjara Kebonwaru, Bandung, dan keluar pada 1978. Sejak itu, kesehatan terganggu. Orde Baru memasungnya, juga jutaan orang Indonesia. Orde Baru pula yang menanamkan stigma dalam benak masyarakat.

Agam Wispi

sastrawan indonesia

Agam Wispi atau Adam Willy (nama samaran) lahir di Pangkalan Susu, Medan, Sumatra Utara pada tanggal 31 Desember 1930. Sebagai seorang penyair Lekra, ia paling berpengaruh pada tahun 1950-an sampai tahun 1960-an. Sajaknya mengandung pembaruan dari bentuk-bentuk yang pernah ada sebelumnya, seperti bahasa, ungkapannya khas, dan sarat emosi. Mungkin ialah penyair Indonesia yang sajaknya “Jakarta oi Jakarta” pernah memenuhi satu halaman surat kabar.

Sejak kumpulan sajaknya yang berjudul Matinya Seorang Petani (1955), kota Medan bagi Agam Wispi belum cukup memberikan dorongan dan inspirasi untuk menulis. Sajak itu ditulis sebagai reportase ketika mengikuti sidang “Peristiwa Tanjung Morawa”. Untuk itu, pada tahun 1957 ia pindah ke Jakarta dan bekerja sebagai redaktur budaya di surat kabar Harian Rakyat (Organisasi PKI) sampai tahun 1962. Akan tetapi, antara 1958-1959 ia belajar jurnalistik di Jerman. Sepulang dari Berlin, Jerman Timur Agam Wispi menulis puisi berjudul “Sahabat”. Di bawah bimbingan Nyoto (pemikir PKI terbaik), Agam melibatkan diri dalam sejarah sastra Indonesia. Akan tetapi, pengaruh Aidit dan Sudisman (keduanya anggota central comite) di tahun 1960-an Agam menjauh dari lingkar (Lekra) lalu masuk Angkatan Laut Republik Indonesia sebagai perwira ALRI tahun 1962—1965. Walaupun sudah menjadi perwira ALRI, ia berusaha tetap menekuni dunia tulis-menulis dan menjadi koresponden Harian Rakyat.

Selain menulis puisi, Agam juga menulis cerpen dan drama. Dramanya “Gerbong” pernah dipentaskan oleh Dinamo (Lekra Medan). Selain itu, puisi-puisinya terkumpul baik dalam bentuk antologi maupun dalam kumpulan sajak. Sajaknya yang termuat dalam antologi, antara lain, adalah (1) Matinya Seorang Petani (Bagian Penerbitan Lembaga Kebudayaan Rakyat, Jakarta 1961), (2) Kepada Partai (Yayasan Pembaruan, Jakarta 1965), (3) Viva Cuba! (Yayasan Pembaruan, Jakarta 1963), (4) “Nasi dan Melati”, Di Negeri Orang, Puisi Penyair Indonesia Eksil (Amanah Lontar, Jakarta dan Yayasan Budaya Indonesia, Amsterdam, April 2002), dan (5) “Berdua Sejalan” ditulis bersama Asahan Aidit. Antologi perseorangan, antara lain (1) Sahabat, yang Tak Terbungkamkan (Bagian Penerbitan Lembaga Kebudayaan Rakyat, Jakarta 1965) dan (2) Kronologi in Memordiam 1953—1994, sedangkan “Eksil” belum terbit. Masih banyak karya Agam yang terpencar di berbagai majalah dan surat kabar baik di tanah air maupun di luar negeri.

Sejak bermukim di Belanda, Agam turut serta menangani dan menyumbang tulisan di majalah kebudayaan Arah dan Kreasi. Pengembaraannnya yang panjang bagi Agam ada tempat menetap tetapi tidak ada tempat untuk pulang. Dari kerinduannya akan tanah airnya, Indonesia lahirlah puisi-puisinya tentang Kedungombo dan Timur Lorosae. Akhirnya, Agam Wispi tidak pernah pulang kembali ke Indonesia. Ia meninggal dunia pada tanggal 1 Januari tahun 2003, pukul 1.00 waktu setempat di Verpleeghuis (rumah jompo), tempat tinggalnya di kota Wittenberg/Amsterdam dan dikremasi pada hari Selasa, 7 Januari 2003 di Westgaarde, Amsterdam.

