Kebun cokelat Kakek Tani

Petani sepuh itu mengayun cangkul kala mentari setengah terik. Tiap ayunan cangkulnya disertai secercah harapan agar lahannya subur dan dapat memberi penghidupan. Sehari-hari, sepanjang pagi sampai sore, ia habiskan waktunya mengurus lahan miliknya. Meski Kakek Tani sudah berumur, semangatnya tetap muda, harapannya terus menyala.

Baginya, kebun yang ditanami tumbuhan buah-buahan itu sudah menjadi rumah pertama dan kedua. Ia tidak menyebutnya rumah kedua saja karena di mata hatinya antara rumah di kampung dan kebunnya sama berharganya. Sama-sama menyediakan kehidupan.

Di siang hari sewaktu bekerja di kebun, ia menganggap sedang berada di rumah, di kala malam, kebun itu baru menjadi rumah kedua. Begitu sebaliknya. Demikian rasa cintanya pada tanah yang sudah puluhan sudah menghidupi diri, keluarga dan sesekali membantu sanak saudara dan masyarakat setempat.

Sebelum kini tanaman coklat yang menjadi komoditas utama, bermacam tanaman seperti jagung, padi tadah hujan, durian dan kemiri sudah pernah mengakar di tanah sepanjang tepian lereng sungai itu. Semasa rentang waktu itulah sang Kakek Tani berpraktik dan menguji coba setiap aktivitas pertaniannya.

Menjelang pulang biasanya Kakek Tani menyisihkan waktu beristirahat di gubuk kecilnya. Sekadar minum kopi dan bercanda gurau melepas lelah bersama istri dan kawan sekerjanya. Tampak kebahagiaan di wajah mereka mengingat seharian penuh sudah dilalui memanen buah coklat. Sukacita Kakek Tani bertambah kala cucunya berkunjung dari kampung sebelah.

Di sore semilir itu Kakek Tani bercerita tentang perjuangannya di masa muda. “Semuanya di mulai dari nol”, katanya.  Sejak masih berumur 10 tahun kedua orang tuanya sudah tiada. Keadaan yang membuatnya harus bekerja keras agar dapat melanjutkan hidupnya. Keadaan itu juga yang mendorongnya mengenal pertanian semenjak belia. Ia bekerja di ladang penduduk kampungnya, menjadi buruh tani. Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu. Masa-masa sulit yang membentuk karakternya menjadi seorang petarung yang tak kenal menyerah.

Keterampilan dan Literasi

Di awal karir bertaninya, Kakek Tani sewaktu muda bekerja di ladang orang lain. Saat mengikut orang, sedikit demi sedikit dipelajarinya cara bertani. Mimpinya, suatu saat bisa mempunyai lahan sendiri. Impian itu diraih bertahap dengan menyisihkan gajinya sebagai buruh tani. Sekian lama, akhirnya uang yang terkumpul cukup membeli sepetak lahan di lereng sebuah sungai. Betapa riang gembira pemuda itu melihat hasil kerja kerasnya membuahkan hasil; citanya terwujud.

Sepetak lahan itu adalah awal cerita perjuangan selanjutnya. Sekarang, ia disibukkan mengelola lahan pertaniannya sendiri. Semangat bertaninya pun bertambah. Mimpinya berubah besar. Hasil lahan sepetak miliknya kembali ditabung agar dapat menambah lahan. Niatnya dapat menghidupi keluarga dan orang di sekitarnya kelak.

Dalam perjalanan impian itu ia selalu bersyukur, dan menolak terjebak dalam mimpi-hasrat yang tak pernah berhenti. Karena hidup bukan tentang hari esok saja, tapi bagaimana kita mampu menikmati hari ini dengan segala capaian dan kekurangannya. Dengan capaian kecil yang diraihnya, ia merasa merdeka, setidaknya ia dapat mencukupi kebutuhan hidup sendiri dulu.

Sembari bekerja, pemuda itu juga terus belajar seputar pertanian mulai dari cara merawat tanaman, membaca cuaca, mencari kawan, hingga menyoal pasar. Dalam proses itu tentu ada rintangan. Kadang-kadang ia terjatuh, namun segera ia bangkit. Sebab kesalahan adalah pelajaran berharga yang berguna diwaktu berikut.

Sebangun istilah Tan Malaka, yakni dengan “Terbentur, terbentur, maka akan terbentuk” dan kita perlu bekerja dengan memulai “Aksi tapi jangan lupakan refleksi lalu beraksi lagi”. Hingga berkeluarga dan memasuki usia seorang kakek, rumus itu terus dipegang dan dilakukan. Tak lupa diajarkan kepada anak cucunya.

Betul kata bung Karno, kita perlu dan harus belajar dari sejarah. Hal itu juga yang diyakini Kakek Tani, meski secara formal tidak berpendidikan, tapi ia terus belajar dari banyak orang dan tempat. Ia juga membaca buku-buku bung Karno dan bung Hatta tentang ide dan perjuangannya. Pada titik itu, pandangan umum tentang pendidikan terpatahkan. Kakek Tani yang tidak pernah duduk di bangku sekolah juga mampu lancar membaca dan lihai berhitung. Keterampilan dasar itu membuatnya makin telaten mengelola lahannya.

Seiring waktu, keterampilannya terus terasah. Kakek Tani kini memiliki banyak pengalaman bertani dari hasil uji coba yang dilakukannya. Lahannya dijadikan laboratorium menguji gagasan. Mungkin sudah tercipta banyak teori, namun sayangnya tidak pernah ditulis dan diseminarkan. Andaikata selain bertani ia berkesempatan sekolah dan mengajar di perguruan tinggi, barangkali Kakek Tani sudah menjadi guru besar yang memiliki keterampilan teoritis dan praksis. Walau angan tidak kejadian, petani tua itu layak disebut “Kakek Tani Progresif”.

Kakek Tani yang tak mengecap bangku sekolah itu telah berubah menjadi ahli pertanian. Keterampilan Kakek Tani itulah yang kini kita sebut sebagai literasi.

“Dari kisah Kakek Tani kita belajar bahwa tingkat literasi seseorang tidak ditentukan jenjang pendidikan, melainkan keterampilan yang dimiliki seseorang untuk mengarungi hidup. Keterampilan yang memberi penghidupan.”

Tak terasa sore mulai habis beriring kian redupnya mentari. Ringkas cerita, ucap Kakek Tani “lahan yang sekarang ini tidak tiba-tiba luas dan ditumbuhi berbagai tanaman yang dapat memberi manfaat-menghidupi. Ada mimpi, kerja keras dan cinta yang membentuk sejarahnya”. Angin semilir mengakiri pertemuan sore itu.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleKelas Menengah: Terombang Ambing dalam Peradaban
Next articleKita Pergi Hari Ini, Sebuah Novel dengan Unsur Pengasuhan Anak
Menghidupi hidup-Hidup menghidupi

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here