bj. habibie

Presiden ke-3 Indonesia B.J Habibie yang dijuluki Mr. Crack adalah sosok yang menjadikan kegiatan menulis sebagai self-healing bagi dirinya setelah ditinggal kekasihnya yang telah meninggal dunia.

Apa yang terlintas di kepala jika kita mendengar kata “self-healing”. Mungkin sebagian kita ada yang merepresentasikannya dengan hal-hal yang hedonis dan cenderung foya-foya. Tapi apakah benar begitu?. Mengenyampingkan dari pergeseran makna tersebut, istilah self-healing bukanlah sesuatu yang negatif melainkan sebaliknya. Ada baiknya kita memahami arti self-healing sesungguhnya.  

Pengertian Self-Healing

Self-healing sendiri bisa dikatakan sebuah proses untuk penyembuhan luka batin yang mengganggu emosi. Dalam bahasa Inggris self healing artinya penyembuhan diri sendiri.  Sebagian orang tentunya mengalami masalah dan lelah secara emosional dalam hidupnya. Luka batin ini bisa terjadi dalam waktu yang lama dan berdampak pada kegiatan sehari-hari.

Mengutip dari laman unair.ac.id, self-healing termasuk teknik yang dilakukan ketika terjadi gangguan psikologis. Penyembuhan luka batin ini bisa dilakukan dengan cara relaksasi pernapasan, meditasi, dan yoga. Emosi positif dari relaksasi membuat hormon endorfin atau hormon bahagia bekerja. Namun ada cara terbaik untuk melakukan self-healing yang bisa dilakukan semua orang. Salah satunya adalah menulis.

Self Healing Bisa dengan Menulis

Menulis bisa menjadi media dalam mencurahkan emosi. Menulis ekspresif merupakan cara self healing untuk menjelaskan segala perasaan yang dialami. Cara ini bisa meredakan segala emosi dan stress. 

Presiden ke-3 Indonesia B.J Habibie yang dijuluki Mr. Crack adalah sosok yang menjadikan kegiatan menulis sebagai self-healing bagi dirinya setelah ditinggal kekasihnya yang telah meninggal dunia.

Sebagai terapi emosional dalam menghadapi kesedihan sepeninggalnya istrinya, beliau menyusun sebuah buku berjudul Habibie dan Ainun yang tak lain berisikan perjalanan cinta dalam hidupnya.

Masterpiece Untuk Sang Kekasih

Buku Habibie dan Ainun adalah sisi lain dari  B.J Habibie sebagai masterpiece di bidang sastra. Tak hanya teori the crack of propagation yang membuat ia terkenal di dunia dirgantara namun Buku Habibie dan Ainun nyatanya mampu membuat pembaca menjadi terenyuh dan terharu. Buku yang penuh emosional dengan perasaan cinta yang begitu tulus hingga maut memisahkan.

Lalu mengapa ia tertarik menulis buku ini ? diawali ketika ia menghadapi kondisi emosional pasca kepergian separuh jiwanya Ainun karena penyakit kanker. B.J Habibie dinasihati oleh tim dokter dari Jerman maupun dari Indonesia untuk mencegah dari apa yang oleh Prof. Dr. Mathay dari Hamburg  sebutkan sebagai black hole

Black hole adalah suatu kondisi psikosomatik malignan, di mana gangguan emosional berdampak negatif pada sistem organ vital manusia, sehingga menjadikan  seseorang yang ditinggalkan pasangannya jatuh sakit yang progresif, dan pada akhirnya menyusul pasanganya menghadap Tuhan. Tentunya peristiwa ini tak jarang ditemukan di sekitar kita. Apalagi pasangan tersebut adalah pasangan yang saling mencintai semasa hidupnya.

Arti Penting Menulis Bagi B.J Habibie

B.J Habibie memang akhirnya menulis buku karena menulis buku tidak melibatkan orang lain. Bersifat from within , tidak perlu menggunakan obat-obat psikotropika yang  berdampak pada kesehatan fisik. Dengan demikian, self-healing tersebut diharapkan dapat lebih mendalam dan lebih  permanen, dan tidak bersifat simtomatis atau memiliki gejala tertentu. Dengan motivasi melaksanakan self-healing tersebut, Jadilah buku Habibie & Ainun ini.

B.J Habibie memerlukan usaha keras untuk menyelesaikan buku ini. Setiap bagian buku yang ditulisnya membawanya kembali ke masa lalu, namun ternyata kemudian ia berhasil mengatasinya. Kurang lebih dua setengah bulan waktu efektif diperlukannya untuk menyelesaikan buku “Habibie dan Ainun”, yang berjumlah 322 Halaman. Suatu penulisan buku yang cepat. Sampai minggu kedua setelah beredar awal Desember 2010, buku tersebut menduduki top ten, dan best seller. Bahkan sekarang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman, Arab dan Jepang.

Menulis menyembuhkan itulah yang bisa dipetik dari kisah sang Mr.Crack dalam menghadapi kepergian istrinya yang begitu ia cinta. Tak jauh dari situ, sebagai anak muda yang tentu hidupnya penuh gejolak emosi tak terbendung. Alangkah baiknya kita mengatur emosi diri dengan hal yang positif.

Boleh jadi dengan menulis, semua aspirasi dan uneg-uneg kita akan tersalurkan dan menjadi mahakarya layaknya buku Habibie & Ainun yang bahkan telah diangkat ke layar lebar Indonesia. 

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleLagu-Lagu Religi Terpopuler, Playlist Wajib Bulan Puasa!
Next articleMenikmati Kuliner Malam di Pasar Semawis
Mahasiswa Jurusan Fisika UIN Maulana Malik Ibrahim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here