Novel
Sumber: nationalgeographic.grid.id (Novel Pertama di Indonesia berjudul Bintang Toedjoe)

Sekarang, siapa yang tidak mengenali novel Siti Nurbaya? Novel modern genre romantis tersebut telah dianggap sebagai novel pertama yang terbit di Indonesia. Nyatanya, novel tersebut bukanlah novel pertama yang ada di Indonesia, loh.

Sejak zaman kerajaan, Indonesia sejatinya telah memiliki beragam cerita yang awalnya disampaikan dari mulut ke mulut, dikenal sebagai mitos dan legenda. Seiring dengan perubahan zaman, mulailah dikenal hikayat sebagai wadah sebuah kisah untuk diceritakan kepada masyarakat.

Berapa tahun kemudian, masuknya budaya Timur dan Barat membawa pengaruh besar dalam kesusastraan Indonesia. Sebuah cerita dalam buku agak tebal dengan bahasa yang lebih modern mulai muncul, dikenal dengan novel.

Novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli terbit pada tahun 1922 oleh Balai Pustaka. Banyak yang mengira novel tersebut merupakan novel modern pertama yang diterbitkan di tanah air tercinta ini. Padahal dalam sejarah, sebuah novel berbahasa Indonesia lebih dulu muncul, berjudul Bintang Toedjoe.

- belanja buku di sini -

Nah, bagaimana dengan seluk beluk novel tersebut? Berikut ini fakta menarik novel pertama yang terbit di Indonesia.

Karya Keturunan Tionghoa

Novel Bintang Toedjoe merupakan karya Lie Kim Hok. Dilihat dari namanya, pria kelahiran Buitenzorg (sekarang Bogor) itu memiliki darah etnis Tionghoa, atau disebut peranakan Tionghoa pada zamannya.

Lie Kim Hok (sumber foto: id.quora.com)

Pada pertengahan abad ke-19, penduduk etnis Tionghoa dikenal terdidik. Lie Kim Hok belajar dikirim ke sekolah yang khusus dijalankan oleh orang etnis Tionghoa, sebab pada saat itu etnis Tionghoa tidak dapat belajar di sekolah milik Eropa maupun pribumi.

Di bawah pengarah Raden Saleh, ia belajar menulis. Kepiawaiannya dalam bidang kepenulisan sempat ditentang oleh ibunya. Namun, hal itu tidak menghalangi Lie Kim Hok hingga menjadi penulis. Selain novel Bintang Toedjoe, karya lainnya yang terkenal yaitu Sjair Tjerita Siti Akbari (1884) dan Melajoe Batawi (1885).

Roman Pertama Nusantara

Memiliki kisah romantis, novel Bintang Toedjoe atau Tjhit Liap Seng menjadi roman pertama yang terbit di Indonesia. Novel ini terbit antara tahun 1886 dan 1887 oleh percetakan Lie Kim Hok sendiri. Sebagian besar karyanya diterbitkan di percetakan miliknya.

Novel
Novel Pertama di Indonesia berjudul Bintang Toedjoe karya Lie Kim Hok.

Novel roman ini bercerita tentang cerita kerajaan maha raja yang berlatar di negeri Cina. Mengisahkan seorang bayi perempuan bernama Tjhit Seng Nio atau “Nona Bintang Tujuh” yang dibesarkan oleh tujuh pelajar. Namun setelah tumbuh menjadi gadis remaja, kehidupannya malah semakin menderita dan ditempa nestapa.

Lahir pada Perbatasan Tiga Budaya

Terbit pada tahun 1880-an menjadikan novel Bintang Toedjoe dikatakan lahir pada masa perbatasan tiga budaya dunia. Sebelum itu, perkembangan sastra Indonesia Tionghoa diawali dengan karya-karya terjemahan Eropa dan Cina.

Setelah masa itu terjadi, barulah sastra Melayu-Tionghoa asli muncul hingga akhir 1942. Dilansir sama dengan indonesiana.id, Pramoedya Ananta Toer juga mengatakan, masa perkembangan Melayu-Tionghoa disebut sebagai masa asimilasi.

Masa kesusastraan Melayu-Tionghoa menjadi transisi antara kesusastraan lama dengan kesusastraan modern. Keberadaannya pula di antara tiga budaya yaitu Indonesia, Eropa, dan Cina. Dibarengi golongan sosial lainnya, yakni Indo-Belanda, Jawa, dan Sunda.

Menggunakan Bahasa Melayu Pasar

Karena terbit pada masa pengunaan masih bahasa Melayu, novel Bintang Toedjoe menggunakan bahasa Melayu pasar. Pada masa itu, sejatinya terdapat dua golongan bahasa Melayu, yaitu Melayu tinggi dan Melayu pasar.

Melayu tinggi merupakan bahasa resmi yang menjadi standar . Sedangkan Melayu pasar merupakan bahasa yang biasa dipakai oleh para pedagang kota sebagai bahasa perantara di zaman kolonial. Bahasa ini hanya terbatas untuk keperluan sehari-hari (Sumardjo, 2004).

Bahasa Melayu pasar yang digunakan menjadi salah satu alasan sastra Melayu-Tionghoa tidak dianggap sebagai bagian dari Sastra Indonesia. Bahasa Melayu pasar dinilai sebagai bahasa yang rendah, ditambah karya sastra Balai Pustaka menggunakan bahasa Melayu tinggi.

Terlupakan Sejak Indonesia Merdeka

Sejak Jepang berhasil menduduki Indonesia pada tahun 1942, sejak itu pula sastra Melayu Tionghoa lenyap tak berbekas. Lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi penanda mulai lunturnya identitas etnis Tionghoa.

Munculnya kesusastraan modern dianggap lebih elite dan terpelajar. Berbanding terbalik dengan ideologi sastra Melayu Tionghoa yang cenderung didaktis, humoris, dan menghibur.

Tipisnya identitas dan politik integrasi membuat sastra peranakan Cina tidak dipenuhi kebutuhannya secara maksimal, sehingga masuk dalam catatan sejarah. Kendatipun begitu, Claudine Salmon membuktikan, beberapa penulis jenis sastra ini masih ada hingga tahun 60-an.

Nah, itulah fakta-fakta menarik mengenai novel pertama yang terbit di Indonesia. Berdasarkan sejarah telah terbukti bahwa ternyata sebelum novel Siti Nurbaya, ada sebuah novel yang lahir di eranya.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleMendayung Kesalehan dan Gaya Hidup
Next articleAsyiknya Bermain, Berbudaya, dan Berolahraga
Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang. Panda insomnia penyuka irama, cerita, dan kata-kata indah penggugah rasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here