Selain anggota Lekra, terdapat beberapa sastrawan di luar Lekra yang berhasil “ditarik” ke dalam lembaga ini, di antaranya:

Pramoedya Ananta Toer

sastrawan indonesia

Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, Jawa Tengah, tanggal 6 Februari 1925. Ayahnya adalah seorang guru yang mula-mula bertugas di HIS di kota Rembang, kemudian menjadi kepala guru di sekolah swasta di Boedi Oetomo sampai menjadi kepala sekolah tersebut.

Pada tahun 1958 Pramoedya Ananta Toer menjadi anggota Pimpinan Pusat Lembaga Kesenian Jakrta (Lekra) yang berada di bawah Partai Komunis Indonesia (PKI). Keterlibatnnya dengan Lekra menjadikannya harus berhadapan dengan seniman yang tidak sealiran, terutama yang menentang PKI, seperti dalam penandatanganan Manifestasi Kebudayaan. Pada tahun 1962 ia menjabat redaktur Lentera. Pada masa kejatuhan Partai Komunis Indonesia, Pramoedya dibuang ke Pulau Buru karena dianggap terlibat PKI yang saat itu PKI hendak menggulingkan pemerintah Republik Indonesia tanggal 30 September 1960. Ketika terjadi penangkapan terhadapnya, ia mendapatkan penyiksaan. Setelah itu, ia dipenjara di Tangerang, Salemba, Cilacap, dan selama sepuluh tahun hidup di pengasingan Pulau Buru.

Karyanya yang ditulis selama dalam pengasingan itu pada umumnya dilarang diedarkan oleh Kejaksaan Agung. Setelah rezim Orde Baru jatuh, (1998), Pramoedya Ananta Toer dibebaskan dari pengasingan di Pulau Buru. Pramoedya Ananta Toer yang mengarang sejak tahun 1940-an telah menghasilkan banyak karya sastra, yaitu cerpen, novel, esai, dan karya terjemahan. Karya Pramoedya banyak yang sudah diterjemahkan dalam bahasa asing, yaitu Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Rusia, dan Jepang.

Pram sangat produktif dalam berkarya, karya-karyanya di antaranya:

Novel: 1. Sepuluh Kepala Nica (1946) 2. Kranji Bekasi (1947) 3. Perburuan (1950) 4. Keluarga Gerilya (1950) 5. Mereka yang Dilumpuhkan (1951) 6. Bukan Pasar Malam (1951) 7. Di Tepi Kali Bekasi (1951) 8. Gulat di Jakarta (1953) 9. Midah, Si Manis Bergigi Emas (1954) 10. Korupsi (1954) 11. Calon Arang (1957) 12. Suatu Peristiwa di Banten Selatan (1958) 13. Bumi Manusia (1980) 14. Anak Semua Bangsa (1980) 15. Jejak Langkah (1985) 16. Gadis Pantai (1987) 17. Hikayat Siti Mariah (1987) 18. Rumah Kaca (1987) 19. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I (1995) 20. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (1996) 21. Arus Balik (1995) 22. Arok Dedes (1999) 23. Larasati (2000)

Kumpulan Cerita Pendek: 1. Subuh (1950) 2. Percikan Revolusi (1950) 3. Cerita dari Blora (1952) 4. Cerita dari Jakarta (1957) c. Novel Terjemahan 1. Tikus dan Manusia karya John Steinbeck (1950) 2. Kembali kepada Cinta Kasihmu karya Leo Tolstoy (1950) 3. Perjalanan Ziarah yang Aneh karya Leo Tolstoy (1956) 4. Kisah Seoraang Prajurit Soviet karya Mikhail Sholokov (1956) 5. Ibu karya Maxim Gorky (1956) 6. Asmara dari Rusia karya Alexander Kuprin (1959) 7. Manusia Sejati karya Boris Posternak (1959).

