Puisi Itu Menolak Mati

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian

– Pramoedya Ananta Toer

2 Agustus 2017 – 31 Desember 2021 terekam dengan baik dalam antologi puisi bung Tomo (panggilan saya pada Abi Utomo) dengan lanskap kehidupannya. Ia tidak mengambil peran eksploitatif terhadap alam layaknya penyair picisan. Keleluasaan tema menjadi amunisi utama dalam pembuatan puisi sehingga bung Tomo memberikan kontribusi bahwa puisi tidak melulu berkutat pada romantis-melankolis.

Afrizal Malna yang mencoba memaknai puisi dengan praktik atau aktivitas yang melebihi bahasa agaknya berlebihan dalam menyanjung peran puisi. Kendati puisi memiliki peran yang lebih fleksibel dalam ekspresi, ia juga memiliki keterbatasan karena masih terkungkung dalam institusi bahasa, begitu ungkap Derrida dalam of God Who Comes to Mind ketika membahas sistem kebahasaan.

Keterbatasan bahasa tidak menjadi alasan untuk tidak menggunakannya dalam penyampaian makna kehidupan. Penggunaan bahasa yang aporia tidak dapat dihidari lantaran media selainnya lebih miskin makna dalam penggambaran pengetahuan. Perihal inilah puisi menjadi media penyampaian ide-ide kebahasaan dan menjadi rekam jejak kehidupan.

Dalam empat tahun, melalui antologi puisi berjudul Puisi Itu Menolak Mati, bung Tomo berusaha melahirkan janin puisi yang ia peranakan dengan bidan Penerbit Pelangi Sastra. Empat tahun memunculkan 106 anak puisi yang tersajikan dalam kehidupan-kehidupan kecil sarat makna. Semua anak puisi itu terbagi dalam enam kehidupan yang memiliki corak kemenarikan masing-masing.

Kehidupan pertama memiliki 16 puisi bertema arbitrer. Tema manasuka yang disajikan penulis merefleksikan puisi dapat masuk dalam relung-relung kehidupan layaknya puisi-puisi Willibrordus S. Rendra, Chairil Anwar, hingga Wiji Thukul. Seperti penggambaran kehidupan rakyat tentang peribahasa “besar pasak daripada tiang” dalam puisi “Salamun Buruh Tani”.

Kegusaran tokoh utama lantaran panen padi mulai menurun diakibatkan berkurangnya lahan produksi (sawah) yang kian menyempit. Meski demikian, penulis menggambarkan ironi seorang petani yang masih riang dengan keterbatasan dan kekurangan yang ia alami di tengah gempuran penyempitan sawah.

Siasat, politik, dan suap terbentuk dalam kehidupan kedua dengan 11 puisi. Meminjam kata tikus dari lagu Iwan Fals menjadi puisi Tikus Tontong yang layak menjadi topik utama perilaku KKN di negeri ini. Selain itu, jual beli hukum dalam Payung Pak Selamet memperkuat nuansa pagelaran politik yang masih riuh dengan cuap-cuap cuan.

Adalah puisi terbanyak dalam kehidupan ketiga dengan 49 anak puisi. Ragam tema yang mendominasi puisi-puisi tersebut adalah asmaraloka. Entah asmara dengan Ilahi atau dengan gadis pujaan. Penulis dengan ciamik menyamarkannya dalam diksi-diksi yang menarik seperti puisi Terjerumus dengan 1 bait utuh:

Menyibak air, aku tenggelam

Menyibak api, aku terbakar

Menyibak tanah, aku terkubur

Menyibak engkau, aku jatuh cinta

Latar belakang penulis sebagai anggota Sastra Tiga Kampung PENTIGRAF (Cerpen Tiga Paragraf) juga mempengaruhi gaya penulisan puisi dalam Pengemis Cinta, Gerbang Akhir, dan Lenyap. Penulis berusaha meramu puisi 3 larik dengan lugas dan padat makna dengan kecukupan kata yang minimalis.

Berbeda dengan kehidupan ketiga yang menekankan kuantifikasi produk puisi, kehidupan keempat hanya memiliki 4 puisi. Keunikan kehidupan keempat terdapat pada konten tentang kontemplasi untuk tetap sadar dan bersyukur dengan apa yang dimiliki. Tiap puisi dalam kehidupan keempat teramat panjang jika dibandingkan dengan kehidupan lainnya. Pasalnya, kehidupan ini berlarik-larik dalam satu bait. Bahkan dalam Ekstase Ujar Petani, penulis menyajikan 1 judul dengan 1 bait, tetapi dibubuhi 21 larik. Sajian ini membutuhkan effort untuk mendapatkan keutuhan makna bagi pembaca.

Kehidupan kelima relatif sedang dengan 22 puisi yang didominasi konten renungan penulis dalam beragama yang sarat dengan introspeksi dan laku asketis. Dalam Sajak Kelelawar bung Tomo memiliki spirit yang senada dengan kitab Ta’lim al-Muta’allim karya al-Zarnuji bahwa Faman thalaba al-‘ulaa sahari al-layaliy (barangsiapa mencari kemuliaan, maka harus meninggalkan tidur malam).

Kesederhanaan dan istikamah menjadi modal utama Bung Tomo dalam iktikad untuk terus berkarya. Dalam Selamat Berbuka Puisi bung Tomo menuntun pembaca untuk terus berkarya dalam bentuk apapun. Selaras dengan pribahasa jawa dilem ora ngalem, dipaido ora kendo (dipuji tidak memanja, dihina tidak kendor). Biar pun sejelek apapun karya seseorang, zaman akan tetap mengapresiasi proses yang dilakukan. Dalam ijtihad ajaran Islam, pendapat yang benar mendapat dua pahala, jika salah mendapat satu pahala. Intinya, tidak ada yang sia-sia dalam berproses.

Karya ini menyempil dalam gelanggang sastra yang kian mengarusutamakan para penulis muda nan ngetop. Optimis memang penting, tetapi modal lain juga dibutuhkan guna mendongkrak kreativitas seorang (calon) penyair ulung.

Adalah sebuah keniscayaan suatu hal sempurna itu tidak ada karena pasti terdapat blindspot (titik buta) yang penulis sendiri alpa untuk mengavernya. Pepatah mengatakan “ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan itu sendiri”. Jadi, perjuangan menulis tiada henti merupakan poin penting dalam merekam jejak aksara.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleMengenal “Kakotopia” : Lagu “Dark Pop” Pengingat Janji Manusia Ketika Awal Ditiupkannya Ruh
Next article7 Rekomendasi Buku Bacaan di Bulan Ramadan
Pernah menulis opini, esai, resensi, dan puisi di kolom media sosial, antara lain: rahma.id, pesantren.id, qureta, Dawuh Guru dan di media pribadi LamanBaca. Hakim menjadi panggilan keseharian. Penulis masih menempuh studi di Pascasarjana UIN Malang dengan jurusan Bahasa dan Sastra Arab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here