Luthfi J Kurniawan

Di suatu sore menjelang petang terlihat dari kejauhan tiga anak lelaki seusia antara kelas 4-5 sekolah dasar berjalan dengan berjingkat sambil bergurau diantara mereka. Begitu melewati tikungan jalan di kampung yang menuju ke masjid mereka bertiga sudah tidak terlihat lagi. Ketiga anak tadi seolah kompak memakai peci hitam beludru. Mereka bertiga berjalan di gang Kampung menjelang maghrib bergegas untuk turut serta menjalankan ibadah salat maghrib.

Saat ini orang yang menggunakan peci hitam dengan mudah dapat ditafsir bahwa ia akan menghadiri kegiatan ritual keagamaan meskipun tak jarang pula dan bahkan seolah wajib jika ada kegiatan resmi kenegaraan peci hitam beludru turut dikenakan dalam acara-acara seperti pelantikan pejabat negara atau pemerintahan. Bahkan foto resmi presiden dan wakil presiden semenjak di zaman Bung Karno hingga saat ini selalu menggunakan peci hitam beludru. 

Saat ini peci hitam beludru di Indonesia telah menjelma menjadi identitas bangsa bukan sekadar songkok untuk kegiatan keagamaan, meskipun kita tahu bahwa hampir semua aktifitas keagamaan yang dilaksanakan oleh umat muslim tidak pernah lepas dari peci hitam beludru.

Bagi umat Islam, menggunakan peci hitam beludru bisa terlihat mulai dari kegiatan yang sederhana seperti kegiatan mengaji anak-anak di mushola, pengajian rutinan di kampung, rapat-rapat organisasi keagamaan hingga pada kegiatan yang berskala besar. Bahkan sejak Indonesia merdeka peci hitam beludru telah menjadi ikon bagi Soekarno, proklamator Republik Indonesia yang dijadikan identitas busana nasional sebagai bagian dari bentuk perlawanan atas dominasi budaya bangsa asing yang menjajah Indonesia di kala itu. 

Sebagaimana jejak sejarah yang ada bahwa peci hitam beludru diduga telah dikenal di Nusantara semenjak abad XIII khususnya bagi masyarakat muslim yang diduga dibawa oleh para pedagang dari jazirah Arab, Turki maupun India yang memang kebudayaannya tidak pernah lepas dengan peci sebagai penutup kepala. Berkembangnya peci di Nusantara terjadi karena banyaknya interaksi perdagangan dan pengaruh penyebaran agama Islam, sehingga penyebaran penggunaan peci hitam beludru kemudian lebih lekat digunakan saat kegiatan kegamaan.

Namun, semenjak Soekarno atau Bung Karno menggunakan peci beludru hitam dalam kegiatan sehari-hari baik dalam acara informal maupun acara formal kenegaraan yang dilaksnaakan di Indonesia maupun keluar negeri, Bung Karno menyulap peci hitam beludru menjadi penutup kepala sebagai identitas nasional. Bahkan hingga sekarang kegiatan kenegaraan mulai dari pelantikan pejabat pemerintahan dan negara wajib menggunakan peci hitam beludru. 

Di dalam catatan sejarah yang banyak kita temui dengan mudah bahwa pada masa lalu saat rapat Jong Java di Surabaya, sekitar bulan Juni 1921, Soekarno muda dengan percaya diri dan pertama kalinya menggunakan peci dan menyampaikannya dalam rapat sebagai identitas bangsa. Bahkan ia berteriak lantang “…Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka…!” Sejak saat itulah Soekarno selalu mengenakan peci. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), peci adalah penutup kepala yang terbuat dari kain atau sebagainya. Peci biasanya berbentuk meruncing di kedua ujungnya dan biasanya digunakan oleh para pria. Nama lainnya adalah kopiah atau songkok.

Berkaitan dengan peci hitam berbahan beludru, Bung Karno diduga pertama kali yang memadukannya dengan busana ala bara yaitu jas. Sedangkan tokoh di masa lalu yang juga terhitung sebagai guru dan mentor Bung Karno, dalam kegiatan sehari-harinya tidak pernah lepas dari songkok hitam. Ialah HOS Cokroaminoto, sang raja Jawa tanpa mahkota.

Hampir semua potret HOS Cokroaminoto yang kita kenal saat ini menggunakan peci hitam beludru yang dipadu dengan busana beskap Jawa dan kain panjang yang juga dipadu dengan busana barat: peci hitam, baju beskap Jawa, dan bawahan celana panjang atau pantalon. 

Saat ini posisi peci hitam beludru telah bergeser menjadi busana keseharian bahkan seolah tidak bisa dilepaskan dari kegiatan ritual keagamaan maupun kegiatan-kegiatan organisasi keagamaan. Seolah fungsi peci hanya untuk kegiatan keagamaan padahal dahulunya tidaklah demikian. Saat ini eksistensi songkok telah pula menjelma menjadi busana keseharian bagi khususnya masyarakat muslim sehingga apapun kegiatan yang diselenggarakan oleh masyarakat muslim yang berkaitan dengan ritual keagaamaan maka dapat dipastikan pesertanya akan menggunakan peci hitam beludru. Bahkan saat ini peci hitam telah menjadi “seragam” wajib bagi aktivis atau pengurus organisasi keagamaan jika menjalankan tugas organisasinya. Dapat dipastikan peci hitam beludru menjadi songkok wajib yang digunakan. 

Memang dulu di masa kolonial, Belanda memengaruhi masyarakat melalui beragam kegiatan dan menyuruh pegawai kolonial yang orang pribumi untuk mengubah gaya berpakaian kaum lelaki di Jawa, namun tidak berhasil. Bahkan Belanda memaksa masyarakat Nusantara di kala itu untuk mengubah peci menjadi topi gaya kolonial yang banyak digunakan oleh bangsa Eropa. Hal ini hanya diikuti oleh para priyayi yang bekerjasama dengan Belanda, sedangkan masyarakat luas tetap tidak mengubah gaya busananya khususnya untuk mengubah songkok hitam berbahan beludru menjadi topi kerucut ala eropa. 

Sebenarnya urusan peci hitam beludru ini bukan hanya untuk urusan ritual keagamaan ataupun menjadi kebiasaan para pengurus organisasi keagamaan. Namun peci ini telah menjadi identitas bangsa Indonesia. Artinya, seluruh warga bangsa Indonesia dapat menggunakan peci hitam ini tanpa melihat lagi asal usul, status sosial, maupun latar keyakinan seseorang. Kini, peci hitam beludru adalah salah satu simbol nasionalisme. 

Beli Alat Peraga Edukasi Disini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini