Buk Gluduk
Sumber foto: AndroHedia

Buk Gluduk merupakan jembatan kereta api yang menghubungkan jalur kereta api dari arah Stasium Kota Baru ke Stasiun Kota Lama atau sebaliknya. Buk Gluduk telah ada  sejak tahun 1869, sebelum atau bersamaan dengan Stasiun Kota Lama Malang. Pada saat itu, Buk Gluduk adalah jalur kereta api yang menghubungkan Kota Malang dengan daerah lain, seperti Pasuruan, Surabaya, Blitar, dan Kediri.

Kendati sudah berdiri ratusan tahun, namun jembatan kereta tua Buk Gluduk tampak masih sangat kokoh. Jembatan ini dibangun pada masa Hindia-Belanda yang memang didesain kokoh sebagai jalur transportasi. Buk Gluduk tersangga oleh tiang-tiang beton kurang lebih lima meter di atas permukaan jalan raya. Jembatan kereta tua ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya pada 12 Desember 2018 yang tertulis di atas prasasti yang menempel pada dinding salah satu kaki penyangga jembatan. Selain bentangan jalur rel kereta api yang bersejarah, Buk Gluduk juga menjadi salah satu tempat sebagai titik nol kilometer Kota Malang selain Alun-Alun Malang.

Nama Buk Gluduk sendiri cukup unik terdengar, bukan? Ada beberapa versi yang menyebutkan artinya. Misal ada yang mengatakan bahwa kata ‘buk’ merupakan serapan dari bahasa Belanda, yaitu ‘brug’ yang berarti jembatan. Sementara versi lain mengatakan bahwa ‘Buk Gluduk’ diambil dari Bahasa Jawa ‘buk’ yang berarti tembok rendah dan ‘gluduk’ yang berarti suara atau bunyi. Nama itu diberikan sebab ketika kereta api melewati jembatan, terdengar suara ‘gluduk-gluduk’ yang berasal dari gesekan antara roda kereta dengan bantalan rel yang dulu masih terbuat dari kayu.

Jembatan Buk Gluduk Kota Malang (Sumber foto: Kekukaan)

Jembatan Buk Gluduk ini terbentang antara kampung tematik yang unik, yaitu Kampung Tridi dan Kampung Warna-Warni (Jodipan). Lokasinya yang tepat melewat dua kampung wisata Kota Malang tersebut membuat Jembatan Buk Gluduk semakin memesona.

Selain bentangan jalur rel kereta api yang bersejarah, Buk Gluduk juga menjadi salah satu tempat sebagai titik nol kilometer Kota Malang selain Alun-Alun Malang. Titik nol kilometer ini umumnya dimiliki oleh setiap daerah yang berfungsi sebagai penanda jarak dengan daerah lain. Tanda yang digunakan biasanya berupa prasasti atau monumen. Tanda titik nol kilometer di Buk Gluduk merupakan sebuah monumen yang bertuliskan “M.LANG (Malang 0, S.BAYA (Surabaya), 89, dan PW. SARI (Purwosari) 28”. Monumen ini berada di ujung selatan pagar Buk Gluduk. Penempatan monumen ini memiliki arti penting, yakni sebagai penanda bahwa daerah ini merupakan pemukiman etnik Tiong Hoa pada masa kolonial Belanda.

Jika anda hendak berwisata sejarah di Kota Malang, Jembatan Buk Gluduk bisa jadi salah satu objek yang menarik dikunjungi. Atau ingin ke objek wisata sejarah lainnya? Di Malang Raya ada banyak pilihan lhoo..

Pengen jalan-jalan tapi masih bingung transportasinya? Tenang sobat, Antaraya Tour dan Travel bisa jadi solusinya!

Antaraya Tour dan Travel adalah jasa rental dan tour guide yang siap menemani perjalanan wisata alam pun non-alam di Jawa Timur, khususnya Malang Raya (Kota Batu, Kota Malang, dan Kabupaten Malang). Antaraya menawarkan beragam pilihan wisata mulai dari Heritage Malang, Fun de Situs, dan Susur Kampung.

Masih ragu menggunakan jasa Antaraya? Tenang sobat, Antaraya dijamin tidak mengecewakan. Antaraya sudah berpengalaman dengan jasa profesional dan kapabel. Nah, untuk selengkapnya Anda bisa menghubungi Antaraya atau klik di sini.

Tunggu apa lagi? Yuk, menjelajah sejarah bersama Antaraya!

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleBerdamai dengan Patah Hati Ala Brian Khrisna
Next articleAditya Chopra
Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang. Panda insomnia penyuka irama, cerita, dan kata-kata indah penggugah rasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here