Sudah 13 tahun lamanya kami memperjuangkan tanah itu. Tanah milik kami yang telah diwarisakan oleh para leluhur. Tanah itu memberikan kecukupan hidup untuk kami. Selain itu, tanah kami dikelilingi pepohonan yang membentuk panorama begitu indah. Di bawahnya terdapat sumber air yang digunakan untuk minum hingga ibadah.

Kami hidup sejahtera. Kami menghormati alam sebab darinya kami dapat hidup. Teringat pesan seorang ahli biologi yang arif nan bijak, “Alam itu selalu mendatangkan kebaikan untuk makhluk hidup, utamanya manusia”. Puji dan syukur tentu patut dihaturkan kepada-Nya, kepada pemilik alam semesta ini yang telah menciptakan alam beserta isinya, dan telah membuatnya saling terhubung. Seperti rantai makanan yang selalu membutuhkan satu sama lainnya. Apabila satu populasi hilang akan menimbulkan kerusakan. Begitulah yang akan terjadi di desaku.

“Ibu, suara sirene mobil itu datang lagi,” dengan suara gemetar aku mengadu pada ibu. Aku takut terjadi keributan seperti beberapa bulan yang lalu. Aku tak bisa tidur nyenyak sejak peristiwa itu. Sebab, aku melihat dengan mata ini. Mata yang tak berdaya menghadapi situasi tersebut. Namun, mobile sirene itu kembali datang.

“Tenang, Adik. Mengapa kamu ketakutan hingga gemetar?” sahut Ibu.

- belanja buku di sini -

Walaupun aku tau Ibu sedang berbohong, aku mendengar denyut jantungnya yang begitu cepat. Seperti suara jarum jam yang diletakkan di ruang kosong dan hampa. Mungkin itu juga yang ibu rasakan pula. Ibu mengintip dari jendela. Ternyata mereka telah berbaris dengan senjata lengkap.

“Nak, jangan ke luar ya. Diam di dalam rumah saja. Ibu akan menyusul Bapak ke luar,” pesannya yang begitu singkat.

“Ibu, bolehkah aku ikut?”

“Tidak, Nak. Kamu jangan ikut Ibu dan Bapak. Kamu diam di sini ya. Jangan ikut ibu, temani Adek yang sedang tidur.”

“Tapi, Bu … Mereka punya senjata lengkap!” tegasku. Rasa takut ini bercampur dengan kekhawatiran kepada kedua orang tuaku. Sebenarnya aku tak kuasa menahan tangis. Di sisi lain, aku tak boleh membiarkan air mata ini jatuh dari pelupuk mata.

“Nak, Ibu tidak ingin berperang dengan mereka. Ibu hanya minta hak kita. Kamu tau kan hak itu apa apa? Jangan takut! Kita memang orang yang tak memiliki harta benda yang berlebih, Nak. Kita ini hanya punya hati pemberian Tuhan. Minta padanya untuk di lapangkan hati ini agar lebih kuat. Selebihnya gantungkan kepada Allah,” timpal Ibu.

Ibu memang selalu mengajarkan ketulusan kepadaku. Aku rasa Ibu dapati ketulusan itu tidak lewat pelajaran yang diberikan oleh buku-buku, tetapi Ibu hanya memerlukan hati gagah yang muncul dari pengalaman. Ia keluar tanpa membawa apapun. Mungkin, Ibu juga sedang berkumpul untuk ber-istighosah dengan warga lainnya. Pesanku semoga tidak terjadi apa-apa.

45 menit kemudian,

Terjadi suara-suara yang tak diinginkan. Aku penasaran apa yang terjadi, segera ku tengok di balik jendela. Ah, sial tubuh ini gemetar, bulu kudukku berdiri, suara ku merendah, tak ada kata yang ingin kuucapkan. Aku hanya memegang erat kain yang telah menggantung untuk menutupi jendela itu.

“Ibu, Bapak….” ucapku lirih.

