pinterest.com

Dewasa ini, kita melihat dan merasakan betapa majunya peradaban bangsa Barat dalam berbagai aspek kehidupan. Utamanya, tentang ilmu pengetahuan dan teknologinya.

Sayangnya, perihal itu berbanding terbalik dengan apa yang dialami bangsa Timur-Islam yang hanya menjadi penonton.

Kenyataan itu memang ulah bangsa Barat sendiri dengan imprealisme-kolonialismenya terhadap bangsa Timur-Islam. Terlebih lagi, lahirnya diskursus mengenai kawasan Timur-Islam yang mengkristal menjadi orientalisme—yang mempunyai tujuan: mencari rempah-rempah (gold), memperluas dan melanggengkan kekuasaan di dunia belahan Timur (glory), dan upaya kristenisasi seluruh dunia, termasuk mengkristenkan umat Islam di kawasan dunia Timur (gospel).

Tentu seiring berjalannya zaman dan lahir pemikir-pemikir Islam, maka lahir juga diskursus mengenai bangsa Barat, yaitu oksidentalisme. Oksidentalisme sangat penting digaungkan kepada umat Islam Indonesia.

Selaras dengan itu, ada buku garapan Dr. Nurisman, M.Ag. yang bertajuk Oksidentalisme: Kritik Epistemologis Dalam Filsafat Modern (2019). Buku garapan dosen studi Islam UIN Raden Mas Said Surakarta itu menjelaskan pentingnya dan manfaat mempelajari oksidentalisme.

Sudah menjadi fakta historis, peradaban bangsa Barat memimpin peradaban dunia. Berangkat dari abad renaisans yang mencapai kesempurnaannya pada masa ini terdapat kesatuan yang memberi semangat yang diperlukan bagi abad-abad berikutnya.

Juga, pada masa ini ilmu pengetahuan hanya dapat dipahami secara alamiah, yaitu menggunakan akal dan pengalaman (hlm. 9).

Selain hal di atas, ada dampak lain yang disebabkan oleh kelahiran filsafat modern, yaitu revolusi industri—yang menuntut bangsa Barat mencari rempah-rempah dan bahan-bahan produksi lainnya untuk kebutuhan industri mereka—yang merujuk kepada lahirnya kapitalisme Barat yang masih kita rasakan pengaruhnya dewasa ini.

Kita sebagai bangsa Timur-Islam, tidak bisa mengelak dari bidikan produk-produk kaputalisme—di mana kita hanya menjadi konsumen, yang menelan mentah-mentah produk tersebut.

Misalnya, kita dibuat terbuai dengan produk media sosial: YouTube, Instagram, dan perangkat lain yang kita dibuat terlena olehnya dengan malas-malasan, tidak dapat hijrah dari tempat tidur dikarenakan asyik menggeser jempolnya dari atas-kebawah, kepincut barang-barang di online shop dan membelinya yang padahal kita tidak perlu barang tersebut. Ironis.

Memang, kita tidak tahu, apakah setiap produk-produk bangsa Barat itu mengandung racun sehingga kita sulit beranjak darinya dan melakukan hal ihwal untuk mempelajari bangsa Barat lewat laku berliterasi?

Juga, saya rasa kapitalisme Barat menciptakan kebutuhan-kebutuhan meskipun kita tidak memerlukannya melalui invasi iklan-iklan yang masuk dengan pesatnya. Sehingga, sikap kebarat-baratan dan konsumerisme muncul. Akhirnya kita sendiri kehilangan jati diri kita sebagai seorang Islam Indonesia yang selalu menjaga nilai luhur yang bijaksana.

Oksidentalisme dan Generasi Muda

Oksidentalisme (Occidentalism-Occident) dianggap sebagai diskursus dan ilmu untuk menandingi orientalisme. Ada anggapan, bahwa oksidentalisme merupakan reaksi terhadap orientalisme, dan juga ada yang menganggapnya sebagai pasangan orientalisme. (hlm. 14).

Terlepas dari itu, yang jelas, generasi muda yaitu mahasiswa—konon, ia mempunyai idealisme sebagai kemewahan terakhir yang dimilikinya—harus mulai memikirkan masa depan umat Islam Indonesia dengan perangkat oksidentalisme

Nah, di Indonesia, studi oksidentalisme secara resmi diselenggarakan di PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) dengan kutipan sebagai berikut.

At the end of September 1992, Minister of Religious Affair, Munawir Sjadzali revealed that postgraduate studies in Occidentalism would be opened in IAIN Syarif Hidayatullah of Jakarta and IAIN Sunan Kalijaga of Yogyakarta. Minister said: that it was important that Oriental world, especially Islam, would not always be an object, but also initiator of studies. (hlm. 37)

Berangkat dari pernyataan Munawir Sjadzali—yang mana nama itu diabadikan sebagai nama gedung pendidikan Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta—menganggap sangatlah penting bagi umat Islam, khususnya mahasiswa Islam Indonesia mempelajari oksidentalisme dan menjadi pembahasan di ruang-ruang kuliah. Sehingga, mahasiswa mengetahui relasi Barat-Timur dulu sampai sekarang.

Sayangnya, terdapat kendala mengenai kajian ini, yaitu: terbatasnya tenaga ahli-pengajar diskursus oksidentalisme, anggaran, dan masalah kepustakaan tentunya.

Terlepas dari kendala tadi, bagaimanapun, generasi muda Islam Indonesia haruslah mempelajari oksidentalisme, karena ia mempunyai khasiat ampuh untuk menandingi bangsa Barat di kemudian hari.

Pertama, membuka cakrawala pemikiran akan kemajuan bangsa Barat yang begitu pesat. Sebagai Muslim yang membaca Alquran, kita senantiasa diperintahkan untuk berpikir progresif untuk kemajuan peradaban Islam. Kedua, mendapatkan informasi dari Barat yang tidak kita dapatkan di Timur.

Dengan mempelajari akar pemikiran Barat, kita dapat meningkatkan dan menggali potensi diri dengan mengambil sisi positif Barat untuk kehidupan kita sebagai umat Islam. Ketiga, melalui studi oksidentalisme, akan merangsang kita untuk kiat belajar yang secara objektif dapat mengambil nilai-nilai positif dari Barat dan mengkritiknya, tentunya. (hlm. 39)

Seperti itu. Kiranya generasi muda harus menjadi garda terdepan dalam memajukan umat Islam Indonesia dalam perihal ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya, agar suatu hari ini kekuatan umat Islam Indonesia dapat menandingi peradaban Barat dengan oksidentalisme sebagai perangkatnya.

Sedari itu, mari umat Islam Indonesia kita sudahi pertentangan-pertentangan yang tidak perlu dan kita mulai gerbang diskusi untuk meraba masa depan kita. Demikian.

Identitas Buku

Judul Buku      : Oksidentalisme: Kritik Epistemologis Dalam Filsafat Modern
Penulis            : Dr. Nurisman, M.Ag.
Penerbit           : Kalimedia
Tebal Buku     : 140 Halaman
Cetakan           : I, 2019
ISBN               : 978-602-6827-90-6

Previous articleSoekarno dan Semangat Re-Thinking Islam
Next articleGebrakan Pendidikan Islam Transformatif, “Mindhunnur”,
Fahrul Anam, berasal dari Mantingan, Ngawi. Bergiat di Lingkar Diskusi "Pencerahan" Kartosuro, Sukoharjo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here