Kanjuruhan
Sumber foto: Cindy Parastasia/Semilir.co

Laiknya manusia yang punya hati nurani selalu tersentuh manakala saudaranya diterpa musibah –mengulurkan tangan untuk membantu. Bukan satu dua orang saja yang tersentuh menolong, tapi rerata, tergerak dengan aksi yang beragam. Bagaimanapun jua manusia punya hati nurani, tak peduli apa pekerjaannya, dari mana asalnya atau agamanya. Selagi manusia, ia punya perasaan terdalam bernama nurani. Hanya saja memang perlu dipantik dan membentuk wadah gerakan bersama.

Tanpa ada inisiasi, awalnya terkesan tak ada yang peduli atau memilih diam. Namun saat ada inisiatif melakukan misi kemanusiaan, tak terhitung orang yang rindu bergerak bersama. Bukan lagi soal untung-rugi, melainkan murni demi kemanusiaan. Lebih-lebih mereka yang terlibat berkorban waktu, tenaga, uang, atau lainnya seperti talenta. Semuanya bisa dikonversi jadi sesuatu yang berguna untuk menolong sesama, demi kemanusiaan.

Tragedi Kanjuruhan jadi saksi. Tak berselang lama pasca peristiwa naas itu terjadi −01 Oktober 2022 yang berlokasi di Kabupaten Malang− banyak pihak yang mengulurkan tangan dengan berbagai cara kepada para korban. Para suporter sepak bola di seluruh penjuru Tanah Air memberi dukungan kepada Aremania melalui aksi solidaritas seribu lilin di kotanya masing-masing. Mereka juga mengumpulkan sejumlah uang untuk membantu para korban. Tidak hanya di Indonesia, aksi solidaritas juga banyak dilakukan di luar negeri.

Ada pula cerita dari seorang kawan, Fiki namanya. Fiki dan tim sepak bola sekampungnya rutin bermain bola di lapangan Merjosari, Kota Malang. Biasanya, di akhir tiap pertandingan mereka iuran untuk membayar sewa lapangan. Namun ada yang berbeda diakhir pertandingan kali itu, uang untuk membayar lapangan dialihkan jadi sumbangan bagi korban tragedi Kanjuruhan. Sebagai gantinya, biaya lapangan diambil dari kas tim. Luar biasa.

- belanja buku di sini -
Nurani
Sumber foto: disway.id (aksi solidaritas seribu lilin)
Pemantik Nurani

Lain cerita sama tujuan dengan para musisi di Kota Malang. Kira-kira empat hari setelah peristiwa, dua orang sekawan –Mas Redy dari Duo Etnicholic dan Pak Bagus dari Musik Malang Bersatu Indonesia (MMBI)− sesama musisi berbincang tentang tragedi Kanjuruhan. Pertanyaannya, apa yang bisa dilakukan untuk meringankan beban para saudara yang menjadi korban? Muncul satu ide mengadakan galang donasi diiringi gelaran musik. Ide itu kemudian dieksekusi. Sebagai langkah awal mengajak kawan lain terlibat.

Berawal dari dua orang yang punya kawan dan kawannya juga punya kawan jadilah lumayan banyak orang dan pihak bersedia bergabung. Diadakanlah pertemuan yang membahas aksi kemanusiaan. Ide awal pun disampaikan, lalu beragam ide lainnya bermunculan menguatkan. Hingga diperoleh kesepakatan untuk mengadakan konser musik bertajuk “Galang Donasi untuk Tragedi Kanjuruhan”. Kegiatan itu dilaksanakan pada 16 Oktober 2022 di Simpang Balapan Kota Malang.

Tiap orang mempersiapkan sesuai tugas yang sudah dibagi: Menghubungi para musisi dan seniman yang akan tampil; Mengurus perizinan tempat; Menyediakan panggung dan alat musik; Membeli konsumsi snack dan air mineral; Menyusun rundown; Hingga hal remeh-temeh seperti menyediakan kardus bertuliskan “Galang Donasi untuk Korban Tragedi Kanjuruhan” pun digarap.

Rencana acara berlangsung pukul 9.00−16.00 WIB. Durasinya disesuaikan dengan jumlah penampilan. Ternyata dengan durasi selama itu tak kekurangan musisi yang tampil. Banyak musisi ternama di Malang Raya yang bersedia hadir-tampil, seperti: Duo Enicholic; Band Cempluk; Angklung Sanggar Kirana; Betterman; Ayas Fals; Panji Laras Svara; DC; Voice of Malang; Outsider; Antok Yunus; Kibordis Malang; Art Coustics; Andang Bachtiar & Penyelaras; Irfan Saxophone; Jenga; MJ; SJA; DJ DEE; Vivi Mambo; Hip Hop Felas; Captayn Away; Icha Beat Box; Bulzar; Santri Jalanan; Bonerusty; Sam Wahyoe GV; Slanky Crispy; dan LSMI. Selain itu, kegiatan galang donasi juga didukung banyak komunitas dan lembaga yang ada di Kota Malang, antara lain: Musik Malang Bersatu Indonesia; Guitaristick; Kubam; Malang Drummer; Laras Production; Universitas Brawijaya; Semilir.co; dan Kampung Cempluk.