Aku melihat banyak warga yang dipukul bahkan berkelahi seperti anak kecil Ya, Tuhan… Korps baju coklat itu sedang memainkan perannya. Entah apa itu yang disebut pengayoman atau penjagaan? Mengapa begitu tega memukul dengan senjata yang mereka bawa.

Padahal yang aku ingat, Bapak korps baju coklat memiliki tugas untuk melindungi kami. Mereka dipukul, ditikam, ditendang seperti musuh dari negeri lain saja. Padahal kami berasal dari negeri agraris ini. Negeri yang kaya sumber agrarisnya. Sungguh, tidak ada lagi pengayoman dan penjaga keamanan masyarakat, mereka semakin terlihat sebagai petugas pengaman perempas hak tanah atas kami

Sial, tangisku menjadi-jadi, Ayah-Ibu lekaslah pulang. Tak kuasa kulihat peristiwa ini. Situasinya amat mencekam, suara kemarahan dua belah pihak tak terelakkan. Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya ingin situasi ini cepat mereda.

Aku rindu bermain dengan teman-teman, mengaji, belajar dengan tenang tanpa rasa takut. Cepatlah mereda hingga usai, pintaku itu saja. Aku tau bahwa warga melakukan ini hanya untuk menjaga hak mereka. Bukan hanya hak warga, melainkan juga hak alam yang wajib dijaga kelestariannya. Sebab, hutan telah menghidupi desa kami sejak berabad-abad. Sungguh, aku tak bisa membayangkan sama sekali apabila semuanya dibuldozer, batu dikeruk, dan pepohonan tumbang hingga mengusik kedamaian. Desaku yang asri itu berubah menjadi kota yang tak layak huni.

Aku tetap berada di balik jendela, tetapi tekadku bulat untuk keluar walaupun pesan Ibu aku harus menjaga Adik. Namun, di luar sana peristiwa itu semakin menjadi-jadi tak karuan. Suara jerit dan tangis perempuan terdengar walupun samar. Mungkinkah satu di antara tangisan itu adalah suara tangis ibu?

Mungkin inilah yang hilang dari hati manusia. Mereka membangun sesuatu yang bukan menjadi keinginan kami. Namun, merasa berhak atas kami. Kesadaran yang begitu tersayat ketika menghadapi kenyataan bahwa mereka bukan lagi pemimpin kami, melainkan lebih cocok disebut penguasa. Ditambah lagi, dengan keberadaan hukum yang sama sekali tidak memihak kami.

Remang-remang aku melihat wanita seperti Ibuku yang berjalan menuju rumah kami. Aku harap itu memang benar Ibu. Ia berjalan semakin dekat, ternayata ia adalah Ibuku.

“Ibu…!” teriakku.

Ia hanya memelukku dengan erat. Tak ada kata yang terucap darinya. Ia hanya mengelus tubuhku. Sepertinya, ia paham aku sedang ketakutan. Aku menangis bahkan membalas pelukannya yang begitu erat.

“Ayah tertangkap oleh mereka,” ucapnya tenang.

Aku tak bisa membantah, aku hanya ingin marah pada mereka. aku hanya ingin mengucap “Selamat datang di negeri ini.”

Apakah ini yang dinamakan sebuah kejahatan atas nama penguasa? Meninggalkan luka yang amat mendalam. Memisahkan seorang Bapak dengan keluarganya. Aku kira Bapak sedang kebingungan dan tak tahu apa yang mesti dilakukan untuk keluar dari situasi tersebut. Sama halnya dengan semua warga yang telah tertangkap. Semua yang melawan terpaksa ditangkap, baik remaja, dewasa, maupun tua. Intinya tidak pandang bulu. Tentu tidak ada satu pun dari kami yang menyukai itu. Namun, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mempertahankan atau memelihara alam ini sementara kami saja kesukaran mempertahankan diri kami sendiri.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleAksi Payung Hitam di Hari Kamis: Social Movement Versus The Big Brother
Next articleAnak Lanang Mengejar Mimpi Tanpa Henti
Kontributor Semilir.co | Badan Pekerja Malang Corruption Watch

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here