Karena kreativitasnya dalam menulis karya sastra, Pramoedya Ananta Toer banyak mendapat hadiah, anugerah, dan penghargan. Hadiah, anugerah, dan penghargan yang diterima Pramoedya adalah sebagai berikut: 1. Hadiah Sastra dari Balai Pustaka atas novelnya Perburuan (1950) 2. Hadiah Sastra dari BMKN atas kumpulan cerpennya Cerita dari Blora (1952) 3. Anugerah Freedom to Write Award (PEN American Centre, Amerika Serikat) (1980) 4. Anugerah The Fund for Free [removed]New York, Amerika Serikat) (1992) 5. Anugerah Stichting Wertheim dari negeri Belanda (1995) 6. Anugerah Ramon Magsaysay dari Filipina (1995) 7. Penghargaan Unesco Madanjeet Singh Prize oleh Dewan Eksekutif Unesco (1996) 8. Anugerah Le Chevalier de l’ordre des Arts et des Letters dari Prancis (2000).

S. Rukiah

S. Rukiah juga dikenal dengan nama Siti Rukiah Kertapati lahir pada 25 April 1927 hingga menghempuskan napasnya pada 6 Juni 1996. Ia dikenal sebagai seorang tokoh sastrawan perempuan Indonesia yang menulis karya sastra roman, cerita anak, cerita pendek, dan puisi.

Rukiah pernah memutuskan untuk menjadi guru di Sekolah Rendah Gadis Purwakarta. Di samping itu, ia juga pernah menjadi sekretaris redaksi majalah Pujangga Baru dan menjadi redaksi di majalah Bintang Timur/ Lentera bersama Pramoedya Ananta Toer, serta pernah bekerja di majalah pendidikan anak-anak, Cendrawasih, dan anggota Pimpinan Pusat Lekra 1959—1965. Sejak tahun 1946, S. Rukiah sudah menulis di berbagai majalah, antara lain dalam Gelombang Zaman dan Mimbar Indonesia.

Berkat dorongan Hendra Gunawan, temannya, S. Rukiah akhirnya bisa menjadi penulis. Padahal sebelumnya, S. Rukiah beberapa kali mengirimkan hasil karyanya ke berbagai majalah ditolak, tetapi ia tidak putus asa. S. Rukiah menerima saran dan kritik diberikan untuk karya-karyanya. Dia pernah menulis surat kepada H.B. Jassin, bahwa ada orang yang memfitnahnya dan mengatakan karangan dan sajaknya yang telah dimuat di berbagai majalah adalah hasil jiplakan. Sementara itu, H.B. Jassin menanggapi surat S. Rukiah dan menyarankan supaya S. Rukiah mendiamkan saja persoalan itu dan harus memperkuat keberadaan dirinya dalam dunia sastra dengan cara terus mencipta dan meningkatkan mutu karyanya.

Pada Mei 1948, ia menjadi pembantu tetap majalah sastra Poedjangga Baroe. Rukiah berpindah ke Jakarta pada tahun 1950 untuk menjadi sekretaris majalah. Pada tahun yang sama, roman pertamanya yang berjudul Kejatuhan dan Hati diterbitkan. Pada tahun 1951, ia berpindah ke Bandung dan menjadi penyunting di majalah anak-anak, Cendrawasih.[2]

Rukiah pernah bergabung menjadi anggota Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Rukiah terpilih sebagai anggota pimpinan pusat Lekra pada tahun 1959. Namun, hal ini mengakibatkan buku-bukunya menjadi salah satu yang dilarang pada masa penggulingan Presiden Soekarno dan pelarangan Partai Komunis Indonesia pada 1965.

Kumpulan cerpen dan puisi pertamanya berjudul Tandus terbit pada tahun19 52 dan memenangkan Hadiah Sastra Nasional. Pada tahun itu juga, Rukiah mulai menulis cerita anak menggunakan nama S. Rukiah Kertapati dan terus menerus menulis cerita anak sampai tahun 1964.

Rukiah menderita trauma atas tragedi tahun 1965 dan tidak pernah menulis lagi sejak itu. Walaupun karya-karyanya banyak, namanya langsung hilang setelah 1965. Dosen Ilmu Sejarah Universitas Sanata Dharma, Yerry Wirawan, mengatakan nama Rukiah Kertapati memang sengaja dihilangkan dalam sejarah perempuan dan sejarah sastra Indonesia modern karena ia adalah anggota Lekra.