Tibalah Minggu 16 Oktober 2022. Awalnya tampak sepi, tapi semakin siang makin ramai. Para musisi berkumpul menunggu giliran tampil dengan beragam corak musik. Dua tiga lagu atau pertunjukan musik dipersembahkan untuk seluruh warga yang melintas sembari menyuarakan keadilan bagi para korban. Ungkapan #UsutTuntas tak henti-hentinya keluar dari mulut sang vokalis sebelum, pertengahan, atau sesudah pertunjukan.

Nurani
Sumber foto: Cindy Parastasia/Semilir.co
Jejaring Kemanusiaan

Saat para musisi sedang tampil, ada pula yang bertugas turun ke jalan raya di berbagai sisi Simpang Balapan. Mereka menyodorkan kardus sumbangan kepada para pengendara yang melintas. Tidak sedikit pengendara yang tergerak hatinya membantu. Uniknya lagi, tiga orang anak kecil –kira-kira seumur anak kelas 6 SD− yang sebelumnya bermain kemudian mendekati panggung, merogoh kantongnya dan memasukkan sejumlah uang ke kardus sumbangan. Pemandangan yang epik. Mungkin yang disumbangkan itu adalah uang jajannya, tapi hati nuraninya tergerak membantu.

Tak terasa sore berakhir, acara pun berakhir. Sumbangan terkumpul Rp18.290.000 dengan rincian Rp13.290.000 sumbangan yang masuk ke kardus donasi, dan Rp5.000.000 sumbangan transfer dari Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy. Sumbangan yang terkumpul nantinya disalurkan langsung kepada korban yang sedang dirawat di rumah sakit dan kepada para keluarga korban yang meninggal dunia. Masyarakat bisa memperoleh informasi ihwal penyaluran bantuan kepada korban di laman Facebook Musik Malang Indonesia Bersatu (MMBI).

Semuanya begitu menikmati aksi kemanusiaan itu dengan memainkan peran masing-masing. Itulah panggung kemanusiaan. Tidak ada yang merasa lebih tinggi, semuanya setara. Melihat ramainya pihak yang mau terlibat tanpa mendapat sepeser pun rasanya begitu syahdu. Rupanya banyak pihak yang mempunyai kegelisahan serupa ingin membantu sesama manusia. Dengan pemantik dan wadah yang baik, serpihan kegelisahan menyatu membentuk jejaring kemanusiaan yang bermakna.

Nurani
Sumber foto: Janwan Tarigan/Semilir.co
Bersemai

Kita berduka atas tragedi kemanusiaan di Kanjuruhan. Ratusan manusia harus meregang nyawa karena arogansi, egoisme, dan kelalaian para pengelola pertandingan malam itu. Tragedi kemanusiaan yang kemudian memperlihatkan dua sisi watak manusia seperti yang pernah diungkapkan Aristoteles: Pertama jahat, kasar, dan tidak adil di satu sisi; kedua baik, lembut, dan adil di sisi satunya.

Mereka yang mengutamakan keuntungan bisnis dan mengesampingkan keselamatan manusia terbilang berwatak kategori pertama (jahat, kasar, dan tidak adil). Sementara mereka yang tergerak hatinya menolong para korban dengan berbagai cara bisa dikatakan masuk kategori kedua (baik, lembut, dan adil). Tanpa bermaksud menghakimi, tapi tragedi Kanjuruhan harus menjadi pelajaran berharga untuk kemanusiaan. Jangan sampai kita krisis nurani.

Nurani dapat dipahami sebagai kerinduan akan damai sejahtera dan menyebabkan penderitaan mental dan rasa bersalah ketika berpikir, berkata, dan bertindak bertentangan dengan nilai dan norma yang ada. Betapa berarti hati nurani bagi manusia. Dengan hati nurani, manusia utuh menjadi manusia, yang mampu memanusiakan sesamanya.

Apakah semua manusia mempunyai nurani? Tentu pada hakikatnya semua manusia bernurani. Tapi yang jadi soal tidak semua nurani hidup, ada pula yang sekarat, kehilangan jati diri, atau malahan mati. Hati nurani yang sekarat atau mati bertindak sesuka hati meski tindakan itu merugikan-menyengsarakan orang lain. Maka dari itu kita perlu merawat hati nurani agar tetap bersemai.

WS. Rendra dalam bait puisinya berjudul “Kesaksian Akhir Abad” menerangkan lantang ihwal hati nurani:

“Negara tak mungkin kembali di-utuh-kan tanpa rakyatnya di-manusia-kan.

Dan manusia tak mungkin menjadi manusia tanpa dihidupkan hati nuraninya.

Hati nurani adalah hakim adil untuk diri kita sendiri.

Hati nurani adalah sendi dari kesadaran akan kemerdekaan pribadi.”

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleMaujud Manipulasi Budaya Jadi Penjara
Next articleAlasan Memilih Menjadi Mahasiswa Sastra Indonesia
Pegiat literasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here