Mulanya, Pujangga Baru (Poedjangga Baroe) adalah majalah yang bergerak di bidang sastra dan budaya. Pada tahun 1933, tepatnya pada tanggal 29 Juli, sebutan Pujangga Baru hadir untuk mengidentifikasi para sastrawan yang menulis di majalah tersebut. Sastrawan-sastrawan itu antara lain Amir Hamzah, Armijn Pane, sampai Sutan Takdir Alisyahbana.

Angkatan Pujangga Baru lahir sebagai respon akan pelbagai sensor yang dilakukan oleh, terutamanya, Balai Pustaka, terhadap karya-karya sastra masa itu. Khususnya karya yang mengangkut narasi kebangsaan, nasionalisme, dan semangat perjuangan. Kemunculann sastrawan-sastrawan Angkatan Pujangga Baru pada tahun 1933 juga secara tidak langsung menggantikan eksistensi dari Balai Pustaka yang mulai loyo.

Para sastrawan pada masa Pujangga Baru didominasi oleh karya-karyanya yang berbentuk puisi, seperti syair dan pantun. Angkatan ini bertahan mulai dari tahun 1993 sampai dengan tahun 1942, yang kemudian digantikan oleh kemunculan Angkatan 45.

Eksistensi Pujangga Baru pada dunia kesusastraan selain ditunjukkan lewat narasi-narasi yang berkaitan dengan kebangsaan, ia juga memiliki corak yang kental dalam struktur dan gaya tutur tulisan. Tulisan-tulisan Pujangga Baru lazimnya bersifat indah dan puitis, hubungan antar kalimat jelas dan tidak ambigu, masih sedikit roman. Pada cerpen dan novel, ia bersifat lurus, jarang ada yang non-linier.

Untuk mengenal lebih dekat siapa saja sastrawan-sastrawan yang mengisi koridor Pujangga Baru pada masanya, berikut selengkapnya.

Sutan Takdir Alisyahbana

Sutan Takdi Alisyahbana adalah sastrawan dan budayawan Indonesia. Ia disebut sebagai pelopor atau pionir utama dari Pujangga Baru. STA, demikian sapaannya, lahir di Sumatera Utara pada 11 Februari 1908. Sebelum Pujangga Baru, Sutan Takdir pernah bekerja untuk Balai Pustaka di bidang redaktur dan biro penerbitan. Namun selepas keluar, ia mendirikan dan memimpin majalah Poedjangga Baroe, yang nantinya menandai kehadiran Angkatan Pujangga Baru.

Ia sekaligus menjadi sosok utama dari Pujangga Baru. Karya-karyanya terdiri dari novel, ensiklopedia, sampai sajak. Salah satu bukunya yang berjudul Layar Terkembang merupakan novel paling fenomenal dari Angkatan Pujangga Baru. Tak hanya itu, Anak Perawan di Sarang Penyamun, yang awalnya cuma cerita bersambung dan kemudian dirangkai menjadi novel, disebut sebagai karyanya yang paling mentereng.

Armijn Pane

Armijn Pane lahir di Muara Sipongi, Sumatera Utara, pada 18 Agustus 1908. Ia dan Amir Hamzah ikut mendirikan majalah Pujangga Baru bersama Sutan Takdir Alisyahbana. Dari sana, mereka memperoleh penulis-penulis berkompeten untuk dibersamai dalam melakukan sebuah pergerakan-pergerakan kecil. Sebelum keterlibaatannya dengan majalah Pujangga Baru, Pane pernah menjabat sebagai wartawan surat kabar di Surabaya.

Karirnya sebagai seorang sastrawan bisa dibilang terlambat. Sebab ia memiliki ketertarikan terhadap sastra setelah menyadari ketidaksukaannya pada politik. Saat-saat menjadi wartawan dan keluar dari organisasi politik itulah ia menempuh minatnya dengan serius di dunia sastra, dan tak sampai 3 tahun ia tercatat sebagai orang yang juga ikut mendirikan Pujangga Baru. Puisi-puisi Armijn Pane kental dengan nasionalisme. Mungkin ini didapatnya dari keterlibatannya dalam kegiatan-kegiatan sebelumnya. Salah satu karyanya yang paling ditandai adalah Belenggu. Selain itu, ia juga menulis kritik sastra. Banyak yang menyebut bahwa ia merupakan kritikus sastra paling ulung, karena penilaiannya yang seimbang dan akurat. Armijn Pane menulis puisi, cerpen, novel, esai, drama, sampai menerjemahkan beberapa karya asing.

