luthfi j kurniawan

Di zaman modern ini rupanya kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari kertas, baik saat melakukan kegiatan belajar, urusan kerja maupun urusan-urusan lain baik dibidang sosial maupun dibidang-bidang lainnya. Bahkan urusan yang ada di kampung seperti urusan rukun tetangga maupun rukun warga tidak bisa dilepaskan dari kertas, semisal saat rapat maupun kegiatan lainnya.

Memang betul, saat ini media kertas telah banyak digantikan oleh media non kertas seperti laptop, telepon genggam, dan sejenisnya. Namun, kertas tetap dibutuhkan untuk banyak urusan.

Dengan adanya kertas, seluruh proses dokumentasi kegiatan manusia dapat direkam dan disimpan dengan baik. Kertas telah mampu menjadi saksi sejarah bagi perjalanan kehidupan manusia. Bahkan dengan adanya kertas pencatatan dapat dilakukan dengan baik. Di masa lampau sebelum ada kertas, jejak tulisan tidak bisa mudah disimpan dan dituliskan karena menggunakan bahan kayu dan daun lontar yang luasan medianya terbatas. Sedangkan kertas jauh lebih gampang dan bisa merekam banyak hal. Bahkan dengan adanya kertas tulisan seseorang bisa melampaui umurnya.

Pepatah lama selalu terngiang di setiap kami membincang tentang karya tulis baik dalam bentuk buku maupun bentuk lainnya. Pepatah yang dimaksud adalah “…jika ingin tahu dunia maka membacalah. Dan jika ingin dikenal dunia maka menulislah…”. Bahkan sastrawan Pramoedya Ananta Toer, mengatakan bahwa “…karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari”. Itulah kekuatan tulisan yang dapat memengaruhi kehidupan bahkan dapat mengubah dunia. Mengonstruksi kehidupan melalui tulisan yang menjelaskan siapa dan mengapa, dapat membangun imajinasi atau persepsi seseorang atau tentang suatu obyek yang menjadi bahasannya.

Tidak sedikit pepatah atau quote baik di zaman dulu maupun zaman mutakhir ini tentang membaca dan menulis. Memang demikianlah faktanya bahwa kalau orang bercakap-cakap saja seolah akan lenyap tertelan oleh angin. Namun, jika percakapan itu dipindahkan dalam bentuk tulisan tentu akan dapat dibaca oleh siapapun dan bahkan umurnya bisa melampui si penulisnya. Itulah sekilas maksud bahwa tulisan akan abadi.

Di zaman sekarang media untuk menulis beragam seiring dengan kemajuan dan perkembangan perdaban bangsa-bangsa di dunia. Memang jika diamati dengan saksama media menulis masih tetap dianggap lebih nyaman menggunakan kertas. Tak bisa dipungkiri bahwa kertas sejak ditemukan oleh Cai Lun bangsa Tiongkok pada sekira tahun 105 M telah banyak mengubah wajah dunia. Setelah berkembang di Tiongkok kemudian menyebar ke Timur Tengah hingga sampai ke daratan Eropa dan juga kemudian masuk menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam pergulatan revolusi industri di Eropa.

Tradisi menulis pada awalnya diduga dimulai dari bangsa Sumeria yang menulis menggunakan papirus, jauh sebelum ditemukan kertas di Tiongkok. Inilah yang kemudian menjadi inspirasi bagi terbentuknya media menulis dari kertas. Di Mesir kuno, pada tahun sebelum masehi tradisi menulis menggunakan media yang berbahan papyrus dan berkembang ke perkamen dan kulit binatang hingga kemudian menggunakan kertas.

Tragedi genosida pada zaman Nazi di Jerman diketahui dunia karena adanya tulisan yang dibuat oleh Anne Frank. Tulisan hariannya itu terbit menjadi buku dengan judul The Diary of a Young Girl. Di situlah bermaknanya kertas. Dengan kertas yang telah diolah menjadi buku ternyata dapat mengungkap sejarah yang kelam di daratan Eropa.

Annelies Marie Frank atau kemudian dikenal sebagai Anne Frank adalah seorang gadis Jerman, yang bersembunyi di fase rezim Nazi, menjadi bagian penting dari sejarah dunia melalui catatan di buku hariannya. Dalam satu tulisan yang ada dalam buku harian Anne Frank ada kalimat: “…Kuharap, aku bisa menceritakan semuanya kepadamu, karena aku tidak pernah bisa bercerita pada siapa pun, dan kuharap engkau akan menjadi sumber kenyamanan dan pengharapan”.

Melihat perkembangan saat ini, di dunia tulis menulis telah banyak media pengganti kertas. Namun kertas tetaplah hampir dipastikan tidak dapat diganti dengan media lainnya. Artinya, kertas ini akan terus mengikuti sejarah perkembangan kehidupan dan peradaban manusia.

*Tulisan ini sebagian telah dipublikasi sebagai pengantar buku berjudul Hikayat Kertas.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleTRADISI KERABEN SAPE DI PULAU MADURA
Next articleSinopsis Film A Good Person: Berjuang Melawan Kecanduan Narkoba
Pemerhati sosial & kemasyarakatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here