Dammahum

DAMMAHUM

Judul Buku : Dammahum
Penulis : Benny Arnas
Penerbit : Diva Press
Cetakan : I, Maret 2023
Tebal : 192 halaman
ISBN : 978-623-189-190-7

 

 

 


 

Ikatan batin antar tokoh kerap (sebatas) selesai di akhir sebuah cerita pendek. Tokoh protagonis bertemu dengan antagonisnya, lantas emosi mereka tamat di akhir cerita-ending. Namun, Benny Arnas tidak mau tokoh-demi-tokoh-yang diciptakannya tidak kenal antar tokoh lainnya. Walaupun, mereka berada pada cerita yang berbeda (yang diciptakan Benny Arnas). Sebegitunya Ia menjaga hubungan emosional antar tokoh.

Keterkaitan tokoh demi tokoh sudah dikenalkan Benny sejak cerpen pembuka di kumpulan cerpen Dammahum (Diva Press, 2023). “Menjadi Mercusuar” memberikan kesan yang unik sebagai cerpen pembuka. Cerpen ini perlu menghabiskan 39 halaman untuk memperkenalkan Dammahum, Amir, Omar, sang Kiai dan istrinya-Maryam. Pembaca awam seringkali terkejut saat membaca cerpen panjang yang lama dihabiskan seperti ini. Namun, saya setuju, “Menjadi Mercusuar” adalah pokok penting untuk melanjutkan pembacaan ke cerita-cerita selanjutnya.

Nan dilakukan Benny pada bukunya kali ini merupakan eksperimen yang jarang dilakukan oleh cerpenis Indonesia. Lazimnya, pada sebuah kumpulan cerpen, setiap kisah akan berhenti pada akhirnya sendiri, dan cerita setelahnya akan mengantarkan kejadian yang jauh dan berbeda. Saya tidak tahu persisnya apakah Benny menuliskan cerita-cerita dengan sadar membuatnya menjadi ‘saudara’, atau tanpa sengaja. Yang terpenting, setiap cerita tetap kuat menjadi sebuah cerpen tersendiri jika dikeluarkan dari buku Dammahum.

Alih-alih menciptakan tokoh baru untuk setiap cerpennya, Benny cenderung mengeksplorasi point of view tokoh demi tokoh yang Ia ciptakan. Kelihaian Benny untuk melanjutkan cerita, akan tetapi dengan kacamata baru membuat pembaca bahkan tidak menyadari cerita yang baru saja dibacanya tidak lain adalah ‘saudara’ cerita sebelumnya.

Apakah Benny pecinta Marvel?sehingga membaca Dammahum rasanya kembali lagi menonton film-film garapan Marvel Cinematic Universe?

Pertanyaan tersebut sedemikian kerasnya saya usir dari kepala kala membaca buku ke-30 Benny. Iya, Benny adalah Benny. Namun, cocokologi tersebut terlintas sekelebat di benak saya. Penulis  dengan lihainya membawa angin segar baru untuk warna sebuah kumpulan cerpen. 

Contoh daripada teknik ‘Marvel’ dalam buku ini adalah Amir pada Menjadi Mercusuar sebagai santri Kiai, lalu pada Lebaran Haji Neknang dan Panggung Paramitha Rusady Ia menjelma menjadi sopir seorang Venn-cerita mundur ke belakang. Begitupun dengan Patah seorang begal di Parang Patah menjadi istri Jannah di Saudara yang Sempurna. Ummi Sukma istri kedua Kiai di Ganja Putih dan Ceri Ungu untuk Kiai yang ternyata ibunya Omar di Narascajoca, dan seterusnya di cerita lainnya. Saya mau pembaca menyadarinya sendiri.

Kumpulan cerpen ini memiliki dua sisi kacamata yang berbeda, walaupun satu frame. Anda bisa memilih, apakah Dammahum merupakan sebuah kumpulan cerpen atau sebuah cerita yang panjang/novel. Kali ini kemahiran Benny tersalurkan sepenuh-penuhnya untuk membuat buku kali ini ‘tidak biasa’. Fenomena yang dibawakan Benny ini dinamakan dengan prosa hibrida, yang mana beberapa potongan tulisan akan menjadi satu benang merah jika disejajarkan.

Benny tentu berusaha agar Damahum yang menjadi setitik nila dalam susu sebelangga memengaruhi cerita setiap tokoh sesekali dihadirkan di setiap cerita dalam buku ini. Nama Damahum disebutkan pada 6 cerpen, selebihnya tidak. Atau, mungkin ‘Damahum’ begerilya pada seluruh cerita tanpa harus disebutkan tersurat (?). 

Akan tetapi alih-alih menitikberatkan semua konflik kepada Damahum, saya malah setuju jika semua cerita akan bermuara pada Kiai. Tokoh inilah yang saya rasa lebih kuat memberikan pengaruh untuk kehidupan semua tokoh, seperti Amir dan Omar yang menjadi santri sekaligus pengawalnya, ibu Omar yang menjadi istri kedua Kiai, Amir yang berhijrah dan mengabdi pada Kiai, hingga Maryam iri kepada Sukma sebab Kiai lebih mengelu-elukannya, tidak lain adalah dampak dari pengaruh kuat Kiai untuk cerita-cerita tersebut. Alhasil, saya lebih mengamini Kiai adalah tokoh yang (tidak kalah) penting daripada Damahum yang sebatas membuang Kiai pada cerita pertama.

Tulisan yang sebagian besar hasil residensi si penulis selama di Pakistan ini sedikit banyaknya menyinggung karakter-karakter masyarakat yang kita temui sekarang. Pembaca yang budiman bisa meilhatnya pada refleksi karakter Damahum, Kiai, Jannatya, dan lainnya. Dengan kelihaiannya Benny menyampaikan pesan demi pesan sosial pada ceritanya, sehingga tidak begitu kentara jika dibaca sekali.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleMenggemparkan Dunia Lewat Lirik Lagu Ciptaanya, Putri Ariani Berhasil Menembus America’s Got Talent
Next articleMenulis Bukan Soal Kesibukan, Tapi Kemauan
Johan Arda (lahir dengan nama Akhmad Suwistyo di Padang, 25 Maret 2001). Saat ini lebih fokus menulis cerpen, sedangkan sebelumnya sudah menulis 2 buku puisi, di antaranya: Lakon (2018) dan Sedasawarsa Lagi, Kita Menua (2019). Penerima “Anugerah Universitas Andalas 2022” untuk kategori penulisan cerpen terbaik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here