Luthfi J Kurniawan

Belakangan ini istilah dansa banyak digunakan baik oleh kalangan seniman maupun para politisi. Dansa juga sering terdengar diucapkan dengan lugas oleh orang-orang di kampung-kampung saat sekadar ngumpul-ngumpul jagongan maupun acara semacam pertemuan atau saat acara halal bihalal.

Dalam sejarahnya, dansa merupakan musik yang mengiringi orang menari di keluarga kerajaan Italia sekira tahun 1400-an. Dalam perkembangannya, dansa semakin popular saat King Louis XIV dari Prancis tampil sebagai penari di atas panggung. Singkat cerita, pada abad 19 dansa seolah menjadi sesuatu yang menyatu sebagai kegiatan berkesenian dan dijadikan sebagai media sosialisasi bagi semua kalangan. Memang awalnya dansa milik kaum bangsawan, tetapi pada awal abad 20-an, hampir semua kalangan termasuk kaum pekerja telah terbiasa dengan dansa.

Saat ini mulai dari kalangan apapun dan sejak umur berapapun sangat mafhum dengan dansa, yaitu menari bersama dengan iringan musik, baik dansa bertempo cepat maupun lambat. Baik yang dipengaruhi oleh musik latin maupun musik lainnya seperti di Eropa. Di Indonesia sendiri dansa telah mengadaptasi lagu-lagu daerah seperti lagu Sajojo dari Papua maupun lagu Poco-poco dari Sulawesi Utara.

Menjelang pemilu yang akan diselenggarakan pada tahun 2024 nanti, rupanya tak sedikit para politisi yang juga melakukan “dansa”. Namun dansanya tidak diiringi dengan musik. Dansa oleh para politisi dilakukan untuk mendapatkan dukungan dari publik ataupun dari partai politik. Ini kerap disebut dengan istilah “dansa politik”. Dansa politik adalah perumpamaan dari aktifitas para politisi yang saling menyapa, saling berkunjung satu dengan yang lain, lalu hasilnya disampaikan kepada publik dan disiarkan secara luas oleh media massa dengan beragam bentuk dan model konferensi persnya. Ada yang mengambil setting di rumahnya, ada yang model on the spot, tak jarang pula dilakukan di hotel-hotel mewah dengan latar yang amat meriah, lengkap dengan atribut bendera partai maupun alat peraga kampanye lainnya.

Dalam momen bakda Idulfitri tahun 2023 ini misalnya, kerap diselenggarakan halal bihalal, dan tak ayal para pejabat publik yang juga merangkap sebagai politisi, banyak melakukan dansa politik yang sangat jelas dan kentara maksud dan tujuannya. Dan kita bisa melihat bersama bahwa dalam satu hari si pejabat politik yang sama-sama sebagai ketua umum partai bisa bertemu dengan dua hingga tiga ketua umum partai sekaligus dan di tempat berbeda. Pekan berikutnya ia juga melakukan hal yang sama dengan ketua umum partai lainnya.

Pendek kata, para politisi yang menjabat ketua umum, sekretaris jenderal partai maupun para politisi yang telah dinobatkan sebagai calon presiden sangat terbiasa melakukan dansa politik. Bahkan juga para pengamat mengkritik Presiden RI di akhir kekuasaannya ini seringkali melakukan hal yang sama dengan para politisi lainnya.

Ibarat kata, dalam sehari bertemu dengan tiga ketua umum dan dalam sepekan bisa bertemu dengan lebih dari tiga ketua umum. Apa yang dibicarakan sama, yaitu penjajakan kerjasama politik terutama terkait penentuan siapa yang akan diusung menjadi calon presiden. Tak lebih dan tak kurang. Itulah dansa politik yang dilakukan oleh elit partai politik Indonesia menggunakan momentum halalbihalal. Mungkin ke depan nanti, mereka akan menggunakan momentum hari raya kurban. Mereka akan semakin sering bertemu.

Namun, pertemuan-pertemuan mereka apakah akan sejalan dengan semangat Iduladha? Entahlah, tentu hanya merekalah yang tahu. Semoga mereka tetap mau berkurban untuk kepentingan rakyat banyak bukan malah sebaliknya.

Saya mengikuti perkembangan kehidupan sosial kemasyarakatan dan kebetulan tinggal di daerah yang agak jauh dari ibu kota negara, dimana informasi yang saya terima mengalami delay beberapa saat, memang tidak sampai satu pekan, karena berkaitan dengan metode penyebaran informasi, tetapi terlepas dari hal tersebut, sering timbul pertanyaan dari saya kepada para politisi tersebut, misalnya kegiatan dansa politik ini kira-kira merupakan pengejewantahan dari proses mengartikulasikan kepentingan masyarakat atau hanya semata kepentingan pribadi?

Untuk menjawab ini tentu butuh penjelasan yang amat panjang, rumit, dan kompleks. Mungkin juga perenungan-perenungan yang mendalam dan bercangkir-cangkir seruputan kopi belum tentu akan menghasilkan jawaban yang memuaskan. Kenapa demikian? Inilah rahasia dari sebuah dansa politik menjelang pendaftaran calon presiden.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini