pinterest.com

Di era digital, media sosial menjadi tempat penyebaran informasi yang dinilai memiliki nilai lebih. Pernyataan tersebut memengaruhi psikis kita untuk berlomba-lomba memberikan informasi di media sosial.

Media sosial yang sering digunakan pada aktivitas harian dianggap bahwa media sosial mampu menggambarkan kehidupan nyata kita.

Fitur media sosial yang awalnya hanya menawarkan untuk berbagi informasi, kini lebih dipersonalisasi, misalnya “status anda” pada aplikasi WhatsApp .

Fitur ini membuat pengguna WhatsApp dapat membagikan informasi tentang status mereka saat ini. Hal ini terjadi pada ibu saya sendiri yang awalnya tidak mengerti. Ibu yang hanya menggunakannya, sekarang membagikan info lebih intens di status WhatsApp .

Keingintahuan masyarakat kerap digambarkan pada fitur-fitur yang selalu kita jumpai di media sosial. Di aplikasi Instagram, jika dilihat lebih dalam, hampir setiap akun menjaga prestise foto atau cerita di Instagram .

Saat itu, saya iseng membuat cerita Instagram di akun teman saya. Di status itu, terekam tingkah laku teman saya saat sedang curhat. Teman saya tidak mengizinkan saya untuk mengunggah cerita tersebut dengan alasan dia terlihat kurang cantik pada video itu.

Saya yakin bahwa teman saya ingin menunjukkan karakter pribadinya di media sosial. Fenomena ini sama seperti lagu kolaborasi Ocan dan Niko Al Hakim berjudul “Ekspektasi”, pada salah satu liriknya yang sempat viral yaitu “Foto postingannya dengan yang aslinya berbeda”.

Sebenarnya terdapat aspek sensitifitas seseorang ketika menggunakan media sosial. Entah akan mengarah pada hal negatif atau hal positif. Sensitifitas ini karena rasa kesepian yang mendalam saat bermain media sosial.

Media sosial saat ini banyak digunakan oleh semua orang, baik anak muda maupun yang sudah dewasa. Hal itu tidak menutup kemungkinan menjadi penyebab munculnya masalah-masalah psikologis (kesehatan mental) yang tidak disadari oleh penggunanya.

Kuss & Griffiths mengatakan ada berbagai macam fitur di media sosial yang menyebabkan dampak positif dan negatif.

Meminjam frasa yang dikatakan teman saya bahwa ada banyak perbedaan antara dunia nyata dan dunia maya. Di dunia maya orang berlomba-lomba untuk memperbagus diri, mencari validasi, serta haus eksistensi. Artinya, media sosial tak selalu menggambarkan kehidupan nyata para penggunanya sehari-hari.

Nuruddin dalam bukunya yang berjudul Media Sosial Agama Baru Masyarakat Milenial mengatakan terdapat beberapa karakter pengguna akun media sosial. Pertama, orang yang mengalirkan uneg-uneg , keluh kesah, dan ketidaksukaan terdahap suatu lembaga/tokoh.

Kedua, orang yang sopan menyebarkan link independen dan menunjukkan dukungannya. Ketiga, orang yang sangat fanatik dan membuta. Keempat, orang yang memilih untuk menyebarkan informasi. Kelima, mereka yang menikmati media sosial tanpa terpengaruh hiruk piruk.

Nuruddin menjabarkan dalam buku tersebut bagaimana kampanye politik di media sosial dilakukan dengan memberikan beberapa wajah atau karakter di akun tersendiri. Nuruddin menyatakan seseorang yang berpendidikan lebih tinggi bisa terpancing untuk memprovokasi dalam menggunakan media sosial.

Anda dapat membayangkan bagaimana jika kita hanya menilai seseorang dari media sosial, sedangkan pada kenyataannya begitu berbeda? Kini pengguna berupaya lebih untuk menampilkan dirinya sebagus mungkin.

Hal ini justru menimbulkan gambaran buruk ketika pengikut kita bertemu di dunia nyata, sementara kita tidak seelok tampilan di akun Instagram?

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleRenjana Talks: Disrupsi Budaya di Era Pandemi
Next articleMacapat Tumapel

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here