Amir Hamzah

Dididik dalam prinsip islam yang ketat, Amir Hamzah sudah menjadi orang yang taat sedari kecil. Ia pergi mengaji, belajar fikih, dam semacamnya. Bukan hal aneh, sebab Amir Hamzah terlahir sebagai bangsawan dari keluarga yang betul-betul religius. Ia lahir di Langkat, Sumatera Timur, pada tanggal 28 Februari 1911. Ia dikenal sebagai raja penyair pada masa Pujangga Baru.

Amir Hamzah adalah seorang penyair masa Pujangga Baru yang benar-benar berkompeten. Salah satu karyanya yang berjudul ‘Pamaoe Djoea’ yang berisikan 28 baris, merupakan karyanya yang paling banyak dan sering dipuji. Karya-karyanya kerap bersinggungan dengan kerinduan, keindahan, dan cinta dari perspektif yang bahkan erotis sekalipun, sebelum akhirnya menulis beberapa tulisan yang sedikit bercorak religius. Adapun karya-karya Amir Hamzah lainnya adalah Nyanyi Sunyi, Buah Rindu, sampai Setanggi Timur. Sayang, Amir Hamzah meninggal pada usia yang terbilang muda, yakni 35 tahun.

Sanusi Pane

Sanusi Pane digolongkan sebagai bagian dari kesusastraan Pujangga Baru, kendati ia sempat menjadi redaktur di Balai Pustaka, dan berbeda paham dengan Sutan Takdir Alisyahbana. Sanusi Pane merupakan kakak kandung dari Armijn Pane. Ia adalah sastrawan yang banyak malang melintang. Ia pernah ke India sebelum akhirnya balik ke Indonesia sebagai redaktur di salah satu majalah berbahasa Belanda. Pandangannya tentang India nantinya berpengaruh akan corak tulisannya yang seringkali menghubungkan persoalan Hindu Budha di Nusantara.

Sanusi Pane lahir di Muara Sipongi, Sumatera Utara pada tanggal 14 November 1905. Selain aktif sebagai sastrawan kaliber, ia juga merupakan seorang guru di banyak institusi pendidikan. Karya-karya Sanusi Pane tercatat berupa puisi, tulisan sejarah, sampai drama. Ia juga seorang penerjemah. Ia pernah menerjemahkan naskah jawa kuno karya Mpu Kanwa.

Anak Agung Panji Tisna

Anak Agung Nyiman Panji Tisna atau I Gusti Panji Tisna adalah sastrawan Bali yang paling terkenal. Ia sempat menjadi contributor atas majalah Pujangga Baru dengan mengirimkan beberapa karyanya. Oleh sebab itu, banyak yang menyebut Panji Tisna termasuk Angkatan Pujangga Baru. Karyanya sangat kental akan kehidupan dan budaya Bali Utara. Ia lebih dikenal sebagai novelis yang berwawasan luas karena menulis roman-roman berlatar Bali dengan kekuatan tulisan yang cakap. Pada saat itu, tulisan-tulisannya atau roman-romannya juga diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Anak Agung Panji Tisna lahir di Singaraja, Bali, pada 11 Februari 1908. Panji Tisna terlahir sebagai keturunan ke-11 dari dinasti raja Buleleng, Bali Utara. Ia seorang bangsawan yang terdidik dan sangat berdekatan dengan ritual kepercayaan Hindu-Bali. Kendati seorang bangsawan, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar kerajaan. Panji Tisna kerap memandang kehidupan kerajaan sangat tidak cocok dengannya. Karyanya yang sangat terkenal di Bali adalah Sukreni Gadis Bali, yang juga menggunakan bahasa Bali sebagai pengantarnya.

Tak hanya nama-nama di atas, beberapa sastrawan yang tergolong Pujangga Baru antara lain Buya Hamka, Ali Hasyimi, J.E Tatengkeng, Karim Halim, dan masih banyak lagi.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini