Kampung Cempluk

Senin malam, tepatnya tanggal 18 September 2023, suasana Kampung Cempluk tak kalah ramai dibanding acara pembukaan festival yang diadakan sehari sebelumya. Jam 7 malam, di sudut wilayah RT 07 RW 02 Dusun Sumberjo, Desa Kalisongo, berdiri sebuah serambi galeri yang dipenuhi barang-barang jadul tempo dulu. Serambi galeri yang awalnya hanya berisi barang-barang antik itu, berangsur-angsur dipenuhi oleh manusia. Ada yang tertarik mampir sebentar hanya untuk sekadar melirik buku yang ditata apik di atas meja kayu, ada yang langsung mendudukkan diri di dalam serambi, dan ada yang setia berdiri di depan serambi.

Serambi yang kira-kira hanya seluas 4 meter persegi itu tampak penuh dijejali oleh orang-orang. Berbagai latar belakang dan berbagai generasi bersama-sama mendudukkan diri mereka di dalam serambi hanya untuk menghadiri perilisan buku Bhakta Pradesa. “Buku perjalanan Kampung Cempluk berproses budaya,” begitulah kata Redy, ketua komunitas Kampung Cempluk sekaligus editor buku Bhakta Pradesa. Buku yang merekam “Napas Panjang” dari 13 tahun perjalanan Kampung Cempluk ini menjadi ikon lentera (cempluk) yang menyinari spirit masyarakat budaya.

Malam kedua dari acara tahunan yang berhasil digelar lebih dari satu dasawarsa itu, dibuka dengan lantunan lagu dari sebuah band yang mengajak golongan tua dan muda untuk mengawali acara perilisan buku mereka. Sorak-sorai hadirin mengikuti biduan, menyorakkkan potongan lagu yang dinyanyikan, dan dilanjutkan dengan suara riuh tepuk tangan yang mengiringi akhir musik.

Bagaikan magnet, orang-orang yang berlalu-lalang hendak mencari pengganjal perut, berhenti dan ikut menyimak ketika suara pembawa acara mulai menyapa. Acara serah terima jabatan menjadi rangkaian pembuka yang menambah kesan sakral malam itu. Tahun ketiga belas ini menjadi titik awal dibukanya lembaran baru oleh generasi muda untuk mengisi halaman perjalanan panjang Kampung Cempluk beberapa tahun mendatang. Redy Eko Prastyo mengulurkan simbolisasi penyerahan jabatan sebagai ketua komunitas Kampung Cempluk kepada pemuda yang malam itu tampil rapi dengan kemeja batik yang didominasi warna putih. Senyuman dan riuh tepuk tangan malam itu menemani langkah awal Azam Darma Putra sebagai ketua komunitas Kampung Cempluk yang baru.

Acara dilanjutkan menuju inti, yakni perilisan dan pembahasan buku Bhakta Pradesa. Redy berdiri untuk membagikan informasi bahwa penerbitan buku yang memuat perjalanan Festival Kampung Cempluk itu ternyata tak perlu waktu yang lama. Buku dengan sampul hasil goresan tangan ilustrator yang hanya dikerjakan selama dua hari saja itu, hanya membutuhkan waktu dua minggu untuk diterbitkan.

“Buku Bhakta Pradesa merangkul beberapa pembakti dan pendukung kegiatan kampung untuk menuangkan pemikiran mereka melalui tulisan yang berangkat dari perspektif mereka masing-masing,” begitulah lanjutan kalimat yang dilontarkan oleh Redy. Tulisan-tulisan garapan mereka merekam kegiatan Kampung Cempluk secara langsung ataupun melalui media informasi lainnya yang kemudian dikemas menjadi buku dengan sejuta inspirasi.

Malam itu, Redy tak lupa menutup pidato panjangnya dengan menyampaikan harapannya terhadap buku Bhakta Pradesa. Redy berharap buku yang digarap oleh orang-orang hebat itu dapat menjadi sumber inspirasi dan dapat menyentuh sudut-sudut kampung yang lain untuk ikut mengaktivasi kampung mereka sendiri menjadi ruang sosial yang tangguh.

Beberapa menit selanjutnya, mikrofon merah itu berpindah tangan dan dikuasai oleh Dwi Cahyono, salah satu penulis yang ikut duduk dalam serambi malam itu. Asal-usul Kampung Cempluk menjadi dongeng pengantar yang Dwi lantunkan malam itu. Dwi yang tampil bersahaja dengan kemeja dan tak lupa juga udeng di kepalanya, menyatakan bahwa sejarah panjang Kampung Cempluk tidaklah luput dari sejarah terbentuknya Desa Kalisongo. Dan nama Kampung Cempluk pun diambil dari masa lalu kelam kampung tersebut yang tak terjangkau listrik karena terpisahkan oleh aliran sungai Metro.

Penulis-penulis lain yang sebagian tampak hadir dengan menggunakan setelan batik dan juga udeng yang melengkapinya, ikut menimpali bahasan tentang buku yang digarap oleh total 26 penulis tersebut. Akmad Bustanul Arifin yang malam itu hadir, ikut angkat suara dari sudut serambi.

“Festival hanya trigger aktivitas sosial dan pertumbuhan sosial untuk maju,” ujarnya.

Arifin juga menambahkan bahwa spirit gotong royong dari adanya festival harus dikedepankan dan diadopsi untuk mengoptimalkan potensi kampung. Tak melulu harus mengandalkan pemerintah, tapi mengedepankan budaya dan persatuan untuk membangun kemajuan sekitarnya. Berawal dari sebuah lingkup kecil, yakni kampung yang selanjutnya akan bertumbuh menjadi skala nasional karena “Sampai mati kita akan membangun Indonesia,” begitulah kalimat penutup yang Arifin lontarkan.

Suara riuh tepuk tangan yang mengudara di malam yang semakin sepi itu menjadi tanda acara telah usai. Bersamaan dengan itu tampak kios-kios kecil pedagang di sekitar serambi satu per satu mulai dikemas dan orang-orang yang berlalu-lalang semakin berkurang. Sedangkan, orang-orang yang setia berdiri di depan serambi, berbondong-bondong masuk setelah melihat hadirin di dalam serambi berdiri. Mereka ikut berdiri tegak menghadap lensa-lensa di pintu serambi. Kilat lensa kamera dan gawai yang datang dari arah pintu serambi seakan beradu untuk mengambil jepretan terbaik. Malam itu, senyum hadirin melengkapi lembaran baru perjalanan Kampung Cempluk.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous article5 Film Terbaik yang Dibintangi Emma Watson: Kalian Wajib Nonton!
Next articleKampung Cempluk Festival: Lentera yang Menghidupkan Kebudayaan Lokal
Mahasiswi Universitas Negeri Malang, Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here