Healing Fiction

Ngomong-ngomong tentang genre novel, pada umumnya kita banyak mengenal jenis-jenis seperti romance, fiksi ilmiah (science-fiction), thriller, ataupun fantasi. Namun selain genre-genre tersebut, ada genre lain yang beberapa tahun terakhir ini menjadi tren, yaitu healing fiction.

Genre ini populer di kalangan pembaca fiksi Korea. Bahkan, judul-judul novel bertema healing fiction berhasil menempati deretan rak best seller di toko-toko buku di Korea Selatan. Bukan hanya itu, genre ini pun juga sudah mulai digemari oleh pembaca fiksi di Indonesia, loh. Tentu saja, ini menunjukkan bahwa popularitasnya memang tinggi.

Jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, healing fiction mempunyai makna ‘fiksi penyembuhan’. Mengutip dari laman K-Book.or.kr, healing fiction atau healing novel diartikan sebagai novel yang tidak berbahaya. Maksud dari ‘tidak berbahaya’ di sini adalah bebas dari plot yang rumit dan kompleks, jadi bisa dibaca tanpa perlu menguras banyak energi untuk berfikir.

Sesuai dengan julukannya sebagai novel yang ‘tidak berbahaya’, healing fiction pada umumnya bertema empati, kedamaian, penghiburan, solidaritas, dan keberanian atau keteguhan hati. Genre ini selalu identik dengan alur ringan yang mampu memberi kenyamanan dan menghadirkan energi positif bagi pembacanya. Healing fiction termasuk bacaan yang hangat dan menyenangkan. Oleh sebab inilah, novel dengan tema ini disebut sebagai healing fiction, sebab, cerita di dalamnya memang berhubungan dengan penyembuhan jiwa dan pikiran.

Berbeda dari novel pada umumnya yang selalu punya satu atau dua tokoh utama, dalam novel healing fiction pembaca nggak harus berfokus hanya pada satu tokoh tertentu. Sebab, setiap tokoh dalam novel bergenre ini selalu memiliki daya tariknya sendiri-sendiri. Selain itu, pembaca pun juga bebas untuk mulai membaca novel dari bagian manapun, tidak harus dimulai dari bagian pertama. 

Pada umumnya, tokoh-tokoh dalam novel jenis ini menceritakan kisah mereka sambil berkumpul di tempat-tempat seperti minimarket, toko buku, perpustakaan, apotek, studio foto ataupun tempat umum lainnnya. Tempat-tempat umum tersebut memegang peran penting dalam novel genre ini karena menjadi lokasi di mana para karakternya bertemu dan menuturkan kisah mereka masing-masing. 

Kalau diperhatikan, latar cerita dalam healing fiction memang selalu menggunakan tempat-tempat biasa yang familiar bagi semua orang dan dapat dengan mudah dijumpai di sekitar kita. Hal ini menjadi salah satu ciri khasnya tersendiri

Dari penampilan luarnya, novel berjenis healing fiction sangat mudah dikenali. Pada sampul novel healing biasanya selalu ada gambar sebuah bangunan. Tentu aja, gambar ini masih ada hubungannya dengan tempat yang menjadi latar cerita di dalam buku tersebut. 

Misalnya, untuk kisah yang berlatar di sebuah toko buku, maka sampul novelnya juga bergambar bangunan toko buku, seperti novel berjudul Welcome to Hunam-dong Bookstore karya Hwang Bo-reum. Contoh lainnya adalah novel karya Kim Ho-yeon berjudul Uncanny Convenience Store yang berlatar sebuah toserba (minimarket) dengan sampul yang juga bergambar bangunan toserba. 

Kondisi psikologis orang-orang modern zaman sekarang disebut-sebut berpengaruh besar terhadap minat mereka pada healing fiction, sehingga novel ini sangat laris di pasaran. Orang-orang modern, terutama generasi muda saat ini lebih banyak dikelilingi oleh hal-hal ‘baik’ yang ditampilkan oleh media sosial. Hal-hal ‘baik’ atau yang ‘hanya tampak baik’ tersebut berpotensi menghadirkan perasaan cemas, khawatir, insecure, dan sejenisnya yang secara tidak langsung bisa menguras energi seseorang. 

Dengan pikiran yang sudah lelah akibat hiruk-pikuk media sosial, banyak orang nggak lagi berharap pada kesenangan dramatis dari novel-novel bernilai artistik tinggi. Yang dibutuhkan hanyalah cerita lambat dengan emosi tenang dan penuh kehangatan yang seakan menuturkan kalimat seperti, “Nggak pa pa, kamu udah melakukan yang terbaik, jangan terlalu cemas.” Hal lain yang juga dibutuhkan adalah novel atau bahan bacaan yang memberi kesadaran bagi pembacanya bahwa sebagian besar orang mengalami hal yang hampir sama, dan mereka bukan satu-satunya orang yang mengalami kesulitan tersebut. 

Pada intinya, generasi muda sekarang memang lebih membutuhkan asupan hiburan dan ‘obat’ untuk ‘kewarasan’ mental mereka. Dan novel bergenre healing fiction menjadi salah satu hal yang bisa memberikan ‘obat’ tersebut. 

Nah, itulah beberapa serba-serbi terkait novel healing fiction. FYI, saat ini udah ada beberapa novel bergenre healing fiction karya penulis Korea yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Minimarket yang Merepotkan terjemahan dari Uncanny Convenience Store karya Kim Ho-yeon dan Dallergut: Toko Penjual Mimpi yang ditulis oleh Lee Mi-ye.  

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleKeadaan Psikologis dalam Hospital Playlist: Stres Kerja, Konflik Pribadi, Trauma, dan Kekuatan Persahabatan
Next articleBeretrospeksi dengan Melagu, Maya Nilam Tolak Menyangkal Masa Lalu
Bibliophile yang suka bermain cat dan kuas. Berasal dari Kediri, Jawa Timur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here