Utuy Tatang Sontani

sastrawan indonesia

Utuy Tatang Sontani dikenal sebagai penulis sastra drama, cerpenis, dan novelis. Nama Sontani sebenarnya merupakan nama yang ditambahkan oleh Utuy karena ia sangat mengagumi tokoh utama, Sontani, seorang pemberani, yang terdapat dalam buku Pelarian dari Digul. Jadi, kalau mengirimkan karya-karyanya ke Sinar Pasundan, Utuy selalu menggunakan nama Sontani. Utuy menulis karyanya dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Dia lahir di Cianjur, Jawa Barat, 31 Mei 1920 dan meninggal di Moskow, 17 September 1979. Utuy dimakamkan di Mitinskoye di kawasan Mitino, sekitar 40 kilometer dari Moskow.

Akhir tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat yang berafiliasi pada Partai Komunis Indonesia) melakukan langkah-langkah penting dan berhasil mengajak para seniman terkemuka untuk memasuki organisasi tersebut. Berkaitan dengan itu, Utuy pun masuk ke dalam organisasi tersebut. Mulanya Utuy menolak masuk Lekra, tetapi dirangkul terus dan diberi kesempatan untuk tampil dalam berbagai forum penampilan, akhirnya masuk juga. Selanjutnya, Korrie Layun Rampan (2000) mengatakan, bahwa Utuy menulis drama dalam jumlah yang cukup banyak dan beragam dalam berbagai variasi bentuk, seperti drama bersajak, drama dalam bentuk novel, dan drama-drama konvensional. Agam Wispi salah seorang Pimpinan Pusat Lekra (1959—1965), di Jakarta pada akhir 1999, menyatakan bahwa Utuy Tatang Sontani merupakan tokoh pembaharu dalam penulisan drama di Indonesia. Sementara itu, Taufiq Ismail mengatakan bahwa karya-karya Utuy tidak mengandung ideologi Marxis—Leninis karena karyanya bercirikan individualisme yang bertolak belakang dengan realisme sosialis (Taufik Ismail, Horison, 6 Juni 1997 dan Korrie Layun Rampan, Horison, Agustus 2000). A. Teeuw (1980) mengatakan, bahwa Utuy termasuk pengarang produktif dan karyanya bermutu.

 Karya-karya Utuy, antara lain, adalah drama yang berjudul 1) Suling (1948), 2) Bunga Rumah Makan (1948), 3) Awal dan Mira (1952) (drama ini kemudian meraih Hadiah BMKN tahun 1953), 4) Manusia Iseng (1953), 5) Sangkuriang Dayang Sumbi (1953), 6) Sayang Ada Orang Lain (1954), 7) Di Langit Ada Bintang (1955), 8) Selamat Jalan Anak Kupur (1956), 9) Di Muka Kaca (1957), dan 10) Saat yang Genting (1958). Drama Saat yang Genting ini kemudian meraih hadiah sastra Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) untuk tahun 1957/1958, 11) Segumpal Daging Bernyawa (1961), 12) Tak Pernah Menjadi Tua (1963), 13) Si Sapar (1964), dan 14) Si Kampeng (1964); novel karya Utuy adalah Tambera (1949); sedangkan kumpulan cerpennya adalah Orang-Orang Sial (1951), dan Menuju Kamar Durhaka (2002).

Di samping itu, Utuy juga sempat menerjemahkan Selusin Dongeng karya Jean de la Fontaine pada taun 1949. Karya-karya Utuy ada yang sudah disalin ke dalam bahasa Rusia, Iran, dan Cina.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleMemaknai Hidup Melalui Film A Man Called Otto
Next articleRatna Indraswari Ibrahim, Sastrawan Kota Malang yang Mengajarkan Arti Kemanusiaan
Seorang mahasiswi Departemen Sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang. Tidak ada yang membuatnya tergila-gila kecuali buku, kucing, dan dirinya sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here